Untag Surabaya kirim 11 mahasiswa untuk pengabdian di NTT - ANTARA News Jawa Timur

Surabaya (ANTARA) - Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya mengirim 11 mahasiswa untuk melakukan pengabdian masyarakat di Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), selama 12 hari mulai 23 September hingga 7 Oktober 2026.

“Yang kami lakukan adalah bergabung bersama masyarakat di sana untuk membantu perbaikan infrastruktur dan trauma healing. Mahasiswa juga sudah dibekali oleh Fakultas Psikologi untuk melakukan pendampingan kepada anak-anak,” ujar Rektor Untag Surabaya Dr. Harjo Seputro, S.T., M.T., di Surabaya, Rabu.

Harjo mengatakan kegiatan tersebut merupakan bentuk kepedulian sivitas akademika Untag Surabaya terhadap masyarakat di wilayah terdampak kondisi darurat.

Menurut dia, pola pengabdian tersebut memiliki konsep serupa dengan Kuliah Kerja Nyata (KKN) tematik, tetapi dilaksanakan secara khusus di wilayah yang membutuhkan penanganan dan pendampingan.

Sebanyak 11 mahasiswa yang diberangkatkan berasal dari Fakultas Teknik, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), Fakultas Hukum, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), serta Fakultas Teknik Elektro dan Informatika Cerdas (FTEIC).

Salah seorang mahasiswa relawan, Sonia April dari Program Studi Administrasi Bisnis semester VII, mengatakan dirinya telah mempersiapkan kondisi mental dan fisik sebelum berangkat ke NTT.

“Saya mempersiapkan mental dan fisik serta mengecek berita yang ada. Rasa iba itu yang menggerakkan saya menjadi relawan,” tuturnya.

Para mahasiswa akan terlibat langsung bersama masyarakat melalui sejumlah kegiatan, termasuk pendampingan pendidikan, perbaikan infrastruktur, serta dukungan psikososial bagi anak-anak.

Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Untag Surabaya Prof. Slamet Riyadi mengatakan kegiatan pengabdian di wilayah terdampak bencana tersebut dapat dikonversikan menjadi KKN.

“Setiap kali ada bencana, seperti di Tamiang kemarin, kami juga memberangkatkan mahasiswa. Kemudian kami konversikan dengan KKN, sehingga apa yang dilakukan mahasiswa di lapangan bisa dihitung sebagai KKN,” ujarnya.

Menurut Slamet, konversi kegiatan tersebut tidak hanya memperhitungkan aktivitas mahasiswa selama berada di lapangan, tetapi juga mencakup pelaporan dan luaran kegiatan.

“KKN itu tidak hanya kegiatan di lapangan. Pelaporan sampai luarannya juga disiapkan semua,” ujarnya.

Ia mengatakan kegiatan langsung di lokasi bencana juga memungkinkan mahasiswa memperoleh data yang dapat dikembangkan menjadi bahan penelitian karena kebutuhan masyarakat dapat diidentifikasi secara langsung.

“Jadi kita ke lapangan dulu, sambil proses. Kalau lewat Posyandu normal, biasanya masih harus melalui proposal dan sebagainya. Kalau kondisi seperti ini, biasanya langsung melaksanakan kegiatan,” katanya.

Dengan skema tersebut, kata Slamet, kegiatan mahasiswa dapat menghasilkan manfaat pengabdian kepada masyarakat sekaligus data penelitian.

“Justru pengabdiannya dapat, penelitiannya juga dapat. Terutama teman-teman Psikologi, mereka banyak mendapatkan materi dari lapangan,” katanya.

Dalam skema akademik, kegiatan pengabdian tersebut dikonversikan sebagai beban KKN sebesar dua satuan kredit semester (SKS) dengan pemenuhan kegiatan selama 144 jam.

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.