Tak Perlu Tunggu Lama, Truk Listrik Kini Bisa Ganti Baterai

Senin, 10 Agustus 2026 - 19:35 WIB

Jakarta, VIVA – Pengembangan kendaraan listrik untuk sektor komersial menghadapi tantangan yang berbeda dibanding mobil penumpang. Bukan hanya soal jarak tempuh dan kapasitas baterai, tetapi juga bagaimana kendaraan bisa tetap beroperasi tanpa kehilangan banyak waktu untuk mengisi energi.

Baca Juga

Kondisi tersebut membuat teknologi battery swapping mulai mendapat perhatian, terutama untuk kendaraan niaga yang bekerja dalam pola operasional panjang dan berulang.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Berbeda dengan pengisian daya konvensional, sistem ini memungkinkan baterai yang sudah habis diganti dengan baterai lain yang telah terisi. Kendaraan tidak perlu menunggu proses pengisian hingga selesai sehingga waktu berhenti bisa ditekan.

Baca Juga

Namun, battery swapping juga memiliki persoalan tersendiri. Infrastruktur permanen membutuhkan lahan dan investasi yang cukup besar, terutama jika diterapkan untuk kendaraan berukuran besar.

Karena itu, muncul pendekatan baru berupa mobile battery swapping.

Baca Juga

Salah satu teknologi yang dikembangkan menggunakan unit bergerak yang menggabungkan penyimpanan energi, pengisian daya, dan penggantian baterai dalam satu sistem.

Konsep tersebut memungkinkan fasilitas baterai ditempatkan lebih dekat dengan lokasi kendaraan beroperasi. Untuk sektor seperti pertambangan, pelabuhan dan kawasan industri, pendekatan ini dinilai lebih sesuai karena kendaraan biasanya memiliki rute dan wilayah kerja tertentu.

Dari sisi industri, teknologi semacam ini juga mengubah cara perusahaan memandang kebutuhan infrastruktur kendaraan listrik.

Jika sebelumnya elektrifikasi armada identik dengan pembangunan charging station dalam jumlah besar, sistem mobile memungkinkan infrastruktur mengikuti kendaraan dan pola operasionalnya.

Selain persoalan lokasi, model bisnis baterai juga ikut berubah. Salah satu pendekatan yang mulai diterapkan adalah battery leasing, di mana konsumen tidak harus membeli baterai sekaligus ketika memperoleh kendaraan.

Skema tersebut berpotensi mengurangi biaya awal penggunaan truk listrik. Perusahaan kemudian membayar penggunaan baterai melalui skema sewa, sementara pengelolaan dan penggantian baterai dapat dilakukan sebagai bagian dari layanan.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Model ini menjadi relevan karena baterai masih menjadi salah satu komponen dengan biaya terbesar pada kendaraan listrik.

Untuk armada berat, persoalannya semakin kompleks. Kapasitas baterai yang besar membuat waktu pengisian, kebutuhan daya listrik, hingga biaya pembangunan infrastrukturnya ikut meningkat.

Halaman Selanjutnya

Karena itu, teknologi battery swapping tidak sekadar menawarkan cara baru untuk mengisi kendaraan. Lebih jauh, teknologi ini dapat menjadi bagian dari perubahan model operasional kendaraan niaga listrik.