FMIPA UI siap petakan nilai karbon mangrove untuk hitung potensi ekonominya - ANTARA News Megapolitan

Depok (ANTARA) - Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia (UI) Tito Latif Indra menyatakan kesiapan memetakan nilai karbon mangrove untuk hitung potensi ekonominya.

Hal tersebut ditegaskan Tito Latif Indra saat peluncuran program mobilisasi nilai ekonomi mangrove oleh Kementerian Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat dan Universitas Indonesia (UI) di Balai Sidang UI Depok, Jawa Barat, Senin.

Tito mengatakan pihaknya mempunyai teknologi atau sains ilmu pengetahuan yang bisa membantu proses bagaimana menganalisis wilayah sepanjang pantai Jawa untuk pemetaan mangrove dengan cara penghijauan dan sebagainya.

Ia mengatakan selama ini yang sudah di hitung nilai karbonnya itu adalah yang ada di hutan jadi selama ini stok karbon dari hutan tapi sekarang kami ingin melihat kembali dari yang ada potensi yang ada di mangrove.

"Jadi itulah memang kita ada pergeseran untuk bisa di terapkan teknologi ini kedepannya," katanya.

Lebih lanjut Tito mengatakan untuk program-program pengentasan kemiskinan itu sangat berhubungan, nanti ada semacam nilai yang di dapatkan untuk masyarakat sendiri di daerah tersebut, hasilnya kami memperoleh pendapatan dari industri-industri yang ada di daerah tersebut.

Kementerian Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat dan Universitas Indonesia (UI) meluncurkan program mobilisasi nilai ekonomi mangrove yang diarahkan untuk pemberdaayaan masyarakat.

Baca juga: FMIPA UI lakukan penelitian genetik tanaman karet untuk keberlanjutan bahan baku

"Kenapa mangrove itu menjadi poin penting, karena ternyata mangrove kita ini hampir menguasai 20 persen dunia atau hampir 3,4 juta area nya," kata Deputi Bidang Koordinasi Pemberdayaan Desa, Desa Tertinggal, dan Desa Tertentu di Kementerian Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat, Abdul Haris.

Menurut dia mungkin perlu pahami bahwa mangrove ini bisa menyerap karbon, sementara industri kita, sepanjang lingkar Jawa dipenuhi industri.

Industri ini lanjut dia mengeluarkan karbon selama ini insentif apa industri yang sudah mencemari itu sementara masyarakat kita, pemerintah kerja untuk mempertahankan mangrove.

"Harusnya ada insentif, nah ini harusnya mungkin kami pemerintah khususnya Kemenko, kerjasama dengan tim teknis khususnya, karena mangrove itu di bawah Kementerian Kehutanan dan juga Kementrian Lingkungan Hidup nanti akan mencoba kerja sama," ujarnya.

Pewarta: Feru Lantara
Uploader : Naryo

COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.