◐

PPG: Aktivitas erupsi Ile Lewotolok masih tinggi

PPG: Aktivitas erupsi Ile Lewotolok masih tinggi

Jumat, 23 Oktober 2026 12:22 WIB

Image Print

Erupsi gunung Ile Lewolok di Lembata. ANTARA/HO-PPG Lewotolok

Kupang (ANTARA) - Petugas Pos Pengamatan Gunung Lewotolok di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT) melaporkan aktivitas gunung tersebut masih tinggi selama periode 1–15 Oktober 2026, karena itu warga diimbau waspada.

Pengamat Gunung Ile Lewotolok, Stanilaus Ara Kian dalam laporan yang diterima di Kupang, Jumat, menjelaskan aktivitas erupsi masih mendominasi rekaman kegempaan, meskipun jumlah kejadian erupsi dan hembusan menunjukkan kecenderungan menurun dibandingkan periode sebelumnya.

“Selama periode 1–15 Oktober 2026, aktivitas erupsi masih terjadi dengan tinggi kolom berkisar 100 hingga 600 meter dari puncak. Kolom erupsi teramati berwarna putih, kelabu hingga hitam, sedangkan asap kawah mencapai ketinggian 300 meter," katanya.

Dia menjelaskan. berdasarkan data instrumental tercatat 1.234 kali gempa erupsi, 39 kali gempa guguran, dan 2.014 kali gempa hembusan.

Selain itu, terekam 34 kali gempa Tremor Non-Harmonik, enam kali gempa Vulkanik Dalam, empat kali gempa Tektonik Lokal, dan 47 kali gempa Tektonik Jauh dalam periode 1-15 Oktober 2026.

Meski jumlah kegempaan secara umum menurun, gempa guguran justru meningkat. Secara visual, guguran material teramati meluncur sejauh 300–700 meter dari puncak dengan arah dominan ke tenggara. Saat erupsi, terkadang terdengar suara gemuruh dan dentuman berintensitas lemah hingga sedang.

Pengamatan visual juga menunjukkan adanya sinar api di puncak gunung. Ketika terjadi erupsi, material pijar terlontar ke berbagai arah, tetapi masih berada di dalam area kawah.

Aktivitas gunung turut ditandai dengan keberadaan aliran lava yang terbentuk sejak Agustus hingga September 2026. Aliran lava ke sektor selatan sebelumnya mencapai sekitar 1.800 meter, sedangkan aliran ke sektor timur laut mencapai sekitar 1.100 meter dari bibir kawah.

Sementara itu, aliran lava ke sektor tenggara yang sempat mencapai sekitar 700 meter pada September tidak menunjukkan perubahan signifikan. Pada periode evaluasi ini, aliran terpanjang yang teramati mencapai sekitar 500 meter dari bibir kawah ke sektor tenggara dan 400 meter ke sektor selatan.

Dari sisi deformasi dia menjelaskan, berdasarkan hasil pengukuran menggunakan Electronic Distance Measurements (EDM) masih menunjukkan pola bergantian antara deflasi atau pengempisan dan inflasi atau penggembungan tubuh gunung.

Kondisi tersebut dapat berkaitan dengan keluarnya material saat erupsi maupun suplai magma menuju kedalaman dangkal atau permukaan.

Berdasarkan hasil analisis dan evaluasi hingga 15 Oktober 2026, tingkat aktivitas Gunung Ile Lewotolok masih berada pada Level II atau Waspada.

Masyarakat diimbau mewaspadai potensi guguran atau longsoran lava dan awan panas, terutama pada sektor selatan, tenggara, barat, serta timur laut gunung.

Warga juga diminta menggunakan masker untuk mengurangi risiko gangguan pernapasan akibat abu vulkanik, melindungi mata dan kulit, serta menutup tempat penampungan air bersih agar tidak terkontaminasi abu. Masyarakat yang tinggal di sekitar lembah dan aliran sungai berhulu di puncak gunung juga perlu mewaspadai potensi lahar, terutama saat musim hujan.

Pewarta : Kornelis Kaha
Editor: Anwar Maga
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.