Perang Amergeddon, akankah Trump Segera Bombardir Iran dengan Bom Nuklir? |Republika Online
Warga Iran berkendara di samping rudal Iran, Zolfaghar, yang dipamerkan di Lapangan Azadi di Teheran, Iran, pada 24 Juli 2026.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA— Ancaman Donald Trump untuk memusnahkan Iran dapat dikatakan sebagai pernyataan publik terburuk yang pernah disampaikannya sejak kembali menduduki Gedung Putih.
Hal ini bukan semata-mata karena pernyataan yang berulang kali dilontarkannya itu sangat bertentangan dengan prinsip-prinsip moral dan melanggar hukum—sebab pembunuhan yang disengaja terhadap warga sipil merupakan kejahatan perang—melainkan juga karena pernyataan tersebut merupakan jenis retorika kekerasan yang dapat membawa kita menuju kehancuran global. Dampaknya bukan hanya menimpa bangsa Persia, tetapi juga seluruh peradaban manusia.
Retorika semacam ini tidak dapat dimaafkan, dibenarkan, ataupun diabaikan. Satu-satunya pertanyaan yang patut diajukan adalah: apa yang harus kita lakukan untuk menghadapinya?
Jawaban atas pertanyaan ini disampaikan dua pakar yaitu Ivana Nikolić Hughes, Presiden Nuclear Age Peace Foundation sekaligus dosen senior bidang kimia di Universitas Columbia dan anggota kelompok penasihat ilmiah untuk Traktat Pelarangan Senjata Nuklir PBB. Yang kedua Peter Kuznick, profesor sejarah sekaligus Direktur Institute for Nuclear Studies di American University, Washington, DC.
Dalam artikel yang dikutip dari Aljazeera, Jumat (16/10/2026), keduanya menjelaskan sebagian orang yang berniat baik mungkin ingin memandang senjata nuklir sebagai instrumen yang mengakhiri Perang Dunia II dan menjaga perdamaian sejak saat itu. Namun, kenyataan justru menunjukkan hal yang sebaliknya.
Senjata nuklir telah merenggut nyawa ratusan ribu warga sipil secara brutal di Hiroshima dan Nagasaki, serta melukai ratusan ribu lainnya.
Mereka yang selamat harus menanggung penyakit dan penderitaan selama bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun. Sebagaimana pernah kami tuliskan sebelumnya, terdapat banyak alternatif untuk mengakhiri perang pada 1945.
Narasi keliru yang menyatakan bahwa bom atom mencegah invasi dan menyelamatkan nyawa manusia, dalam berbagai aspek, telah turut melanggengkan keberadaan senjata nuklir.
Narasi tersebut meningkatkan risiko yang mengancam kelangsungan hidup umat manusia hingga ke tingkat yang sebelumnya sulit dibayangkan.
Upaya mengemas awal era nuklir yang berdarah sebagai sesuatu yang positif telah membuat persoalan ini semakin rumit, padahal semestinya tidak perlu demikian.