Maybank (BNII) Kantongi Laba Rp 698 Miliar di Semester 1 2026

Jakarta, CNBC Indonesia — PT Bank Maybank Indonesia Tbk (BNII) membukukan laba sebelum pajak (profit before tax/PBT) sebesar Rp933 miliar pada semester I 2026, meningkat 21,8% secara tahunan (yoy)

Sementara itu, laba setelah pajak dan kepentingan nonpengendali meningkat 21,2% yoy menjadi Rp698 miliar.

Presiden Direktur Maybank Indonesia, Steffano Ridwan, mengatakan kinerja semester I 2026 mencerminkan pelaksanaan prioritas strategis Bank secara disiplin, didukung oleh pertumbuhan portofolio pembiayaan yang berkelanjutan.

Pada saat yang sama, Bank terus mengoptimalkan komposisi pendanaan sehingga biaya dana menurun serta menerapkan pengelolaan biaya secara disiplin untuk membukukan kinerja yang solid di tengah volatilitas pasar yang masih berlanjut.

"Kinerja ini mencerminkan kekuatan bisnis inti perbankan kami serta pelaksanaan prioritas strategis secara disiplin di tengah kenaikan suku bunga dan ketidakpastian global yang masih membayangi pasar domestik. Ke depan, kami akan terus mengembangkan portofolio pembiayaan di segmen korporasi dan UKM dengan tetap menerapkan manajemen risiko yang prudent serta menjaga kualitas aset yang sehat," ujarnya melalui keterangan pers yang diterbitkan pada Jumat (31/7).

Pada semester I/2026, total aset Maybank Indonesia mencapai Rp213,81 triliun, meningkat 15,6% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan tersebut didukung oleh ekspansi bisnis yang berkelanjutan, tercermin dari penyaluran kredit yang terus meningkat di berbagai segmen.

Di sisi intermediasi, total kredit tumbuh 3,8% menjadi Rp126,28 triliun. Pertumbuhan tersebut ditopang kenaikan kredit global banking sebesar 5,0% menjadi Rp54,98 triliun, didorong pertumbuhan pada segmen large local corporates dan business banking.

Sementara itu, kredit yang dikelola melalui Community Financial Services meningkat 2,9% menjadi Rp71,30 triliun, didukung oleh pertumbuhan pembiayaan pada segmen SME+, pembiayaan otomotif, serta bisnis kartu kredit dan kredit tanpa agunan.

Dari sisi pendanaan, simpanan nasabah meningkat 8,2% menjadi Rp124,10 triliun, ditopang oleh pertumbuhan giro dan tabungan (CASA) sebesar 22,4%. Giro tumbuh 32,1%, sedangkan tabungan meningkat 4,8%, sehingga rasio CASA naik menjadi 63,6% pada akhir Juni 2026 dari 56,2% pada periode yang sama tahun lalu. Di sisi lain, deposito berjangka menurun sejalan dengan strategi Bank dalam mengoptimalkan komposisi pendanaan.

Maybank Indonesia juga berhasil menjaga efisiensi operasional. Beban operasional terkendali pada 0,8%, sehingga laba operasional sebelum pencadangan naik 4,7% menjadi Rp1,29 triliun. Pada saat yang sama, beban pencadangan membaik 19,0%, mencerminkan kualitas aset yang tetap sehat. Rasio Non-Performing Loan (NPL) tercatat sebesar 2,1% (gross) dan 1,3% (net) pada akhir Juni 2026.

Presiden Komisaris Maybank Indonesia, Dato' Sri Khairussaleh Ramli, mengatakan kinerja Maybank Indonesia pada enam bulan pertama 2026 mencerminkan ketangguhan model bisnis serta kemampuan Bank dalam memanfaatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia melalui strategi yang disiplin di tengah volatilitas pasar dan ketidakpastian ekonomi global.

"Berpijak pada strategi ROAR30 dan integrasi entitas jasa keuangan Maybank di Indonesia, Maybank Indonesia siap menghadirkan solusi keuangan yang terintegrasi bagi nasabah serta menciptakan nilai jangka panjang bagi seluruh pemangku kepentingan," ujarnya.

Transformasi digital juga terus mendukung pertumbuhan bisnis. Volume transaksi melalui platform perbankan ritel Maybank2u (M2U) meningkat 20,8% menjadi 17,5 juta transaksi, sementara saldo tabungan digital tumbuh 23,2%. Pada segmen korporasi, volume transaksi melalui Maybank2E (M2E) meningkat 5,6%, dengan saldo giro bertambah 34,3% menjadi Rp44,7 triliun.

Kinerja positif juga dibukukan oleh Perbankan Syariah Maybank Indonesia. Pada semester I 2026, unit usaha syariah mencatatkan PBT sebesar Rp488 miliar, meningkat 55,1% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan tersebut ditopang kenaikan pembiayaan syariah sebesar 11,7% menjadi Rp32,96 triliun serta peningkatan fee based income sebesar 20,0%. Hingga akhir Juni 2026, pembiayaan syariah berkontribusi 29,7% terhadap total kredit Bank (Bank saja).

(mkh/mkh) [Gambas:Video CNBC]