Mata Uang Asia Terbelah: Ringgit Jatuh, Yen Menguat, Rupiah Gimana?

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia

14 July 2026 09:50

Jakarta, CNBC Indonesia - Pergerakan mata uang Asia mayoritas melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (14/7/2026). Pergerakan pasar masih dibayangi sikap hati-hati investor menjelang rilis data inflasi AS dan kembali panasnya tensi di Timur Tengah.

Merujuk data Refinitiv per pukul 09.15 WIB, dari 10 mata uang Asia, enam diantaranya harus melemah terhadap dolar AS, sedangkan tiga mata uang menguat, dan satu mata uang stagnan.

Rupiah menjadi satu-satunya mata uang yang bergerak stagnan pada pagi ini. Mata uang Garuda berada di posisi Rp18.100/US$. Padahal rupiah sejatinya sedang mendapatkan angin segar dari setelah lembaga pemeringkat internasional S&P Global Ratings kembali mempertahankan peringkat utang Indonesia pada level BBB dengan outlook stabil.

Tekanan paling dalam dialami ringgit Malaysia yang melemah 0,25% ke posisi MYR 4,078/US$. Peso Filipina juga masuk zona merah setelah turun 0,09% ke PHP 61,631/US$.

Yuan China dan baht Thailand sama-sama melemah 0,06%, masing-masing ke posisi CNY 6,783/US$ dan THB 33,52/US$. Dong Vietnam terkoreksi 0,05% ke VND 26.262/US$, sementara dolar Singapura turun tipis 0,02% ke SGD 1,294/US$.

Di sisi lain, won Korea Selatan menjadi mata uang dengan penguatan paling tajam di Asia setelah naik 0,25% ke posisi KRW 1.494,1/US$.

Yen Jepang juga menguat 0,04% ke posisi JPY 162,36/US$, meski posisinya masih berada di area lemah. Dolar Taiwan ikut menguat tipis 0,04% ke TWD 32,177/US$.

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) terpantau melemah tipis 0,01% ke posisi 101,227 pada pagi ini. Meski bergerak turun tipis, dolar AS masih berada di level yang cukup tinggi.

Pasar masih menunggu rilis data inflasi AS periode Juni. Data tersebut akan menjadi salah satu petunjuk penting untuk membaca arah kebijakan suku bunga bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed).

Fokus pasar tertuju pada data Consumer Price Index/CPI AS yang akan dirilis Selasa ini, disusul data Producer Price Index/PPI pada hari berikutnya. Selain itu, pelaku pasar juga menunggu testimoni pertama Ketua The Fed Kevin Warsh di hadapan Kongres AS.

Di luar data ekonomi, tensi Timur Tengah kembali menjadi perhatian para pelaku pasar. Presiden AS Donald Trump pada 14 Juli 2026, mengatakan Washington akan kembali memberlakukan blokade laut terhadap Teheran. AS juga disebut akan memastikan Selat Hormuz tetap terbuka dengan pengenaan biaya tertentu, setelah kembali terjadi serangan rudal dan drone antara AS dan Iran.

Pada akhir pekan lalu, pasukan AS dan Iran saling melancarkan serangan besar. Teheran menyerang fasilitas AS di sejumlah negara Teluk pada Minggu dan kembali menyatakan penutupan jalur pelayaran vital Selat Hormuz.

Kondisi tersebut langsung mengerek harga minyak. Pada Senin, harga minyak naik lebih dari 9% ke level tertinggi satu bulan. Pada awal perdagangan pagi ini pun, minyak West Texas Intermediate/WTI dan Brent kembali naik lebih dari 2% ke level tertinggi sejak pertengahan Juni.

Kenaikan harga minyak membuat risiko inflasi kembali menjadi perhatian. Jika harga energi terus naik, tekanan inflasi berpotensi bertahan lebih lama dan dapat mendorong The Fed untuk kembali menaikkan suku bunga.

Gubernur The Fed Christopher Waller mengatakan suku bunga mungkin perlu naik dalam waktu dekat jika data menunjukkan inflasi masih jauh di atas target bank sentral sebesar 2%.

Ray Attrill, head of FX strategy National Australia Bank, menilai data inflasi inti AS akan menjadi sangat penting bagi pasar.

"Angka core CPI sebesar 0,3% atau lebih tinggi kemungkinan akan menunjukkan, tergantung data PPI akhir pekan ini, bahwa core PCE deflator favorit The Fed juga berjalan di 0,3% atau lebih tinggi," ujar Attrill dikutip dari Reuters.

Menurut Attrill, kondisi tersebut dapat menjadi pemicu bagi kenaikan suku bunga The Fed secepat rapat Juli.

"Itu bisa menjadi pemicu kenaikan suku bunga The Fed secepat rapat Juli," ujar Attrill.

Median estimasi ekonom memperkirakan core CPI Juni tumbuh 0,2% secara bulanan. Sementara itu, fed funds futures memperhitungkan sekitar 30 basis poin kenaikan suku bunga The Fed pada tahun ini.

CNBC INDONESIA RESEARCH 

[email protected]

(evw/evw)

Add

as a preferred
source on Google