Lampung Selatan perkuat peran warga cegah karhutla di Gunung Rajabasa
Lampung Selatan (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan (Lamsel) memperkuat peran masyarakat dalam mencegah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Gunung Rajabasa, melalui sosialisasi dan edukasi kepada warga di Desa Way Muli, Kecamatan Rajabasa, Selasa.
Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) Kabupaten Lampung Selatan, M. Sefri Masdian, di Kalianda, mengatakan sosialisasi dan edukasi kepada warga tersebut, dilakukan bersama Tim Penyuluh dan Edukator Pencegahan serta Penanganan Karhutla.
"Sekitar 50 warga pesisir Rajabasa mengikuti kegiatan sosialisasi dan edukasi pencegahan serta penanganan karhutla. Mereka merupakan masyarakat yang tinggal dan beraktivitas di kawasan yang bersentuhan langsung dengan Gunung Rajabasa," kata dia.
Ia mengatakan kondisi El Nino turut meningkatkan risiko kebakaran karena berdampak terhadap menurunnya curah hujan sehingga musim kemarau berlangsung lebih panjang dan kering.
Menurut dia, kondisi tersebut tidak hanya berdampak terhadap lingkungan, tetapi juga berpotensi memengaruhi sektor pertanian, ketersediaan air bersih, energi, serta meningkatkan ancaman kebakaran hutan dan lahan.
Berdasarkan data Dinas Damkarmat Kabupaten Lampung Selatan hingga 31 Agustus 2026, tercatat sebanyak 128 peristiwa kebakaran terjadi di wilayah tersebut. Dari jumlah itu, 55 kejadian merupakan kebakaran lahan.
Ia menegaskan seluruh kejadian kebakaran lahan yang tercatat dalam data tersebut disebabkan aktivitas manusia, baik karena kesengajaan maupun kelalaian.
Aktivitas tersebut antara lain pembukaan lahan dengan cara dibakar, membuang puntung rokok sembarangan di kawasan kering, serta pembakaran sampah di sekitar wilayah rawan kebakaran tanpa pengawasan.
“Dari data yang kami miliki, kebakaran lahan semuanya akibat aktivitas manusia. Seperti pembakaran sampah atau membuang puntung rokok sembarangan,” ujarnya.
Karena itu, Sefri mengajak masyarakat tidak hanya menghindari aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran, tetapi juga saling mengingatkan apabila menemukan tindakan yang dapat meningkatkan risiko munculnya api.
“Jika menemukan atau melihat orang membakar sampah pada area yang dapat memicu kebakaran atau membuka lahan dengan cara dibakar, tolong diingatkan. Bahaya, itu dapat memicu terjadinya kebakaran,” katanya.
Dia juga mengingatkan pentingnya melakukan pencegahan sejak dini karena Kabupaten Lampung Selatan memiliki kawasan Gunung Rajabasa dengan luas mencapai 5.200,5 hektare.
“Mari kita secara bersama untuk menjaga Gunung Rajabasa agar tetap hijau, tetap memberikan penghidupan kita semua,” ujarnya.
Sementara itu, mewakili Tim Penyuluh dan Edukator Pencegahan serta Penanganan Karhutla, Kolonel Adm TNI AU Muhammad Sukirno mengatakan keberhasilan pencegahan karhutla tidak semata-mata bergantung pada petugas pemadam kebakaran, BPBD, TNI, maupun kepolisian.
Menurutnya, masyarakat merupakan unsur pertama yang paling dekat dengan potensi munculnya api sekaligus memiliki peran penting sebagai tulang punggung dalam mencegah kebakaran hutan dan lahan sebelum meluas.
Dirinya mengajak seluruh elemen masyarakat, mulai dari tokoh adat hingga warga di pelosok desa, membangun kepedulian dan kewaspadaan bersama menghadapi kondisi cuaca panas berkepanjangan akibat dampak El Nino.
“Mari, semua elemen masyarakat Rajabasa, dari tokoh adat hingga warga paling ujung desa, untuk mengubah cara pandang kita dari tidak peduli menjadi peduli, dari siaga menjadi waspada,” ujar dia.
Melalui edukasi dan penguatan peran masyarakat, upaya pencegahan karhutla diharapkan tidak berhenti pada penanganan ketika api telah membesar.
Kepedulian warga diharapkan menjadi sistem peringatan dini dalam mencegah kebakaran sekaligus menjaga kawasan hutan, lahan, dan lingkungan di sekitar Gunung Rajabasa tetap aman dari ancaman karhutla.
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.