4 Orang Hilang Ditemukan Tewas, Turis-turis Batalkan Liburan ke Pulau Jeju
Seoul -
Pulau Jeju sedang tidak baik-baik saja. Dalam kurun waktu tiga hari, polisi menemukan empat jenazah yang sebelumnya dilaporkan hilang.
Pihak kepolisian dan Penjaga Pantai Jeju menyatakan bahwa pada Minggu (23/8) pukul 03.00 waktu setempat, seorang pemancing menemukan jenazah pria berusia 70-an tahun mengapung di dekat pantai timur pulau itu dan melaporkannya ke layanan darurat 119.
Korban yang diidentifikasi sebagai 'A' telah dilaporkan hilang ke Kantor Polisi Jeju Timur pada tanggal 22 Agustus.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada Senin (24/8) pukul 22.45 waktu setempat, sesosok jenazah yang diduga kuat sebagai Jang Mi-ran (37 tahun), ditemukan di sebuah perkebunan palem di dekat tempat tinggalnya. Jang Mi-ran telah hilang sejak bulan Mei.
Sebelumnya, pada Senin (24/8) pukul 21.35 waktu setempat, seorang warga lain yang sebelumnya dilaporkan hilang ditemukan tewas di dekat sebuah lembah di Aewol-eup, wilayah barat Jeju.
Kemudian pada Minggu (23/8), jenazah seorang pria berusia 60-an tahun juga ditemukan di wilayah timur laut Jeju.
Menurut SBS News, petugas yang terlibat dalam kasus tersebut tercatat telah menangani 298 laporan sepanjang kariernya. Peristiwa ini memicu kekhawatiran publik dan membuat banyak wisatawan membatalkan perjalanan mereka ke pulau tersebut.
Kang (29 tahun), yang biasanya menghabiskan liburan musim gugur di Jeju, memutuskan untuk membatalkan seluruh rencananya tahun ini dan tetap tinggal di Seoul.
"Biasanya saya bepergian sendiri untuk bersantai, namun setelah serangkaian insiden baru-baru ini, saya merasa bepergian sendirian ke Jeju sebagai seorang wanita tidak lagi aman," ujarnya kepada Chosun Daily.
Di media sosial, perdebatan sengit mengenai apakah orang-orang sebaiknya tetap mengunjungi Jeju telah menarik perhatian ribuan orang.
"Saya sudah memesan tiket ke Jeju untuk bulan Oktober, namun kini saya mempertimbangkannya kembali. Saya bahkan tidak yakin apakah pusat kotanya aman," tulis sebuah akun.
Pengguna lain mengatakan bahwa keluarganya sedang mempertimbangkan untuk membayar denda pembatalan karena anak-anak mereka merasa takut.
Serangkaian kematian yang melibatkan orang hilang telah memicu berbagai rumor, yang berdampak langsung pada bisnis pariwisata di Jeju.
Pemilik sebuah penginapan di Hallim-eup mengatakan kepada Chosun Daily bahwa kawasan tersebut biasanya memiliki tingkat keamanan yang baik dan penerangan jalan yang memadai.
"Kami sering menerima wisatawan yang bepergian sendiri, jadi sangat disayangkan bahwa seluruh komunitas kini terkena dampak negatifnya," katanya.
Para pemilik akomodasi di sekitar lokasi tersebut juga menerima banyak panggilan telepon yang menanyakan perihal situasi keamanan.
Insiden-insiden ini terjadi di saat industri pariwisata Jeju sedang mengalami penurunan.
Menurut Organisasi Pariwisata Jeju, pulau tersebut menerima lebih dari 963.000 wisatawan domestik pada bulan Juli. Angka ini turun 12% dibandingkan tahun sebelumnya, yang menandai kali pertama jumlah kunjungan bulanan turun di bawah satu juta sejak pandemi Covid-19.
Pada bulan Agustus, rata-rata jumlah pengunjung harian tercatat sekitar 35.200 orang, angka yang lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Meningkatnya kecemasan publik diperkirakan akan semakin membebani pemulihan ekonomi pulau tersebut tahun ini.
(bnl/wsw)