Jutaan Pekerja RI Overwork, Ini Dampaknya bagi Kesehatan
Daftar Isi
Jakarta -
Bekerja dalam waktu yang panjang masih menjadi fenomena yang banyak terjadi di Indonesia. Sebagian pekerja bahkan menghabiskan waktu lebih dari batas jam kerja yang umum setiap pekannya. Kondisi ini dikenal sebagai overwork atau bekerja secara berlebihan dan dapat berdampak pada kesehatan jika berlangsung dalam jangka panjang.
Berdasarkan data Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Badan Pusat Statistik (BPS) per Agustus 2025, sebanyak 25,47 persen penduduk yang bekerja menghabiskan waktu lebih dari 49 jam per minggu. Artinya, sekitar satu dari empat pekerja di Indonesia bekerja dengan durasi yang tergolong panjang.
Jika dilihat berdasarkan jenis kelamin, proporsi pekerja laki-laki yang bekerja lebih dari 49 jam per minggu mencapai 28,50 persen. Sementara itu, proporsi pekerja perempuan yang memiliki jam kerja serupa tercatat sebesar 20,91 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
BPS mencatat jumlah penduduk yang bekerja di Indonesia mencapai 146,54 juta orang. Berdasarkan distribusi jam kerja, mayoritas pekerja atau 40,43 persen bekerja selama 35-48 jam per minggu.
Jika dihitung dalam skema lima hari kerja, durasi tersebut setara dengan sekitar 7 hingga hampir 10 jam kerja per hari. Sementara itu, pekerja yang memiliki jam kerja lebih pendek, yakni 1-34 jam per minggu, tercatat sebanyak 32,68 persen.
Di Indonesia, ketentuan mengenai waktu kerja pekerja diatur dalam Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan dan diperjelas melalui Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 35 Tahun 2021.
Secara umum, terdapat dua pola waktu kerja yang dapat diterapkan perusahaan, yakni:
- 7 jam per hari atau 40 jam per minggu untuk 6 hari kerja dalam satu minggu, dengan 1 hari istirahat dalam satu minggu.
- 8 jam per hari atau 40 jam per minggu untuk 5 hari kerja dalam satu minggu, dengan 2 hari istirahat dalam satu minggu.
Ketentuan tersebut menjadi gambaran umum mengenai durasi waktu kerja yang berlaku di Indonesia. Namun, dalam praktiknya, sebagian pekerja memiliki jam kerja yang lebih panjang alias overwork.
Overwork bisa berdampak buruk terhadap kesehatan
Dikutip dari Cleveland Clinic, penelitian menunjukkan bahwa bekerja lebih dari 55 jam per minggu dapat berdampak buruk bagi kesehatan. Hal ini sebenarnya tidak mengherankan. Ketika seseorang mengorbankan kesehatan dan tanggung jawab pribadi demi bekerja berlebihan, yang dikorbankan bukan hanya waktu dan energi. Hubungan dengan orang lain dapat menjadi renggang, kesehatan mental dapat terganggu, dan tubuh dapat mengalami tekanan akibat stres yang berlebihan.
Apa Artinya Mengalami Overwork?
Overwork menggambarkan kondisi ketika seseorang bekerja melampaui batas kemampuannya. Seseorang bekerja terlalu keras, terlalu lama, dan terlalu sering. Akibatnya, kondisi tersebut dapat menimbulkan dampak fisik dan mental yang berujung pada kelelahan hingga burnout.
Namun, overwork bersifat subjektif. Artinya, kondisi ini dapat dialami dengan cara yang berbeda-beda oleh setiap orang.
Bagi pekerja penuh waktu, overwork dapat berarti bekerja jauh melebihi tugas yang disepakati atau tuntutan pekerjaan yang seharusnya. Akibatnya, seseorang mungkin harus mengorbankan waktu pada malam hari dan akhir pekan untuk menyelesaikan pekerjaan.
Sementara bagi pekerja paruh waktu, pekerja shift, atau orang yang memiliki lebih dari satu pekerjaan, overwork dapat terjadi ketika seseorang mengambil terlalu banyak tanggung jawab hingga berdampak pada kesehatan secara keseluruhan.
Seseorang juga dapat mengalami overwork dalam aktivitas di sekolah atau di rumah jika investasi waktu, tenaga, dan pikiran yang diberikan sudah melampaui batas yang sehat.
"Menjaga keseimbangan yang sehat antara kehidupan dan pekerjaan merupakan hal yang penting. Namun, hal ini sering kali lebih mudah dikatakan daripada dilakukan," kata Psikolog Adam Borland, PsyD.
"Jika tuntutan pekerjaan mulai berdampak negatif terhadap kehidupan, baik saat bekerja maupun di luar lingkungan kerja, seseorang mungkin perlu mengevaluasi mengapa hal tersebut terjadi dan perubahan apa yang dapat dilakukan," sambungnya.
Tanda-Tanda Seseorang Mengalami Overwork
Keseimbangan antara kehidupan dan pekerjaan yang tidak sehat dapat memberikan dampak yang berbeda pada setiap orang. Jika seseorang mulai mengorbankan perawatan diri, waktu istirahat, atau tanggung jawab pribadi demi bekerja lebih banyak, beberapa tanda berikut dapat muncul:
- Meningkatnya stres dan kecemasan
- Kehilangan motivasi atau minat terhadap aktivitas yang biasanya disukai, baik di tempat kerja maupun di rumah
- Burnout
- Produktivitas menurun
- Hubungan personal dan profesional menjadi renggang
- Kesulitan menjalin kedekatan dengan orang lain
- Kesulitan melepaskan pikiran dari pekerjaan dan stres yang berkaitan dengan pekerjaan
- Gangguan tidur
- Kelelahan yang terus-menerus
"Mungkin ada tuntutan untuk melakukan lebih banyak pekerjaan dengan sumber daya yang lebih sedikit. Kondisi ini dapat membuat pekerja mengalami peningkatan stres, kecemasan, tekanan, dan berisiko mengalami burnout," ujar Dr Borland.
Ketika mengalami overwork, seseorang mendorong tubuh dan pikirannya bekerja melampaui batas. Bekerja terlalu keras dalam waktu yang terlalu lama dapat berdampak negatif terhadap kesehatan fisik dan mental.
Akibatnya, seseorang dapat mengalami peningkatan risiko:
- Infeksi dan penyakit yang lebih sering
- Sistem kekebalan tubuh melemah
- Gangguan kesehatan mental, seperti depresi
- Gangguan kognitif, seperti brain fog atau kesulitan berkonsentrasi
- Masalah kardiovaskular, seperti tekanan darah tinggi atau jantung berdebar
- Gangguan tidur
- Perubahan berat badan, nafsu makan, dan kebiasaan makan
- Cedera dan kecelakaan
- Penyalahgunaan alkohol dan zat tertentu
"Mobil tidak dapat bekerja secara optimal ketika tangki bahan bakarnya kosong. Begitu pula dengan tubuh kita. Kesehatan dapat terganggu ketika cadangan energi fisik dan emosional kita sudah terkuras habis," jelas Dr Borland.
Kapan Harus Mencari Bantuan?
Jika kondisi tidak kunjung membaik setelah mencoba menetapkan batasan yang sehat antara pekerjaan dan kehidupan pribadi serta meluangkan waktu untuk merawat diri, ada kemungkinan seseorang sedang berada dalam lingkungan kerja yang toksik.
Dalam situasi seperti ini, berkonsultasi dengan psikolog atau tenaga profesional di bidang kesehatan mental dapat membantu seseorang menghadapi dan mengelola konflik yang terjadi.
Melalui terapi, seseorang dapat mempelajari cara menemukan solusi yang lebih sehat ketika beban kerja terasa terlalu berat. Bahkan, seseorang mungkin dapat menemukan cara untuk menyiasati atau mendelegasikan beberapa tugas yang paling sederhana dan berulang.
"Perawatan diri tidak jarang disalahartikan sebagai sikap egois," kata Dr Borland.
"Kita perlu mengubah pola pikir tersebut. Saya mendorong pasien untuk meluangkan waktu setiap hari untuk merawat diri, dengan tujuan memprioritaskan kesejahteraan emosional dan fisik."
(suc/tgm)