Iran berupaya perkuat hubungan dengan negara muslim tetangga - ANTARA News Jawa Timur

Istanbul (ANTARA) - Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi, Jumat (28/8), mengatakan Teheran berupaya menjalin hubungan politik dan ekonomi yang lebih kuat dengan negara-negara Muslim, khususnya negara-negara tetangganya.

"Kami menginginkan hubungan yang baik dengan semua negara Islam, terutama negara-negara tetangga," kata Araghchi dalam pertemuan dengan para tamu di Konferensi Internasional Persatuan Islam ke-40, sebagaimana dikutip dari akun Telegram-nya.

"Kami mengupayakan hubungan ekonomi yang lebih luas dengan semua negara Islam, dan syukurlah, kami telah memiliki hubungan yang luas dengan mereka semua," ujarnya.

Beralih ke Mesir, dia menuturkan tidak ada alasan untuk terjadi perselisihan antara Teheran dan Kairo.

"Kami mengupayakan hubungan yang baik dengan Mesir. Kapan pun teman-teman kami di Mesir mengambil keputusan dan siap untuk memulihkan hubungan, kami pun akan siap," katanya.

Terkait Lebanon, Menteri Luar Negeri Iran itu mengatakan Teheran menginginkan hubungan yang baik dengan semua kelompok dan faksi politik, serta siap untuk mengembangkan hubungan dengan pemerintahnya.

Namun, dia menuturkan Iran tidak menyetujui beberapa kebijakan pemerintah Lebanon dan berharap Kementerian Luar Negeri Lebanon akan menunjukkan "rasionalitas yang lebih besar."

Araghchi juga mendesak perluasan hubungan Iran yang selama ini terjalin baik dengan negara-negara Afrika.

"Pendekatan kami terhadap dunia Islam didasarkan pada persatuan," ujarnya, seraya mengatakan bahwa Iran berupaya memperluas hubungan di seluruh dunia Muslim sembari memberikan perhatian khusus kepada negara-negara tetangga.

Menyinggung ketegangan militer di kawasan, Araghchi mengatakan Iran telah menargetkan posisi Amerika Serikat (AS) di negara-negara sekitar sebagai tanggapan atas serangan AS, namun Teheran tidak pernah menyerang negara-negara Muslim ataupun negara tetangganya.

Menurut dia, Teheran sebelumnya telah memberi tahu negara-negara kawasan bahwa pangkalan dan target AS di wilayah mereka akan menghadapi serangan Iran jika Washington menyerang Iran.

"Pasukan kami akan menyerang target AS mana pun di kawasan ini selama masa perang, baik itu pangkalan AS, fasilitas, maupun titik kumpul pasukan mereka," tegasnya.

Araghchi menyebut serangan AS dan Israel sebagai "agresi yang tidak sah" dan respons Iran sebagai "pembelaan diri yang sah."

Ketegangan antara Teheran dan Washington masih tinggi sejak perang bermula dengan serangan terhadap Iran pada akhir Februari 2026. Iran membalas dengan menargetkan posisi dan aset militer AS di negara-negara Arab yang bersekutu dengan Washington.

Iran dan AS menandatangani nota kesepahaman 14 poin di Islamabad pada 18 Juni menyusul mediasi oleh Pakistan dan Qatar yang bertujuan mengakhiri permusuhan dan membuka jalan bagi negosiasi.

Sejak saat itu, pelaksanaan kesepakatan tersebut menghadapi kendala, di mana Teheran menuduh Washington gagal memenuhi komitmennya. AS kembali melancarkan serangan militer terhadap Iran pada Juli, yang memicu serangan balasan lebih lanjut dari Iran.


​​​​​​​Sumber: Anadolu

Pewarta: Cindy Frishanti Octavia
Uploader : Taufik
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.