Di Wihara Mendut, kaum muda lintas agama lakukan siraman hastabrata

Di Wihara Mendut, kaum muda lintas agama lakukan siraman hastabrata

Kamis, 17 September 2026 13:22 WIB

Image Print

Sejumlah seniman Studio Mendut arak-arakan untuk pementasan mini teatrikal "Kritik Hastabrata" dalam acara "Dialog Harmoni Lintas Iman dalam Budaya dan Olahraga" di Kompleks Wihara Mendut Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Sabtu (12/9/2026). ANTARA/Hari Atmoko

Magelang (ANTARA) - Performa mini teater berjudul "Kritik Hastabrata", laksana mengajak kaum muda lintas agama yang berkumpul di halaman Wihara Mendut, Kabupaten Magelang, beroleh paradigma anyar ilmu kejawen, yang tidak lagi sekadar terkait kekuasaan politis, sebagaimana lazimnya.

Sekitar 25 seniman Studio Mendut yang menghadirkan pementasan sekitar 30 menit di hadapan 250-an peserta acara "Dialog Harmoni Lintas Iman dalam Budaya dan Olahraga" tersebut, terasa kental telah melakukan interpretasi baru hastabrata untuk segala urusan kepemimpinan manusia. Itu semacam mendobrak pemahaman umum yang politis atas hastabrata (delapan ajaran).

Masyarakat Jawa memaknai ilmu kepemimpinan dalam hastabrata dengan mengaitkan karakter delapan benda utama alam raya, yakni Matahari sebagai pemimpin yang memberi daya hidup, Bulan pemberi cahaya terang, Bintang pemberi arah, awan sosok wibawa, Bumi pendirian teguh, air tentang keterbukaan, api mengenai penegak kebenaran, dan angin perengkuh segala kalangan.

Dalang Sih Agung Prasetyo membabarkan pemaknaan pakem sifat-sifat benda alam itu di tengah pementasan, melalui dialog wayang Semar dan Kresna. Biasanya, ilmu hastabrata dihadirkan dalam pementasan wayang dengan lakon "Wahyu Makutharama" yang memberikan wedaran delapan nasihat kepada Arjuna tentang sifat-sifat kepemimpinan luhur dan utama.

Akan tetapi, budayawan Komunitas Lima Gunung Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, yang juga sutradara pementasan Sutanto Mendut, dalam pengantar pertunjukan itu, menyilakan audiens dari kalangan pemuda pemudi menyerap pemaknaan "Kritik Hastabrata" secara terbuka dan enteng, atau membangun keterhubungan makna secara bebas dengan keadaan terkini yang mereka hadapi dan rasakan.

"Ini (pementasan 'Kritik Hastabrata') nyumbang menarik, mumpung di wihara. Spiritualitas hastabrata yang klasik paradigma Jawa dikontemporerkan dengan zaman untuk dipahami Generasi Z, kalangan agama, atau CEO (chief executive officer), untuk pengelola MBG dan Kopdes (program Makan Bergizi Gratis dan Koperasi Desa Merah Putih), untuk hidup di zaman medsos dan AI (artificial intelligence)" ucapnya.

Sejumlah seniman Studio Mendut mementaskan karya mini teatrikal "Kritik Hastabrata" dalam acara "Dialog Harmoni Lintas Iman dalam Budaya dan Olahraga" di Kompleks Wihara Mendut Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Sabtu (12/9/2026). ANTARA/Hari Atmoko

Langit terlihat cerah di atas kawasan Candi Mendut dengan rindang pohon-pohon bodi dan berbagai wujud patung Buddha serta figur-figur spiritual lainnya dalam ajaran kebudhaan di halaman wihara, mewarnai acara dialog lintas iman, akhir pekan lalu. Acara diselenggarakan Komisi Penghubung Karya Kerasulan dan Kemasyarakatan (PK3) Kevikepan Kedu, Keuskupan Agung Semarang dengan ketua seorang yesuit Romo Mardi Santoso.

Sejumlah tokoh lintas agama hadir sebagai narasumber dialog, yakni Bante Dhiracito (Wihara Mendut), Vikep Kedu Romo Antonius Dodit Haryono, pengasuh Pondok Pesantren Nurul Falah Bintaro, Desa Gunungpring, Kecamatan Muntilan Ustaz Muhammad Arwani, pengajar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Dr Moh Fathkan, dan budayawan Magelang Sutanto Mendut.

Sambil mengucap berulang-ulang kalimat "Sopo sing nyonggo, sing nyonggo sopo (Siapa penyangga, penyangga siapa)", para seniman berjalan arak-arakan dari pintu gerbang menuju tempat pementasan. Mereka mengusung bentangan kain putih ukuran besar, membawa dupa, bunga, dan sejumlah tokoh wayang kulit, sedangkan sejumlah tembang Jawa dilantunkan dalang Sih Agung. Para wisatawan Candi Mendut yang berkesempatan mengunjungi wihara itu pun, mampir sejenak menonton pementasan.

Potongan-potongan kalimat lain, seperti "Aku", "Punyaku", dan "Aku punya", juga disajikan dengan berbagai tekanan suara dan gerak seni teatrikal. Mereka juga memainkan perebutan properti kain putih raksasa --simbol jagat raya-- serta memanfaatakan ruang luas di halaman rindang wihara untuk pementasan tersebut.

Dua anak yang mengenakan pakaian adat Jawa, Siwi Kawuryan Winangsit (9) dan Nathanael Dennis Arditya (13), duduk di atas karpet mendampingi dalang Sih Agung bersila memainkan wayang-wayangnya. Siwi dan Nathan turut mengiring adegan performa "Kritik Hastabrata" dengan lantunan tembang-tembang Jawa, "Mijil" dan "Sinom", seakan menabur pemaknaan atas nilai budaya luhur bangsa bagi kalangan muda.

Melalui performa, para seniman dengan kurator, penata gerak, dan koordinator pementasan, yakni Munir Syalala dan Lyra de Blaw, hendak menyampaikan pesan tentang keburukan sikap dan tindakan ego dan serakah manusia, berebut kuasa atas sumber daya alam, lingkungan, bumi, langit, semesta, dan sesama manusia. Seolah-olah mereka hendak mengatakan pentingnya memasuki kedalaman ilmu hastabrata untuk mencapai kesadaran atas makna kepemilikan sewajarnya dan kuasa secara terukur.

Oleh Bante Dhiracito diwedarkan tentang betapa berbahaya kemelakatan terhadap suatu kepemilikan karena riskan mendatangkan pertengkaran antar-umat manusia.

Oleh karenanya, rasa memiliki mesti dikelola secara arif, bijaksana, dan hati-hati agar semangat saling menghormati dan menghargai mewujudkan orkestarsi hidup harmoni. Kehidupan yang harmoni justru terwujud karena kesadaran kuat manusia terhadap perbedaan.

Perbedaan latar belakang kehidupan manusia dianalogikan oleh Ustaz Arwani sebagai taman indah dengan banyak bunga aneka warna yang terus dijaga dan dilestarikan bersama. Hal demikian, muncul dalam wajah kebudayaan bangsa ini dengan pendukungnya yang berbeda-beda. Para pendukung itu terus melestarikan dan menjaga perbedaan untuk mencapai kemajuan peradaban sebagaimana Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan.

Begitu juga kehadiran ratusan pemuda lintas iman dalam ajang tersebut, wujud nyata mereka menjaga taman harmoni dan keindahan itu. Seakan Ustadz Arwani hendak menyajikan pemaknaan tersebut dalam warisan tentang falsafah Bhinneka Tunggal Ika, sebagai taman persaudaraan kehidupan bangsa.

Rumusan Bhinneka Tunggal Ika lahir karena kesadaran pendahulu bangsa atas keniscayaan perbedaan. Kesadaran terhadap latar belakang hidup berbeda-beda mesti diwariskan kepada generasi penerus dengan estafet kepemimpinan era masing-masing, agar syukur atas harmoni terus terjaga dan terkinikan dalam dunia nyata maupun maya.

"Kita sebarkan dimana pun berada, keindahan dan keberbedaan itu," ucap Romo Dodit.

Semangat persaudaraan yang tersiram pada acara itu pun sepertinya dengan cerdas ditangkap Husna, seorang peserta dari Fatayat Nahdlatul Ulama (NU) Kecamatan Mungkid dan juga pegiat Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kabupaten Magelang, mengurangi kegelisahan kaum muda karena menyadari amanah kehidupan bernegara, berbangsa, dan bermasyarakat sedang menghadapi kelindan tantangan kompleks.

Oleh karena Bhinneka Tunggal Ika, motivasi luhur untuk saling mengenal di antara kalangan anak muda dengan keragaman perbedaan itu pun terpancang dan memperkaya nilai kehidupan secara personal maupun komunal. Barangkali, kesadaran atas pemaknaan keragaman itu pula menjadi energi penting kepemimpinan menghadapi tantangan kompleks tersebut.

Hastabrata yang diserap dari alam raya itu, boleh jadi memang menjadi kumpulan kekuatan yang mengejawantah menjadi daya-daya sifat kepemimpinan di tanah Bhinneka Tunggal Ika ini.

Tentu bersyukurlan kaum muda lintas agama itu, karena pertemuan tersebut menjadikan mereka beroleh siraman hastabrata.

Baca juga: Badan Pelestarian Budaya melanjutkan pemugaran Candi Mendut tahap II

Oleh M Hari Atmoko
Editor: Edhy Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.