Di beranda negeri, Polisi menanam harapan - ANTARA News Kalimantan Barat

Bengkayang (ANTARA) - Kabut pagi masih menggantung di lereng-lereng Kecamatan Siding, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat. Jalan tanah merah membelah hutan menuju desa-desa yang berbatasan langsung dengan Malaysia.

Ketika musim hujan datang, jalan berubah licin dan berlumpur. Di wilayah terdepan Indonesia itu, tantangan bukan hanya medan yang berat. Keterbatasan pendidikan, infrastruktur, dan kuatnya pengaruh negara tetangga menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat perbatasan.

Di tengah kondisi itu, Bripda Santoni Abui menjalankan tugas sebagai Bhabinkamtibmas. Selama sekitar dua tahun bertugas di Kecamatan Siding, polisi berusia 24 tahun itu tidak hanya berpatroli menjaga keamanan, tetapi juga berupaya hadir di tengah masyarakat dengan cara yang berbeda.

Setiap hari, ia berpatroli menyambangi kampung-kampung, menyelesaikan persoalan warga, mendatangi kelompok tani, hingga memastikan situasi keamanan tetap kondusif. Namun, bagi Abui, menjadi polisi di wilayah perbatasan tidak hanya berarti menjaga keamanan. Pengabdian juga berarti hadir ketika masyarakat membutuhkan, apa pun bentuknya.

Pada pertengahan 2024, selepas menyelesaikan tugas kepolisian, Abui memanfaatkan waktu luangnya untuk datang ke sekolah di desa binaannya. Ia tidak membawa borgol ataupun tongkat polisi. Ia membawa buku, duduk bersama anak-anak, mengajarkan membaca, berhitung, sekaligus bercerita tentang Indonesia.

Bripda Santoni Abui mengajari anak-anak perbatasaan di SDN 07 Kapot, Kecamatan Siding memasang bendera.. (ANTARA/Ho-Dokumen Pribadi)


Kegiatan itu bukan perintah pimpinan ataupun program resmi. Selama sekitar tujuh bulan, ia melakukannya secara sukarela.

"Kalau ada waktu luang, daripada tidak dipakai untuk apa-apa, saya isi dengan membantu memberikan materi kepada anak-anak," katanya pada ANTARA, Sabtu.

Kehadirannya dengan seragam polisi justru membuat anak-anak semakin antusias. Mereka mengenalnya sebagai "Pak Polisi" yang datang membawa pelajaran sekaligus menanamkan nilai persatuan, keberagaman, dan kecintaan terhadap Tanah Air.

Bagi Abui, anak-anak di kawasan perbatasan membutuhkan perhatian lebih karena hidup berdampingan dengan berbagai pengaruh dari luar negeri. Karena itu, selain mengajarkan pelajaran sekolah, ia berusaha menanamkan kebanggaan sebagai warga negara Indonesia. Dan baginya, menjaga anak-anak perbatasaan merupakan bagian dari pengabdian sebagai anggota Polri. 

"Saya ingin mengubah pola pikir mereka. Karena tinggal di perbatasan, pengaruh dari luar sangat banyak. Saya ingin mereka tetap bangga menjadi orang Indonesia," ujarnya.

Semangat belajar para murid menjadi pengalaman yang paling membekas baginya.

"Saya salut dengan semangat belajar mereka. Kekompakan mereka juga luar biasa. Jarang saya menemukan suasana seperti itu," katanya.

Di akhir masa mengajarnya, Abui berpesan agar anak-anak terus belajar, mencintai Tanah Air, dan tidak berhenti mengembangkan diri. Ia juga berharap mereka mampu membangun kampung halamannya sendiri, bukan selalu menggantungkan masa depan di negeri seberang.

"Daripada bekerja ke Malaysia, lebih baik membangun kebun sendiri. Jadilah bos muda di negeri sendiri. Daerah ini punya potensi besar kalau dikelola dengan kerja keras," katanya.

Menurut Abui, membimbing anak-anak perbatasan merupakan bagian dari tanggung jawabnya sebagai anggota Polri. Mereka kelak akan menjadi generasi yang menentukan masa depan daerah perbatasan.

Bripda Santoni Abui melihat hasil panen jagung warga binaan di Kecamatan Siding, Kabupaten Bengkayang (ANTARA/HO- Dokumen Pribadi)


Dari Ruang Kelas ke Lahan Jagung

Kini rutinitas Abui tak lagi diwarnai suara anak-anak mengeja huruf. Seiring bergulirnya program ketahanan pangan Polri, ia lebih banyak mendampingi masyarakat mengembangkan budidaya jagung di desa binaannya.

Hampir setiap hari ia bersama para petani, mulai dari menyiapkan lahan, menanam, hingga memberikan pendampingan agar program berjalan baik. Menurut Abui, mendampingi petani memberinya pelajaran hidup yang sederhana.

"Hasil yang baik hari ini tidak ditanam kemarin," katanya.

Kalimat itu menjadi prinsip yang selalu dipegangnya. Seperti tanaman yang membutuhkan waktu untuk tumbuh hingga panen, membangun sumber daya manusia juga memerlukan kesabaran dan proses.

Karena itu, meski kini lebih banyak berada di lahan jagung daripada di ruang kelas, ia menilai tujuannya tetap sama, yakni membantu masyarakat memiliki masa depan yang lebih baik. Pendidikan menyiapkan generasi penerus, sedangkan ketahanan pangan memperkuat kesejahteraan keluarga. Menurutnya, keduanya menjadi fondasi penting bagi kawasan perbatasan.

Bagi Abui, menjadi anggota Polri berarti siap hadir di mana pun masyarakat membutuhkan. Hari ini ia mendampingi petani, esok mungkin menyelesaikan persoalan warga atau menjaga keamanan desa. Baginya, dedikasi tidak selalu diwujudkan melalui tindakan besar. Kadang cukup dengan meluangkan waktu mengajar, ikut menanam jagung, atau mendengarkan keluh kesah masyarakat.

Ia pun terus mengingatkan generasi muda agar tetap bangga menjadi warga negara Indonesia.

"Sebaik dan semaju apa pun negara lain, itu tetap negara orang. Kalau bukan kita yang mempertahankan, membangun, dan memajukan perbatasan, lalu siapa lagi?" katanya.

Di Kecamatan Siding, peran seorang Bhayangkara tidak hanya diukur dari keberhasilannya menjaga keamanan, tetapi juga dari kemampuannya menghadirkan harapan bagi masyarakat melalui pendidikan, pendampingan petani, dan kepedulian terhadap masa depan perbatasan.

 
 
Bripda Santoni Abui diri bersama siswa/i di SDN 07 Kapot, Kecamatan Siding, Kabupaten Bengkayang (ANTARA/Ho-Dokumen Pribadi)


Sosok yang Rendah Hati

Kepala Desa Hlibuei, Kecamatan Siding, Yitro Ritan, menilai Bripda Santoni Abui merupakan sosok polisi yang aktif membangun komunikasi dengan masyarakat meskipun secara administratif bukan Bhabinkamtibmas yang bertugas di desanya.

"Walaupun beliau bukan Bhabinkamtibmas di Desa Hlibuei, kehadiran dan partisipasinya sangat aktif. Beliau sering berkoordinasi, memberikan informasi, dan terlibat dalam berbagai kegiatan masyarakat. Itu yang membuat warga merasa dekat dengan sosok beliau," kata Yitro.

Menurut Yitro, kehadiran Abui tidak hanya menghadirkan rasa aman, tetapi juga menumbuhkan harapan bagi anak-anak di kawasan perbatasan. Saat memberikan motivasi di sekolah, Abui menceritakan perjalanan hidupnya hingga berhasil menjadi anggota Polri. Kisah itu membuat banyak anak mulai berani bercita-cita menjadi polisi meski berasal dari keluarga petani di desa yang jauh dari perkotaan.

"Beliau memberi keyakinan bahwa anak-anak kampung juga punya kesempatan yang sama untuk meraih cita-cita. Sejak itu mereka lebih semangat belajar, disiplin, menjaga kesehatan, dan aktif dalam kegiatan kepemudaan," ujarnya.

Selain di bidang pendidikan, Abui juga aktif mendampingi program ketahanan pangan melalui budidaya jagung. Bagi warga yang sebagian besar menggantungkan penghasilan dari pertanian, kehadirannya menjadi penyemangat tersendiri.

"Mereka datang langsung ke kebun, mendampingi kami, membantu bibit dan kebutuhan petani lainnya. Itu membuat petani semakin bersemangat mengembangkan kebun jagung," katanya.

Di mata Yitro, Santoni dikenal sebagai pribadi yang rendah hati. Sosoknya menunjukkan bahwa tugas polisi di kawasan perbatasan tidak hanya menjaga keamanan, tetapi juga ikut membangun kualitas sumber daya manusia dan kesejahteraan masyarakat.

"Kehadiran beliau membawa semangat baru bagi masyarakat, terutama generasi muda. Anak-anak menjadi berani bermimpi dan percaya bahwa ketika cita-cita itu tercapai, mereka juga bisa kembali membangun kampung halamannya," tutur Yitro.

Di perbatasan, garis negara memang ditandai patok-patok batas. Namun sesungguhnya, batas Indonesia dijaga oleh manusia-manusia yang memilih tetap hadir di tengah masyarakat. Mengajar anak-anak agar berani bermimpi. Mendampingi petani agar tetap menanam. Menumbuhkan keyakinan bahwa masa depan tidak harus dicari di negeri seberang.

Di sanalah Bripda Santoni Abui memaknai seragamnya: bukan semata lambang penegakan hukum, melainkan tanda bahwa negara benar-benar hadir bagi warganya. Sebab di beranda negeri, menjaga Indonesia bukan hanya tentang mempertahankan garis batas, melainkan memastikan setiap anak tetap bermimpi, setiap petani terus menanam, dan setiap warga percaya bahwa masa depan terbaik dapat dibangun di tanah airnya sendiri.

Pewarta: Narwati
Uploader : Admin Antarakalbar

COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.