◐

Accurate Talks di Yogyakarta Kupas Strategi Menyiapkan Bisnis untuk Peluang Berikutnya |Republika Online

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA - Pertumbuhan bisnis tidak cukup jika hanya mengandalkan peningkatan penjualan. Pengusaha juga perlu membangun fondasi usaha yang kuat, mengenali kondisi keuangan, mengembangkan strategi branding, hingga memastikan pertumbuhan berjalan secara berkelanjutan.

Hal tersebut menjadi sorotan dalam forum diskusi Accurate Talks yang digelar Accurate di SM Tower Yogyakarta, Selasa (20/10/2026) dengan mengangkat tema 'Seberapa Siap Bisnismu untuk Peluang Berikutnya? Dari Bertumbuh, Membuka Peluang, hingga Berkelanjutan'. Forum ini menghadirkan pengusaha dari berbagai latar belakang dan generasi, mulai dari anak muda hingga pelaku usaha lintas usia.

Tiga narasumber yang dihadirkan membagikan pengalamannya mengenai tahapan dalam membangun bisnis, menghadapi tantangan pertumbuhan, hingga menentukan langkah ekspansi yang tepat.

Corporate Marketing Manager Accurate, Baskara Aji menekankan bahwa pencatatan keuangan merupakan fondasi penting yang perlu dibangun sejak awal bisnis. Menurutnya, pengusaha perlu memahami kondisi usahanya secara nyata sebelum memutuskan untuk mengambil peluang baru, termasuk membuka cabang atau menambah investasi.

Ia menilai, masih ada pelaku usaha yang merasa bisnisnya menguntungkan karena penjualan meningkat, tetapi belum benar-benar mengetahui besarnya biaya, laba, maupun ketersediaan kas.

"Sering kali kita merasa bisnis kita untung, padahal belum tentu. Dengan pencatatan yang rapi, kita bisa mengambil keputusan lebih tepat, misalnya mengetahui biaya yang terlalu besar dan bagian mana yang perlu disesuaikan," ujar Baskara dalam acara tersebut, Selasa.

Aji mengatakan pengusaha perlu membangun tiga fondasi utama, yakni memisahkan rekening pribadi dan bisnis, mencatat transaksi secara konsisten, serta memahami arus kas atau cash flow. Pemahaman arus kas menjadi penting karena laba dalam laporan keuangan tidak selalu berarti uang tersedia di rekening. Dana usaha bisa saja masih tertahan dalam persediaan barang atau piutang pelanggan yang belum dibayarkan.

Kondisi tersebut dapat menjadi kendala ketika pengusaha ingin memperluas usaha. Bahkan, bisnis yang terlihat menguntungkan secara pembukuan bisa mengalami kesulitan operasional apabila tidak memiliki kas yang cukup untuk membiayai aktivitas sehari-hari.

"Kalau kita hanya fokus pada omzet atau profit, kita belum tentu memahami kondisi uang yang benar-benar tersedia. Jangan sampai operasional sudah rapi, tetapi cash flow tidak sanggup menopang bisnis," ucapnya.

Aji juga menekankan, pencatatan tidak harus langsung menggunakan sistem yang kompleks. Pengusaha pemula dapat memulai dengan buku, kertas, maupun Excel, selama dilakukan secara rutin dan konsisten. Namun, penggunaan sistem digital sejak dini dinilai dapat membantu membangun kebiasaan yang lebih tertata sebelum bisnis semakin kompleks.

Perusahaan, lanjut dia, berupaya membantu pelaku usaha mengelola proses bisnis, mulai dari penjualan dan persediaan hingga laporan keuangan serta kebutuhan perpajakan. Ia bahkan menyebut, pencatatan yang tertata dapat membantu pengusaha memahami kondisi bisnis sekaligus meningkatkan kredibilitas ketika mencari investor atau mempertimbangkan peluang ekspansi.

"Kenali angka-angka itu. Karena dengan kita punya angka-angka tersebut yang rapi, itu akan membantu kita satu dari sisi kredibilitas misalkan kita mau mencari investor dan lain-lain mereka akan butuh angka tersebut. Yang kedua dari sisi kita mau menangkap peluang gitu, kita perlu tahu dulu sendiri kondisi bisnis kita seperti apa, kondisi keuangan. Nah, jadi kita bisa yakin mau mengambil peluang itu saat itu juga atau tidak seperti itu," ungkapnya.

Lebih jauh, Aji mengingatkan keputusan yang hanya didasarkan pada intuisi berisiko membuat pengusaha mengambil langkah yang tidak sesuai dengan kemampuan keuangannya.

"Kalau kita tidak punya catatan, kita menjalankan bisnis berdasarkan feeling saja. Padahal, data membantu kita mengetahui kondisi bisnis yang sebenarnya sehingga keputusan yang diambil bisa lebih tepat," tuturnya.

The Tribes Memilih Bertumbuh Tanpa Memaksakan Monetisasi

Sementara itu, CEO The Tribes Yodan Pranata membagikan pengalaman membangun bisnis media digital di tengah persaingan mendapatkan perhatian audiens. Menurutnya, salah satu kunci menghadapi perubahan pasar adalah agility atau kemampuan bisnis untuk beradaptasi, termasuk dalam menentukan model pendapatan.

Ia menceritakan The Tribes mulai dibangun pada 2024 dengan memanfaatkan platform digital seperti Instagram, TikTok, dan YouTube. Pada tahap awal, tantangan utama yang dihadapi adalah keterbatasan eksposur yang membuat pendapatan dari iklan belum dapat diandalkan.

Alih-alih memaksakan penjualan produk media sejak awal, The Tribes mengembangkan produk nonmedia, seperti penyelenggaraan acara dan produksi konten untuk klien. Strategi tersebut menjadi sumber pendapatan untuk menjaga bisnis tetap berjalan sembari membangun audiens dan kredibilitas media.

"Struggling-nya adalah kita harus membuat produk nonmedia supaya media kita bisa hidup. Kita tidak ingin memaksa produk media untuk buru-buru dijual, padahal belum siap dijual," ungkap Yodan.

Menurutnya, strategi tersebut membuat perusahaan memiliki ruang untuk membangun kepercayaan audiens tanpa terlalu bergantung pada pendapatan iklan. Pendekatan ini juga memberikan waktu bagi produk media untuk berkembang sebelum dimonetisasi secara lebih agresif.

Yodan turut menyoroti pentingnya menjaga kesehatan arus kas sebagai dasar pengambilan keputusan bisnis. Ia mengungkapkan bahwa The Tribes pernah mendapat tawaran investasi dalam jumlah besar, tetapi memilih untuk belum menerimanya karena penggunaan dana tersebut belum memiliki arah yang cukup jelas.

Baginya, tambahan modal tidak selalu menjadi jawaban atas kebutuhan pertumbuhan. Sebelum melakukan ekspansi, perusahaan perlu memastikan model bisnis yang sudah berjalan benar-benar teruji, termasuk proses operasional dan potensi keuntungannya. Yodan juga berpendapat, pengusaha tidak harus menguasai seluruh bidang secara mendalam, tetapi perlu memahami aspek-aspek penting yang memengaruhi bisnis, mulai dari keuangan, pasar, hingga persepsi konsumen.

"Kalau investasi kita ambil, kita harus tahu uang ini buat apa. Kami ingin memvalidasi proses bisnis yang sekarang terlebih dahulu. Setelah prosesnya terbukti dan punya standar operasional yang jelas, baru ekspansi ke kota lain bisa lebih terukur," ujarnya.

Dari sektor kuliner, Co-Founder Sender Coffee Ridha Perwira menyoroti pentingnya strategi yang terencana sejak awal, mulai dari membangun fondasi bisnis hingga menentukan cara merebut perhatian pasar.

Menurut Ridha, pengusaha perlu menyusun strategi secara bertahap. Fondasi yang kuat menjadi bekal untuk mengembangkan bisnis, memperluas penetrasi pasar, dan membangun organisasi yang mampu menopang pertumbuhan dalam jangka panjang.

Ia menilai, persaingan bisnis saat ini menuntut pengusaha untuk terus menjaga relevansi. Di industri kopi, misalnya, banyak merek baru bermunculan dengan menawarkan produk yang serupa. Tanpa strategi yang tepat, sebuah merek berisiko mudah dilupakan konsumen ketika perhatian pasar beralih kepada kompetitor.

Karena itu, Sender Coffee sejak awal tidak hanya berfokus pada pengelolaan kedai, tetapi juga membangun manajemen yang dapat mendukung pertumbuhan beberapa gerai. Pendekatan tersebut dinilai penting agar bisnis memiliki sumber daya untuk mengembangkan fungsi lain, seperti pemasaran, pelatihan, sumber daya manusia, dan pengelolaan keuangan.

"Kalau hanya punya satu atau dua outlet, akan sulit membangun tim yang lengkap. Satu outlet saja belum tentu cukup untuk membiayai kebutuhan HR, training center, marketing, dan fungsi lainnya," ujar Ridha.

Selain penguatan manajemen, Sender Coffee juga berinvestasi pada aspek kreatif dan branding sejak awal. Penentuan nama, warna, dan logo menjadi bagian dari strategi untuk membangun identitas yang mudah dikenali masyarakat. Salah satu pendekatan yang dilakukan adalah memilih lokasi strategis di persimpangan jalan. Lokasi tersebut tidak hanya berfungsi sebagai tempat usaha, tetapi juga menjadi media untuk memperkenalkan merek kepada masyarakat yang melintas setiap hari.

Menurut Ridha, strategi branding perlu dirancang agar identitas bisnis terus melekat di benak konsumen, baik melalui kehadiran fisik maupun kanal digital. 

"Kira-kira secara strategis itu begitu," ucapnya.

Salah satu peserta Accurate Talks, Evy Herawati, mengaku mendapatkan banyak wawasan praktis dari diskusi tersebut, terutama mengenai pentingnya pencatatan keuangan, peningkatan kualitas pelayanan, serta strategi menghadapi persaingan usaha.

Evy, yang menjalankan usaha biro perjalanan umrah melalui PT Ezkia Barokah Abadi Umrah Family, mengatakan bahwa pencatatan pemasukan, pengeluaran, hingga utang menjadi salah satu poin penting yang kembali mengingatkannya untuk memperkuat pengelolaan bisnis.

"Sangat daging banget. Poin penting yang saya garis bawahi adalah pencatatan, termasuk pencatatan pengeluaran, pemasukan, dan utang. Itu penting," ujar Evy.

Selain pengelolaan keuangan, ia menyoroti pelayanan sebagai faktor yang tidak kalah penting dalam membangun kepercayaan pelanggan. Menurutnya, kualitas produk perlu diimbangi dengan pelayanan yang tulus dan ramah agar pelanggan mendapatkan pengalaman yang baik.

Evy juga menekankan pentingnya keyakinan terhadap nilai produk yang ditawarkan, terutama ketika bisnis menghadapi persaingan harga. Baginya, harga yang lebih tinggi tidak selalu menjadi kelemahan apabila perusahaan mampu memberikan kualitas dan nilai tambah yang sepadan.

Pengalaman tersebut relevan dengan perjalanan usahanya yang telah berjalan selama sembilan tahun di tengah persaingan biro perjalanan umrah yang ketat. Ia menilai, keberadaan kompetitor justru dapat mendorong pengusaha untuk terus berinovasi dan mencari keunggulan yang membedakan bisnisnya dari pesaing.

"Kompetitor itu membuat kita cerdas, jadi berinovasi secara positif. Sebagai pebisnis, kita perlu berpikir, apa yang bisa saya buat yang mereka tidak punya" tuturnya.

Senada, Anindya Syifatun Nisa, perwakilan Romani Tour and Travel, yang baru menjalankan bisnisnya selama satu tahun. Ia menilai Accurate Talks memberikan manfaat karena menghadirkan moderator dan narasumber yang relevan dengan tantangan yang dihadapi pelaku usaha.

Menurut Anindya, diskusi tersebut memberinya sudut pandang baru dalam melihat dunia bisnis. Jika sebelumnya bisnis terasa menakutkan, ia kini melihat bahwa berbagai tantangan dapat dihadapi selama pengusaha memahami permasalahan dan menyusun langkah penyelesaian secara bertahap.

"Dari sini saya jadi memiliki sudut pandang lain bahwa bisnis itu tidak menyeramkan seperti yang ada di pikiran saya. Selama kita memiliki langkah demi langkah untuk menyelesaikan permasalahan yang muncul, kita tetap bisa menghadapi berbagai tantangan," ujarnya. 

Ia juga merasakan manfaat penggunaan Accurate dalam membantu pengelolaan administrasi usaha. Menurutnya, sistem tersebut membantu tim dalam memasukkan dan mengelola data jemaah yang menggunakan layanan Romani Tour and Travel.

"Selama kami menggunakan Accurate, kami lebih terbantu, terutama dalam pengelolaan administrasi. Kami menggunakan fitur administrasi untuk memasukkan data-data jemaah yang ingin menggunakan jasa Romani," ujarnya.

Ke depan, Romani Tour and Travel juga berencana mempertimbangkan pemanfaatan fitur kasir untuk mendukung kebutuhan operasional bisnis yang terus berkembang.