Xi Jinping 'Bersih-bersih' Petinggi Militer China, Kini Malah Hadapi Tantangan Mencari Pengganti
Sabtu, 10 Oktober 2026 - 15:00 WIB
China, VIVA – Presiden China Xi Jinping belum lama ini melakukan aksi 'bersih-bersih' di jajaran petinggi militer negaranya. Namun, langkah tersebut bukan tanpa tantangan. Setelah menyingkirkan para komandan yang dianggap tidak loyal, Xi harus mencari pengganti yang tepat untuk mengisi posisi mereka.
Baca Juga
Menemukan pengganti bukan perkara mudah. Xi tidak cukup hanya memilih orang-orang yang loyal kepadanya. Para calon pemimpin militer itu juga harus memiliki pengalaman dan kemampuan untuk memimpin Tentara Pembebasan Rakyat China (PLA).
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Maka dari itu, membangun kembali jajaran pimpinan militer yang loyal sekaligus berpengalaman bisa memakan waktu bertahun-tahun.
Baca Juga
Pada 21 September, Partai Komunis China (CCP) mengumumkan bahwa mantan wakil ketua Komisi Militer Pusat (CMC), Zhang Youxia dan mantan kepala Departemen Staf Gabungan CMC, Liu Zhenli telah dipecat dari partai dan militer. Keduanya dituduh melakukan sejumlah pelanggaran, termasuk melanggar disiplin politik, korupsi, dan membentuk faksi.
Langkah ini menjadi bagian terbaru dari pembersihan yang semakin meluas terhadap para perwira senior PLA di bawah kepemimpinan Xi. Pembersihan tersebut sangat signifikan karena kedua tokoh itu memiliki jabatan strategis dan telah membangun jaringan luas di lingkungan militer selama puluhan tahun.
Baca Juga
Zhang merupakan salah satu tokoh paling senior di PLA. Sebelum disingkirkan, ia menempati posisi tertinggi kedua setelah Xi dalam hierarki CMC dan memiliki hubungan luas dengan berbagai unsur militer.
Sementara itu, Liu menjabat sebagai kepala Departemen Staf Gabungan, posisi penting dalam struktur komando operasional militer China.
Oleh karena itu, dampak langsung dari pembersihan tersebut bukan sekadar tersingkirnya dua perwira senior, melainkan juga terganggunya hubungan dan jaringan yang selama ini terbangun di antara para petinggi militer.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Melansir laman Mekong News, Sabtu (10/10/2026), seorang akademisi yang mendalami politik Partai Komunis China dan dikutip dalam analisis tersebut mengatakan, kampanye yang secara resmi disebut sebagai upaya pemberantasan korupsi dan penguatan kendali partai atas militer itu semakin mencerminkan tuntutan Xi terhadap loyalitas politik mutlak.
Perbedaan ini penting untuk dipahami. Kasus korupsi relatif bisa diselidiki dan ditindak dalam waktu singkat. Namun, membangun jajaran pimpinan militer yang memiliki pengalaman operasional, kredibilitas profesional, dan kepercayaan politik membutuhkan waktu jauh lebih lama.
Halaman Selanjutnya
Menurut analisis tersebut, Xi dapat memanfaatkan periode ketika hubungan China dan Amerika Serikat (AS) relatif stabil untuk menata ulang CMC sekaligus mengisi posisi-posisi kosong akibat pembersihan tersebut. Meski demikian, pemulihan struktur komando militer tidak akan berlangsung dalam waktu singkat.