Windah Basudara Murka, Bela Hutan Malah Dituduh Dibayar
Jakarta -
YouTuber dan streamer gaming Windah Basudara tengah menjadi sorotan netizen setelah vokal menyuarakan keprihatinannya terhadap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera dan Kalimantan. Namun, bukannya mendapat dukungan penuh, pria bernama asli Brando Franco Windah itu justru mengaku mendapat serangan dari akun-akun yang diduganya sebagai buzzer.
Windah bahkan dituduh menerima bayaran dari pihak tertentu, termasuk Anies Baswedan, hanya karena menyuarakan kepeduliannya terhadap hutan dan satwa yang terdampak kebakaran.
Tudingan tersebut membuat Windah geram. Melalui Instagram Story akun @windahbasudara, ia meluapkan kekesalannya terhadap komentar-komentar yang dianggap sengaja menyerang dirinya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"As*h bela hutan dan hewan dibilang dibayar mafia, dibayar anies. Tapi gw akui buzzer2 ini lumayan research. Mrka tau gw gak buka saweria," tulis Windah, Rabu (14/10/2026).
Windah juga menyoroti banyaknya komentar dengan pola serupa yang mengaku berasal dari penonton lamanya. Padahal, menurutnya, akun-akun tersebut tidak benar-benar mengikuti kontennya.
"Dan banyak bener coment template yg ngaku2 penonton lama padahal mah gk nonton," lanjutnya.
Tak berhenti di situ, Windah mempertanyakan dari mana sumber dana yang diduga digunakan untuk membiayai akun-akun penyerangnya.
"Ini distribusi uangnya dari mana yah, jangan bilang ada distribusi pajak yg selama ini kita bayar. Buat buzzer2 ini, fck lah," tulisnya dengan nada kesal.
Instagram Story Windah Basudara Foto: X.com
Berawal dari Kepedulian terhadap Karhutla
Kemarahan Windah bermula dari kepeduliannya terhadap kebakaran hutan dan lahan serta kabut asap yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera dan Kalimantan.
Melalui siaran langsung dan media sosial, kreator konten yang dikenal dengan gaya bermain game penuh humor ini turut menyoroti dampak karhutla terhadap lingkungan, satwa liar, dan kesehatan masyarakat.
Salah satu persoalan yang menjadi perhatiannya adalah ancaman infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) akibat paparan kabut asap.
Windah juga menyinggung dugaan alih fungsi lahan bekas kebakaran menjadi perkebunan kelapa sawit. Ia mengajak penonton dan sesama kreator konten untuk tidak menutup mata terhadap persoalan lingkungan tersebut.
Namun, sikapnya justru mendapat respons negatif dari sejumlah akun media sosial. Beberapa komentar mengaitkan kritik Windah dengan kepentingan politik, bahkan menudingnya menerima bayaran dari tokoh tertentu.
Jadi Perbincangan Netizen
Luapan kekesalan Windah kemudian menjadi perbincangan di media sosial, termasuk X. Sejumlah netizen memberikan dukungan terhadap keberaniannya mengangkat persoalan lingkungan di luar konten gaming yang selama ini menjadi ciri khasnya.
"Semangat windah! Menyuarakan kebakaran hutan aja diserang segininya," ucap @roymantics.
"semoga bang Windah dan gamer² lain yang menyuarakan kebakaran hutan Kalimantan dilindungi Tuhan YME.. 🤲🏻," doa @Kurosaif.
"bang windah sekali live streaming minimal bisa kena 17-30ribu viewers, dibilang miskin katanya 😭. yg boleh ngeledekin bang windah cuma viewers nya😭 selain viewers, dah pasti kena serbu para bocil," kata @95zddaegu.
"Takut Windah diserang Oknum pakai kekerasan fisik nih kayak aktivis yang kena siraman air keras, Hati" Bang Windah," ujar @YaminikaHaejuv.
"memang lahan warlok seluas itu? tapi klo nerima uang soros, aku mau dong. sudah sering bersuara ttg kebakaran hutan. lumayan ada upah cuap2. tlg tag sosmednya soros!" kata @naizhafr.
"Terima kasih bang WINDAH yang telah menyampaikan keluh kesah dari para rakyat indonesia," kata @namelesid.
Sebagai salah satu streamer gaming populer di Indonesia dengan jutaan pengikut, Windah memiliki jangkauan audiens yang luas, terutama dari kalangan anak muda.
Keputusannya menggunakan platform tersebut untuk membicarakan karhutla menunjukkan bagaimana kreator konten hiburan juga dapat ikut mendorong perhatian publik terhadap persoalan sosial dan lingkungan.
Di sisi lain, polemik ini memperlihatkan bagaimana kritik terhadap isu lingkungan dapat berkembang menjadi perdebatan politik di media sosial.
(afr/afr)
TAGS
LIHAT LAINNYA