◐

Wamendiktisaintek: Pendidikan di perguruan tinggi harus lebih adaptif

Malang, Jawa Timur (ANTARA) - Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Fauzan menyatakan perguruan tinggi perlu menerapkan tata kelola pendidikan ke arah lebih adaptif sehingga terus mampu mengambil posisi sebagai arsitektur pembangunan.

Fauzan di Universitas Negeri Malang, Kota Malang, Jawa Timur, Minggu, mengatakan pendidikan yang bergulir di perguruan tinggi di era saat ini harus mampu menerapkan sistem pembelajaran yang relevan dengan perkembangan zaman.

"Perguruan tinggi sebagai pusat inovasi yang memiliki tugas mencetak sumber daya manusia (SDM) unggul sehingga dapat menghadirkan kebermanfaatan dan berdampak kepada masyarakat," katanya.

Menurutnya, pola adaptif bisa dibentuk oleh perguruan tinggi dengan menerapkan rekayasa pada sistem pembelajaran dengan tidak hanya memfokuskan pada urusan teoritis di kelas tetapi membawa mahasiswa memahami isu dan dinamika persoalan yang berkembang.

Dengan begitu, ketika lulus mahasiswa bukan hanya siap secara kemampuan untuk bekerja tetapi memiliki kepekaan dan keinginan menghadirkan solusi konkret di masyarakat.

"Saya mencontohkan, jangan sampai hanya mengajari tentang renang karena anak tidak akan bisa berenang tetapi kalau diajari caranya bagaimana maka dia bisa melakukan," ujar dia.

Baca juga: Kemendiktisaintek perkuat kampus rawan bencana kembangkan laboratorium

Pihaknya turut mendorong perguruan tinggi agar terus menjalin kerja sama dengan pemerintah maupun perusahaan swasta untuk memudahkan para lulusan mendapatkan lapangan pekerjaan, melalui berbagai program kolaborasi.

Rektor Universitas Negeri Malang Hariyono mengatakan pendidikan di kampus setempat telah berbasis emansipatoris yang tak hanya berpaku akademis sebagai keterampilan teknis, tetapi menguatkan keterampilan mahasiswa dari sisi sosial.

Menurutnya, keterampilan sosial akan membantu mahasiswa lebih beradaptasi terhadap perubahan zaman yang memunculkan pelbagai tantangan baru.

"Karena apa yang kita pelajari hari ini akan berbeda dengan kebutuhan di masa mendatang, contoh saja 15 tahun lalu tentu tidak ada yang membayangkan bagaimana kalau tak ada media cetak namun sekarang justru mayoritas online," ujarnya.

Ia menegaskan perubahan tanpa dibarengi kemampuan menyesuaikan diri akan menimbulkan kerugian bagi para lulusan.

"Yang kami ubah bukan sekadar pengetahuan tetapi pola pikir dan ini penting agar agar perubahan menjadi sesuatu yang inheren (melekat) di dalam kehidupan," katanya.

Baca juga: Kemendiktisaintek tunjuk UTM jadi pusat pengembangan potensi dosen

Baca juga: Komisi X minta Kemendiktisaintek dorong kampus cegah perundungan

Pewarta: Ananto Pradana
Editor: M. Hari Atmoko
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.