Unib ubah limbah sabut kelapa jadi produk bernilai ekonomi bagi warga - ANTARA News Bengkulu

Bengkulu (ANTARA) - Universitas Bengkulu (Unib) melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) mengembangkan pengolahan limbah sabut kelapa menjadi produk bernilai ekonomi bagi masyarakat di Kecamatan Pondok Kelapa, Kabupaten Bengkulu Tengah.

"Pengabdian ini menjadi cerminan perguruan tinggi, bukan menjadi menara gading, tetapi menjadi menara api yang bisa memberikan manfaat bagi masyarakat. Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya, khoirunnas anfauhum linnas" kata Ketua Tim Pengabdian Berbasis Riset LPPM Unib Prof. Mochamad Ridwan di Bengkulu, Selasa.

Baca juga: Unib perkuat pendampingan prestasi bagi 616 penerima KIP kuliah

Dia mengatakan kegiatan tersebut menjadi bentuk nyata peran perguruan tinggi dalam memberikan manfaat kepada masyarakat melalui pemanfaatan potensi lokal.

Menurut Prof. Ridwan sabut kelapa selama ini masih belum dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat, padahal bahan tersebut dapat diolah menjadi berbagai produk yang memiliki nilai tambah ekonomi.

Kedua bahan tersebut kemudian dikembangkan lagi menjadi produk seperti geo-textile dan briket sehingga sabut kelapa tidak hanya dibuang menjadi limbah, tetapi dapat menjadi bahan baku usaha masyarakat.

Kegiatan tersebut juga menggandeng Asosiasi Pengusaha Mikro Kecil Menengah Mandiri Indonesia dan Otonom (APMIKIMMDO) Bengkulu Tengah sebagai mitra.

Bengkulu Tengah kata Prof. Ridwan memiliki potensi tanaman kelapa dengan luas areal sekitar 1.222 hektare, sementara Kecamatan Pondok Kelapa memiliki areal tanaman kelapa sekitar 266 hektare.

Selama ini, kelapa telah dimanfaatkan masyarakat untuk kebutuhan rumah tangga dan diolah menjadi Virgin Coconut Oil (VCO), sedangkan sabutnya masih menjadi limbah yang belum memberikan nilai ekonomi tambahan bagi masyarakat.

Baca juga: Unib deklarasikan PKKMB sehat dan bebas perpeloncoan

Prof. Ridwan mengatakan pengolahan sabut kelapa juga diharapkan membantu mengurangi persoalan limbah di wilayah pesisir Bengkulu Tengah sehingga manfaat kegiatan tidak hanya dirasakan dari sisi ekonomi.

"Dengan pengelolaan limbah atau sampah sabut kelapa menjadi produk geo-textile dan briket, diharapkan menjadi nilai tambah untuk mitra dan masyarakat Bengkulu Tengah," katanya.

Sekretaris APMIKIMMDO Bengkulu Tengah Cici Handayani mengatakan pelatihan pengolahan limbah kelapa menjadi geo-textile dan briket tersebut merupakan lanjutan dari program pengabdian masyarakat yang telah diberikan Universitas Bengkulu pada 2025 lalu.

"Pada 2025 di Desa Srikuncoro, Unib telah memberikan peralatan pengolahan limbah sabut kelapa menjadi cocopeat dan cocofiber, kali ini Unib kembali memberikan kami dalam bentuk pelatihan pengolahan cocopeat dan cocofiber menjadi briket dan geo-textile," ujarnya.

Pewarta: Boyke Ledy Watra
Uploader : Musriadi

COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.