Transformasi ekonomi hijau Kaltim diperkuat lewat kebun bebas api - ANTARA News Kalimantan Timur
Samarinda (ANTARA) - Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur terus memperkuat transformasi ekonomi hijau yang berkelanjutan melalui pengawalan kebijakan kawasan perkebunan bebas dari ancaman kebakaran lahan.
"Sektor perkebunan menjadi mesin penggerak ekonomi masa depan pengganti sumber daya alam tak terbarukan sehingga kelestarian wajib kita jaga bersama," kata Pelaksana Tugas Kepala Dinas Perkebunan Kaltim Arief Murdiyatno di Samarinda, Kamis.
Berdasarkan rekapitulasi data komoditas daerah, sektor perkebunan mencatatkan peningkatan produksi sebesar 5,95 persen menjadi 21,28 juta ton pada tahun 2025.
Keberhasilan peningkatan produktivitas tersebut berbanding lurus dengan kemampuan sektor ini dalam memberdayakan hingga 368.818 tenaga kerja perkebunan.
"Penerapan prinsip pengelolaan tanpa bakar ini menjadi langkah mutlak agar stabilitas produksi dan roda ekonomi ratusan ribu pekebun kita tidak rusak akibat bencana asap," ujarnya.
Untuk mewujudkan ekosistem hijau tersebut, pemerintah daerah mengawal kepatuhan terhadap regulasi pembangunan perkebunan berkelanjutan yang melarang keras pembukaan lahan dengan cara dibakar.
Meski begitu, pihaknya menjadikan pemetaan jumlah 184 titik panas sejak Januari 2026 hingga saat ini sebagai evaluasi dalam menyusun strategi mitigasi kebakaran lahan perkebunan.
Mitigasi di tingkat tapak terus diperkuat dengan menyiagakan 11 tim Brigade Pengendalian Kebakaran Lahan Perkebunan serta membentuk 186 Kelompok Tani Peduli Api (KTPA) di seluruh kabupaten dan kota.
"Sebagai wujud apresiasi atas dedikasi menjaga lingkungan, pemerintah juga telah menyalurkan pendanaan insentif karbon guna memacu perputaran ekonomi kelompok tani," ucapnya.
Dana insentif pembinaan sebesar Rp70 juta dari program Forest Carbon Partnership Facility-Carbon Fund (FCPF-CF) bertujuan untuk memberdayakan masyarakat desa penjaga lahan Kaltim.
Sejauh ini, insentif atas upaya mitigasi iklim tersebut telah dimanfaatkan langsung oleh sejumlah kelompok aktif, seperti KTPA Taruna Muda dan KTPA Nyi'an Kasa Pampang.
"Skema pemberian insentif ramah lingkungan seperti ini tentu akan terus kami optimalkan agar masyarakat semakin mandiri dan produktif dalam mengelola kebun," tuturnya.
Ia menambahkan bahwa upaya penguatan transisi ekonomi hijau di perdesaan ini tidak akan bisa berjalan maksimal tanpa adanya dukungan kemitraan strategis dari pihak swasta dan keterlibatan aktif masyarakat.
Merujuk pada data Disbun Kaltim, saat ini tercatat sebanyak 65 KTPA telah menjalin kerja sama tata kelola perlindungan lahan secara terpadu bersama 35 Perusahaan Besar Swasta (PBS).
Pewarta: Ahmad Rifandi
Editor : Rahmad
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.