Sultan HB: Ketersediaan darah tak dapat digantikan teknologi apa pun

Sultan HB: Ketersediaan darah tak dapat digantikan teknologi apa pun

Minggu, 13 September 2026 17:17 WIB

Image Print

Pelantikan Kepengurusan dan Dewan Kehormatan PMI DIY periode 2026-2031 di Bangsal Kepatihan Yogyakarta. Minggu (13/9/2026). ANTARA/Hery Sidik

Yogyakarta (ANTARA) - Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengku Buwono X menyatakan ketersediaan darah dalam kepalangmerahan Indonesia tidak dapat digantikan teknologi apa pun, dan hanya bisa disediakan karena kepedulian manusia terhadap sesama.

"Darah tidak dapat digantikan oleh teknologi apa pun, ketersediaannya tergantung pada kepedulian manusia kepada manusia yang lain," katanya dalam sambutan yang dibacakan Asisten Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekda DIY Aria Nugrahadi pada Pelantikan Kepengurusan PMI DIY 2026-2031 di Kepatihan Yogyakarta, Minggu.

Menurut dia, pelayanan darah dalam kepalangmerahan di PMI hal yang penting di samping berbagai pelayanan kegawatdaruratan lainnya dalam rangka menjalin mandat kemanusiaan.

"Karena itulah, donor darah sesungguhnya merupakan salah satu bentuk solidaritas sosial yang paling nyata," katanya.

Dia mengatakan tantangan PMI ke depan bukan hanya meningkatkan jumlah pendonor, tetapi memastikan bahwa darah tersedia dalam jumlah memadai, aman, bermutu, berkelanjutan.

"Dan yang terpenting adalah dapat diakses secara adil oleh masyarakat yang membutuhkan," katanya.

Ia menjelaskan kerja kemanusiaan mengajarkan suatu nilai yang sederhana tetapi mendasar, bahwa kehidupan manusia harus ditempatkan di atas segala perbedaan.

"PMI telah menjaga nilai itu dari generasi ke generasi. Maka, tugas kepengurusan yang baru adalah memastikan agar nilai tersebut tetap hidup, relevan, dan semakin kuat menghadapi perubahan zaman," katanya.

Dia menjelaskan DIY wilayah dengan dinamika kebencanaan yang kompleks, masyarakat hidup berdampingan dengan berbagai risiko, mulai dari aktivitas vulkanik, gempa bumi, banjir, tanah longsor, cuaca ekstrem, hingga berbagai kedaruratan kesehatan dan sosial.

"Pengalaman telah mengajarkan, dalam situasi darurat waktu adalah sesuatu sangat berharga. Pertolongan cepat dapat menyelamatkan kehidupan. Informasi akurat dapat mencegah kepanikan. Relawan yang terlatih dapat menjadi penghubung antara keterbatasan dan harapan," katanya.

Oleh karena itu, kepengurusan PMI DIY hendaknya semakin kuat dalam kemampuan mengantisipasi dan dapat bekerja ketika keadaan berada dalam ketidakpastian dan melayani tanpa membedakan latar belakang siapa pun yang membutuhkan.

"PMI perlu terus memperkuat kesiapsiagaan berbasis masyarakat, kapasitas relawan, sistem informasi dan komunikasi kedaruratan, pengelolaan logistik, pendidikan kebencanaan, serta pemanfaatan teknologi," katanya.

Ketua Terpilih PMI DIY GBPH Prabukusumo mengatakan kepemimpinan bukanlah suatu kebanggaan pribadi, melainkan tanggung jawab besar dan pengabdian yang harus dijalankan dengan kesungguhan dan ketulusan.

"Tugas ini tidak dapat saya jalankan seorang diri, karena itu, saya mengajak seluruh jajaran pengurus khususnya para relawan-relawan yang menjadi ujung tombak organisasi untuk saling memperkuat kolaborasi, menjaga integritas, serta mempererat dalam situasi kekeluargaan," katanya.

Ia juga mengajak berbagai kalangan melanjutkan program-program baik sekaligus terus berinovasi menjawab tantangan kemanusiaan di masa depan demi membawa PMI DIY ke arah yang lebih baik dan makin bermanfaat bagi masyarakat luas.

Pewarta : Hery Sidik
Editor: Sutarmi
COPYRIGHT © ANTARA 2026