Sulit Tidur Nyenyak? Ini 3 Faktor yang Lebih Sering Dialami Perempuan Dibandingkan Laki-laki
Kamis, 22 Oktober 2026 - 17:27 WIB
Jakarta, VIVA – Tidur nyenyak sepanjang malam tidak selalu mudah bagi sebagian orang, terutama perempuan. Meski tubuh sudah lelah dan waktu tidur terasa cukup, seseorang tetap bisa kesulitan terlelap atau terbangun berkali-kali pada malam hari. Kondisi ini dapat memengaruhi suasana hati, konsentrasi, hingga kesehatan mental.
Baca Juga
Kurang tidur juga dikaitkan dengan meningkatnya risiko kecemasan dan depresi serta munculnya brain fog, yaitu kondisi ketika seseorang sulit berkonsentrasi atau berpikir jernih.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Penelitian mengenai tidur memang terus berkembang. Namun, perbedaan pola tidur antara perempuan dan laki-laki belum sepenuhnya dipahami. Salah satu penyebabnya adalah penelitian kesehatan pada masa lalu yang kerap kurang memperhatikan perbedaan biologis berdasarkan jenis kelamin. Pada 2016, National Institutes of Health (NIH) di Amerika Serikat mulai mewajibkan pertimbangan jenis kelamin biologis dalam penelitian yang didanainya pada tahap prapengujian dan penelitian klinis tertentu.
Baca Juga
Seiring berkembangnya penelitian, para ilmuwan semakin mendalami faktor yang membuat perempuan lebih rentan mengalami gangguan tidur. Melansir dari YourTango, berikut tiga hal yang kerap memengaruhi kualitas tidur perempuan.
1. Perempuan Lebih Rentan Mengalami Insomnia
Baca Juga
Salah satu gangguan tidur yang lebih sering dialami perempuan adalah insomnia. Kondisi ini membuat seseorang sulit memulai tidur, mempertahankan tidur sepanjang malam, atau mendapatkan tidur yang berkualitas.
Perempuan dilaporkan memiliki kemungkinan mengalami insomnia sekitar 1,5 kali lebih tinggi dibandingkan laki-laki. Selain itu, perempuan juga diperkirakan memiliki risiko 25–50 persen lebih tinggi mengalami restless legs syndrome, yaitu gangguan yang menimbulkan dorongan kuat untuk menggerakkan kaki, terutama ketika sedang beristirahat.
Insomnia dapat berlangsung dalam waktu singkat maupun berkepanjangan. Insomnia akut terjadi dalam periode tertentu, sedangkan insomnia kronis umumnya ditandai gangguan tidur setidaknya tiga kali seminggu selama lebih dari tiga bulan.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Perbedaan pola tidur juga terlihat dari frekuensi terbangun pada malam hari. Dalam data yang dikutip artikel sumber, sekitar 33 persen perempuan mengaku terbangun sepanjang malam, dibandingkan 27 persen laki-laki.
Sekitar sepertiga perempuan bahkan mengaku jarang atau tidak pernah bangun dengan perasaan segar. Pada laki-laki, angka tersebut dilaporkan hanya mencapai 17 persen.
Halaman Selanjutnya
Kualitas tidur yang buruk dapat membuat tubuh terasa lelah meskipun sudah menghabiskan waktu cukup lama di tempat tidur. Jika berlangsung terus-menerus, kondisi ini bisa mengganggu aktivitas sehari-hari dan kesejahteraan emosional.