Suaraga Fest 2026 Satukan Wellness, Musik, dan Budaya di Solo - Pophariini

Sejak matahari belum sepenuhnya terbit, Taman Balekambang sudah dipenuhi pengunjung yang datang membawa matras yoga. Itulah pembuka Suaraga Fest 2026, festival yang memilih mengawali harinya dengan sesi wellness sebelum beranjak ke pertunjukan musik, budaya, hingga ruang-ruang komunitas sepanjang akhir pekan.

Digelar selama dua hari di Solo, Suaraga Fest menghadirkan pengalaman yang memadukan wellness, budaya, komunitas, dan musik dalam satu kawasan. Festival ini juga menjadi bagian dari upaya memperkenalkan Solo sebagai The Wellness City of Java melalui berbagai aktivitas yang berangkat dari akar budaya sekaligus dekat dengan gaya hidup masa kini.

Hari pertama dibuka melalui Wellness Session sejak pukul 05.00 WIB. Berbagai kelas yoga, meditasi, hingga somatic movement dipandu oleh Anjasmara, Ify Alyssa, Atsiri Jawa melalui Javanic Somatic, Amanda Tasning, Sazou Gautama Debbie, Deece, Rindu dan Carissa dari Houm Yoga, Laila Munaf, Tari, Meiske, hingga Wulan dari Sana Studio.

Namun, pengalaman wellness di Suaraga Fest tidak berhenti di atas matras. Pengunjung juga diajak mengikuti beragam lokakarya (workshop) yang memperlihatkan bahwa praktik wellness dapat hadir melalui aktivitas sehari-hari maupun ruang refleksi yang lebih personal.

Beberapa workshop yang berlangsung di antaranya Tea Tasting bersama Hondje, Creative Journaling bersama Kembara Nona, Primbon Reading bersama Clinic Clenic, Candle Making bersama Kyandoru, serta Tarot Reading bersama Tarot Indonesia. Aktivitas-aktivitas tersebut menjadi ruang bagi pengunjung untuk melambat sejenak, mengeksplorasi kreativitas, sekaligus menikmati pengalaman yang lebih intim selama festival berlangsung.

Memasuki sore hingga malam, suasana Taman Balekambang berubah menjadi panggung musik. Pada hari pertama, The Flyover, Nadhif Basalamah, Man Osman & Traffic Jam, Silampukau, Sore Ze Band, hingga Barasuara bergantian tampil dan melengkapi pengalaman festival yang berlangsung sejak pagi.

Antusiasme serupa berlanjut pada hari kedua. Orkes Latar Jembar, Fanny Soegi, Ali, FSTVLST, hingga MALIQ & D’Essentials bergantian menghibur pengunjung sebelum rangkaian Suaraga Fest 2026 ditutup oleh Ucupop. Kehadiran musisi lintas generasi dan genre tersebut memperlihatkan bagaimana festival ini menghadirkan pengalaman musik yang beragam dalam satu akhir pekan.

Yang membuat Suaraga Fest terasa berbeda adalah kehadiran unsur budaya yang berjalan beriringan dengan musik modern. Penampilan gamelan dan Wayang Orang Solo menjadi bagian dari pengalaman festival yang memperlihatkan bagaimana tradisi tetap memiliki ruang di tengah penyelenggaraan festival masa kini.

Di luar panggung utama, berbagai pelaku UMKM, tenant kuliner, pengrajin, hingga komunitas kreatif lokal turut meramaikan kawasan festival. Kehadiran mereka melengkapi pengalaman pengunjung sekaligus memperlihatkan semangat kolaborasi yang menjadi salah satu fondasi penyelenggaraan Suaraga Fest.

Chief Executive Officer Boss Creator, Riandika Winandatama, mengatakan Suaraga Fest menjadi langkah awal untuk memperkenalkan Solo sebagai kota dengan energi budaya dan kreativitas yang kuat melalui pendekatan yang dekat dengan gaya hidup masyarakat saat ini.

“Melalui Suaraga Fest, kami ingin memperkenalkan Solo sebagai kota dengan energi budaya dan kreativitas yang begitu kuat. Suaraga Fest hadir sebagai titik awal destinasi keseimbangan hidup yang tetap berakar pada warisan budaya, namun tetap relevan dan dekat dengan generasi urban masa kini.”

Senada dengan itu, Co-Founder dan Chief Business Officer Vindes, Laksamana Satrio AP, mengatakan Suaraga Fest ingin menghadirkan ruang yang terasa hangat bagi masyarakat untuk menikmati musik, budaya, komunitas, sekaligus kembali terkoneksi dengan dirinya sendiri.

COO MADHAUS, Suherman Soemardi, menambahkan bahwa kolaborasi tersebut mempertemukan wellness, budaya, dan komunitas melalui berbagai aktivitas, termasuk Mlaku Santai dan Pit-Pitan yang dekat dengan keseharian masyarakat Solo.

Sementara itu, Wali Kota Solo, Respati Achmad Ardianto, menilai Suaraga Fest menjadi bagian dari upaya memperkenalkan Java Wellness sebagai identitas budaya kota sekaligus mendukung perkembangan komunitas kreatif dan pelaku wellness di Solo.

Melalui penyelenggaraan perdananya, Suaraga Fest menunjukkan bahwa sebuah festival tidak hanya menghadirkan deretan musisi di atas panggung. Festival ini juga membuka ruang bagi masyarakat untuk bergerak, beristirahat, berkreasi, menikmati budaya, sekaligus kembali terhubung dengan komunitas dalam satu pengalaman yang utuh.