Sejarah Museum Mandiri dan Kerinduan Akan Kampung Halaman di Belanda
Jakarta -
Kawasan Kota Tua Jakarta punya Museum Mandiri yang berada di seberang Stasiun Jakarta Kota. Di balik kemegahan arsitekturnya, ada makna yang perlu traveler tahu.
Bangunan ini merupakan gedung bersejarah yang dulunya dikenal sebagai De Factorij dan digunakan sebagai kantor Nederlandsche Handel-Maatschappij (NHM) di Batavia. Kini, gedung tersebut menjadi museum yang menyimpan berbagai koleksi tentang sejarah perbankan di Indonesia.
Dari De Factorij Jadi Museum Mandiri Kalau melihat bangunannya yang masih kokoh, sulit membayangkan bahwa gedung ini sudah berdiri hampir satu abad. Pembangunannya dimulai pada 1929 dan rampung pada 1933.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Gedung tersebut dirancang oleh arsitek Belanda A.P. Smits dan C. van de Linde dengan J.J.J. de Bruijn sebagai penasihat teknis. Pada 14 Januari 1933, gedung ini diresmikan sebagai kantor NHM di Batavia dengan nama De Factorij.
NHM sendiri merupakan perusahaan dagang Belanda yang kemudian berkembang ke sektor perbankan. Pada 1960, NHM dilebur ke dalam Bank Koperasi Tani dan Nelayan (BKTN). Kemudian pada era Bank Tunggal 1965, lembaga tersebut terintegrasi menjadi BNI Unit II.
Sejak 1968, gedung ini digunakan oleh Bank Ekspor Impor Indonesia atau Bank Exim. Bank Mandiri kemudian berdiri pada 1998 sebagai hasil restrukturisasi perbankan nasional. Setahun setelahnya, Bank Exim bersama Bank Dagang Negara, Bank Bumi Daya dan Bank Pembangunan Indonesia resmi bergabung ke dalam Bank Mandiri.
Gedung De Factorij sendiri kemudian berstatus sebagai Bangunan Cagar Budaya berdasarkan SK Gubernur DKI Jakarta No. 475 Tahun 1993. Sejak 2005, bangunan ini difungsikan sebagai Museum Mandiri.
Kaca Patri Jadi Obat Rindu Para Pekerja
Salah satu bagian yang langsung mencuri perhatian ketika masuk ke area tangga menuju ruang direksi adalah kaca patri berukuran besar. Buat yang belum familiar, kaca patri atau stained glass merupakan karya dekoratif yang dibuat dari kepingan-kepingan kaca berwarna yang disusun menjadi sebuah gambar atau komposisi.
Ketika terkena cahaya, warna-warna pada kaca akan terlihat semakin hidup. Di Museum Mandiri, kaca patri ini bukan sekadar pemanis interior. Karya yang dirancang F.H. Abbing Jr. tersebut menyimpan makna tersendiri.
Bagian yang paling menarik adalah gambaran empat musim di Eropa: musim semi, panas, gugur dan dingin. Empat musim tersebut menjadi 'mesin waktu' bagi para pekerja Belanda di Batavia untuk mengingat kehidupan di tanah asal mereka.
Gambaran aktivitas yang berkaitan dengan musim-musim tersebut menjadi pengingat terhadap suasana yang jauh dari Batavia. Bagi para pekerja Belanda yang tinggal di Hindia Timur, kaca patri itu menjadi semacam pengobat rindu terhadap kampung halaman.
Namun kaca patri itu tidak hanya bercerita tentang Belanda. Pada kaca patri tersebut, terselip gambaran tentang kehidupan Indonesia pada masa Hindia Belanda. Salah satunya terlihat dari sosok perempuan yang digambarkan dengan busana terbuka.
Sosok tersebut merepresentasikan sikap terbuka masyarakat Hindia Belanda terhadap masuknya budaya Belanda. Gambaran itu sekaligus menjadi simbol bagaimana perbedaan budaya diterima dan disikapi dengan toleransi.
Tak hanya budaya, keindahan alam Nusantara juga tergambar dalam ornamen kaca patri tersebut. Salah satunya terlihat melalui ilustrasi gunung vulkanik yang mengepulkan asap. Bentang alam Nusantara yang berbeda dari negeri asal orang-orang Belanda menjadi salah satu hal yang menarik perhatian mereka saat datang ke wilayah ini.
Gunung-gunung vulkanik yang banyak tersebar di Nusantara pun menjadi bagian dari keunikan alam yang mereka jumpai. Bangunan Museum Mandiri bisa dikatakan sebagai bagian dari koleksinya. Jadi, coba masuk ke Museum Mandiri dan lihat lebih dekat kisah yang selama puluhan tahun di baliknya.