◐

Satu komando hadapi karhutla di Natuna

Satu komando hadapi karhutla di Natuna

Minggu, 4 Oktober 2026 08:13 WIB

Image Print

Tim gabungan melakukan penanganan kebakaran hutan dan lahan di Pendingin, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kaltim. (ANTARA/Ahmad Rifandi)

Natuna (ANTARA) - Sejak Agustus 2026, pengaruh fenomena El Nino membuat curah hujan di Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau, menurun. Tanah di sana perlahan kehilangan kelembapannya.

Lahan terbuka yang sebelumnya ditumbuhi vegetasi dan menjadi sumber pakan ternak mulai mengering sehingga meningkatkan ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Memasuki pekan kedua Agustus 2026, titik panas mulai bermunculan di sejumlah wilayah Natuna. Kebakaran terjadi di beberapa lokasi dan hingga akhir Agustus telah menghanguskan lahan dengan luas total lebih dari 20 hektare.

Bencana tersebut mendorong Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Natuna memperkuat kesiapsiagaan melalui pembentukan Satuan Tugas Kebakaran Hutan dan Lahan (Satgas Karhutla) pada 26 Agustus 2026.

Satu komando hadapi api

Satgas itu dikomandoi langsung oleh Bupati Natuna Cen Sui Lan dan melibatkan berbagai unsur, mulai dari TNI, Polri, Basarnas, BMKG, KPHP, Perumda Air Minum (PDAM) Tirta Nusa Natuna, perangkat daerah, hingga masyarakat.

Mereka datang dari institusi dengan kemampuan berbeda. Ada yang memiliki kemampuan operasi di udara dan darat, menyediakan informasi cuaca, serta mendukung ketersediaan air, kesehatan, logistik hingga penyelamatan. Perbedaan kemampuan itu dirangkai dalam satu sistem kerja.

Para pimpinan instansi ditempatkan pada bidang yang telah ditentukan, mulai dari perencanaan dan keuangan, administrasi umum dan posko, operasi udara, operasi darat, hingga penyediaan air bersih. Struktur tersebut juga mencakup penyelamatan, evakuasi dan transportasi, data dan informasi, kesehatan, logistik dan peralatan, serta pencegahan dan penegakan hukum.

Ketika personel bergerak menuju titik api, mereka membutuhkan informasi mengenai kondisi cuaca dan arah angin. Mereka juga membutuhkan dukungan kesehatan, ketersediaan air, peralatan, serta jalur evakuasi apabila situasi berubah. Informasi dari lapangan kemudian dikirim kembali ke posko untuk menjadi dasar pengambilan keputusan.

Plt Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Natuna Zulheppy mengatakan setiap instansi memiliki peran masing-masing. Jika dibutuhkan, personel dari berbagai unsur juga turun langsung membantu pemadaman dengan membawa kemampuan dan peralatan yang dimiliki.

Menurut dia, pembentukan satgas membuat setiap unsur memiliki gambaran lebih jelas mengenai tugas dan tanggung jawab masing-masing. Kekuatan personel dan peralatan juga dapat dipetakan sejak awal sehingga ketika kebakaran terjadi, respons dapat dilakukan lebih cepat.

Kolaborasi antar instansi dinilai penting karena karhutla di satu titik bisa berkembang menjadi persoalan lebih luas, terutama ketika kondisi kering membuat vegetasi mudah terbakar dan angin memperluas kobaran api.

Air untuk masyarakat

Ancaman kekeringan di Natuna tidak berhenti pada munculnya api. Ketika hujan jarang turun, pasokan air untuk kebutuhan masyarakat sehari-hari ikut berkurang.

Perumda Air Minum Tirta Nusa Natuna, yang menjadi bagian dari Satgas Karhutla, mengerahkan mobil tangki untuk mendistribusikan air ke wilayah yang mengalami keterbatasan pasokan. Langkah itu dilakukan atas perintah Bupati Natuna Cen Sui Lan.

Bantuan air menjadi penting karena masyarakat tetap membutuhkan air untuk minum, memasak, mencuci, dan kebutuhan rumah tangga lainnya, sementara debit sejumlah sumber air terus mengalami penurunan.

Direktur PDAM Natuna Zaharuddin mengatakan mereka memiliki dua sumber air, yakni penampungan Gunung Ranai dan Bukit Berangin. Debit air di penampungan Gunung Ranai merosot hingga tinggal 30 persen, sementara debit air di Bukit Berangin berada di kisaran 60 persen.

Penanganan kekeringan pun berjalan beriringan dengan penanggulangan karhutla. Pemerintah harus mencegah api meluas sekaligus memastikan masyarakat tetap mendapatkan perlindungan dan kebutuhan dasar.

Aktivitas warga terganggu

Dampak lain muncul ketika kebakaran dan kondisi atmosfer menyebabkan kualitas udara menurun. Asap membuat jarak pandang di sejumlah wilayah berkurang dan turut memengaruhi aktivitas masyarakat, termasuk kegiatan belajar mengajar.

Bupati Natuna Cen Sui Lan menghentikan pembelajaran tatap muka (PTM) dan menggantinya dengan belajar dari rumah (BDR). Kebijakan itu dimulai di Pulau Serasan sejak akhir Agustus 2026 dan berlanjut hingga pekan ketiga September, meskipun PTM sempat kembali diterapkan ketika kondisi udara membaik.

Penurunan kualitas udara pada periode tersebut tidak hanya dipengaruhi karhutla di Natuna. Pemerintah daerah menduga asap juga berasal dari kebakaran di wilayah lain, salah satunya Kalimantan.

Pada periode itu, Natuna seperti diselimuti asap. Gunung Ranai di Kecamatan Bunguran Timur yang biasanya terlihat dari kejauhan perlahan menghilang di balik kabut asap.

Asap yang bertahan membuat aktivitas masyarakat di luar ruangan harus dikurangi, terutama bagi kelompok yang lebih rentan terhadap gangguan akibat kualitas udara yang buruk.

Sejalan dengan penerapan BDR dan pemadaman api, Satgas Karhutla melalui Dinas Kesehatan membagikan masker kepada warga yang terdampak kabut asap. Pemkab juga mengedukasi warga agar menggunakan masker dan mengurangi kegiatan di luar ruangan ketika kondisi udara memburuk.

Kelompok rentan, seperti anak-anak, lanjut usia, serta masyarakat dengan gangguan pernapasan, menjadi perhatian khusus.

Api mungkin muncul dari satu titik, tetapi dampaknya merambat ke berbagai sisi kehidupan. Ketika sumber air berkurang, masyarakat membutuhkan pasokan air. Ketika udara memburuk, sekolah menyesuaikan kegiatan dan warga membutuhkan perlindungan.

Musim kering yang diperkirakan masih berlangsung hingga awal 2027 membuat ancaman kebakaran belum sepenuhnya berakhir. Karena itu, penanganan karhutla di Natuna membutuhkan kerja bersama, dari pemantauan dan pemadaman hingga penyediaan air, layanan kesehatan, dan perlindungan masyarakat.

Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Satu komando menghadapi karhutla di Natuna

Oleh Muhamad Nurman
Editor: Yuniati Jannatun Naim
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.