Risiko Bencana Makin Kompleks, Berikut 3 Langkah Mitigasi dari Pemerintah

Lukman Nur Hakim Akurat.co

| 10 September 2026, 15:44 WIB

Risiko Bencana Makin Kompleks, Berikut 3 Langkah Mitigasi dari Pemerintah

Wakil Menteri ESDM, Yuliot - AKURAT.CO/Lukman Nur Hakim

AKURAT.CO Pemerintah mendorong penguatan mitigasi bencana untuk menghadapi risiko yang kian kompleks akibat perubahan iklim, degradasi lingkungan, dan ketimpangan sosial.

Langkah tersebut ditempuh melalui peningkatan investasi ketangguhan, penguatan sistem peringatan dini yang inklusif, serta kolaborasi lintas sektor dan negara.

"Perubahan iklim, degradasi lingkungan, dan ketimpangan sosial telah menyatu menjadi satu ancaman sistemik yang masif. Kita harus ingat bahwa every day counts. Menunda mitigasi risiko bencana hari ini berarti menumpuk korban jiwa di masa depan," kata Wakil Menteri ESDM, Yuliot dikutip dari laman Kementerian ESDM, Kamis (10/9/2026).

Baca Juga: Kementerian ESDM Tawarkan Lebih dari 100 Blok Migas RI ke Investor Rusia

Yuliot menyampaikan, kemunculan risiko bencana baru bergerak lebih cepat dibandingkan kapasitas penanganannya. Karena itu, ia mendorong tiga langkah strategis dalam penguatan ketangguhan bencana.

Pertama, pengurangan risiko bencana perlu ditempatkan sebagai investasi inti dalam pembangunan nasional melalui investasi berkelanjutan pada ketangguhan dan infrastruktur hijau, bukan sekadar biaya operasional.

Kedua, penguatan Early Warnings for All dengan mengubah data teknis menjadi informasi lokal yang inklusif dan mudah diakses, termasuk oleh anak-anak, penyandang disabilitas, dan masyarakat adat.

Ketiga, memperkuat kolaborasi lintas batas dan solidaritas multipihak melalui kemitraan pemerintah, sektor swasta, akademisi, LSM, dan generasi muda.

Di tengah upaya tersebut, Yuliot menyoroti kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang saat ini melanda sejumlah wilayah di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua.

Baca Juga: Kementerian ESDM Ungkap Penyaluran B50 Sudah Capai 80 Persen

Selain berdampak terhadap lingkungan dan kesehatan, karhutla juga mengganggu infrastruktur vital pertambangan serta minyak dan gas.

Kementerian ESDM turut mengapresiasi respons BNPB dalam mengamankan objek vital nasional dari ancaman kebakaran.

"Kami menyampaikan terima kasih dan apresiasi setinggi-tingginya kepada BNPB atas respon cepatnya dalam memadamkan kebakaran hutan di wilayah kerja migas Tangguh Bintuni, Provinsi Papua Barat," tutur Yuliot.