◐

Rins Jelaskan Kronologi Cekcok-Acungkan Jari Tengah ke Marshal Mandalika

Jakarta -

Pebalap pabrikan Yamaha Alex Rins menjelaskan kronologi saat cekcok hingga mengacungkan jari tengah ke marshal MotoGP Mandalika.

Insiden ini terjadi saat Alex Rins crash dalam sesi practice MotoGP Mandalika 2026 pada Jumat (9/10). Rins terjatuh di tikungan terakhir, dia mau buru-buru ke garasi.

Rins menumpang motor yang ada di luar lintasan, yang sedang diduduki marshal.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Ada dua, tiga marshal di sana, sudah siap dengan skuter. Dan mereka malah berebut, 'Ikut saya, jangan, ikut saya.' Jadi, saya naik ke salah satu motor. Dia membawa saya sampai lintasan lurus utama, lalu meninggalkan saya di sana," kata Rins dikutip dari Crash.

Rins ingin diantar ke garasi, sementara marshal menyuruhnya naik mobil.

"Lalu saya bilang, 'Bukan, bukan, ke box Garasi!' Dia bilang, 'Naik ke mobil'. Lalu saya bilang, 'Tidak, kamu harus membawa saya ke box.' Kemudian ada dua marshal di sana yang bilang,'Pergi ke box saja', Tapi dia (marshal di skuter) bilang, 'Tidak, tidak',"

"Lalu di momen yang tegang itu, saya mengacungkan jari tengah kepadanya. Saya sudah minta maaf, karena itu bukan contoh yang baik,"

"Para penggemar muda melihat kita; tidak baik melakukan itu. Tapi saat itu saya benar-benar stres," kata Rins.

Rins sempat "ngobrol singkat" dengan para steward FIM. Ada dugaan bahwa marshal di skuter itu tidak bisa meninggalkan posnya untuk mengantar ke paddock karena ia membawa alat pemadam api.

Rins tidak dijatuhi hukuman atas insiden itu, tetapi ia berbicara dengan para steward, yang "terkejut" dengan kejadian tersebut.

"Kami ngobrol singkat. Itu cuma kesalahpahaman. Memang, ini pertama kalinya terjadi. Para steward juga terkejut. Aneh," ucap Rins.

ITDC menegaskan marshal bertindak sesuai prosedur standar operasional prosedur (SOP).

Chairman Grand Prix of Indonesia 2026, Troy Reza Warokka, menegaskan penolakan marshal bukan bentuk kelalaian. Menurutnya, kendaraan yang tersedia merupakan motor flying marshal, bukan motor moto taxi, sehingga keduanya memiliki fungsi berbeda.

Troy menjelaskan, aturan MotoGP mengharuskan pebalap yang mengalami kecelakaan atau kendala teknis dievakuasi menggunakan mobil. Motor yang mesinnya mati setelah terjatuh juga tidak boleh dinyalakan kembali di pinggir lintasan.

"Jadi ada perdebatan yang terjadi di lapangan bermula dari ketatnya aturan evakuasi pebalap di dalam sirkuit," kata Troy di Mandalika, Sabtu (10/10/2026) dikutip dari detikBali.

Menurut Troy, aturan tersebut diterapkan demi menjaga privasi dan keamanan pebalap saat kembali ke paddock. Karena itu, marshal tidak diperbolehkan mengangkut pebalap menggunakan sepeda motor.

Ia menyebut situasi memanas karena Rins terburu-buru dan mendesak marshal agar segera mengantarkannya. Bahkan, menurut Troy, petugas sempat mendapat intimidasi untuk melanggar prosedur.

"Kan secara aturan, karena itu sudah berada di dalam sirkuit, SOP-nya harus dievakuasi dengan mobil, bukan dengan motor. Pembalap yang bersangkutan meminta buru-buru. Tim Marshal kami diintimidasi begitu kan agak goyang juga, tapi mereka tahu bahwa ini tidak boleh," tegas Troy.

Troy membantah insiden tersebut terjadi akibat miskomunikasi. Ia menilai marshal telah menjalankan tugas sesuai aturan meski berada dalam situasi penuh tekanan.

"Ini bukan miskomunikasi. Penjelasannya adalah Marshal menjalankan tugasnya dengan benar bahwa tidak bisa mengangkut pembalap dengan motor. Kalau dari atas kelihatan seperti ribut atau debat, yang diperdebatkan adalah aturan tersebut. Buat saya, Marshal sudah menjalankan tugasnya sesuai SOP," tegas Troy.

(riar/lua)