Reza Rahadian Garap Film Casparina, Kisah Nyata Neneknya yang ‘Terbuang’ Selama 32 Tahun |Republika Online
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Reza Rahadian akan menghadirkan karya film terbaru berjudul Casparina. Film ini mengangkat kisah kehidupan neneknya, Francisca Casparina Fanggidaej, seorang jurnalis Indonesia yang harus hidup dalam pengasingan selama puluhan tahun karena kewarganegaraannya dicabut akibat pergolakan politik pada 1965.
Film panjang kedua garapan Reza sebagai sutradara tersebut menjadi bagian dari Asian Project Market (APM), yang berlangsung dalam rangkaian Asian Contents & Film Market (ACFM) di Busan International Film Festival. Casparina mengisahkan sosok Rina yang terpaksa hidup di pengasingan karena menentang pemerintah. Berselang 32 tahun kemudian, Rina menerima surat yang mengabarkan bahwa rezim lama telah tumbang dan dirinya bebas kembali ke Indonesia.
Namun, kepulangan tersebut tidak serta-merta mengembalikan kehidupan keluarganya seperti semula. Kedua anaknya, Andi dan Lila, telah dewasa dan menjalani kehidupan masing-masing tanpa kehadiran sang ibu.
Rina pun harus menghadapi luka dan kekecewaan anak-anaknya akibat perpisahan selama bertahun-tahun. Seiring berjalannya waktu, mereka perlahan berusaha memperbaiki hubungan dan memahami pengorbanan yang dilakukan Rina demi negara dan keluarganya.
Reza mengatakan bahwa kisah ini penting untuk diangkat dalam film. Menurutnya, Casparina tidak hanya berbicara tentang seorang ibu yang terpaksa meninggalkan keluarganya, tetapi juga tentang anak-anak yang harus tumbuh tanpa ibu dan mengapa mereka tidak dapat hidup bersama.
Latar belakang sejarah film ini juga menjadi aspek penting bagi Reza. la menyoroti situasi ketika kewarganegaraan seseorang dapat dicabut secara tiba-tiba, secara paksa, dan tanpa peringatan.
"Bagi saya, ini adalah kisah yang sangat penting," kata Reza seperti dilansir laman Variety, Senin (12/10/2026).
la berharap film ini dapat membuat penonton memahami bahwa setiap keputusan sulit memiliki konsekuensi. Selain itu, Reza ingin penonton memahami makna menjadi seorang ibu yang tidak dapat hadir dalam kehidupan anak-anaknya selama puluhan tahun.
"Serta bagaimana rasanya bagi anak-anaknya yang tidak bisa secara terbuka mengakui siapa ibu mereka, karena hal itu dapat membahayakan nyawa mereka," kata Reza.
Produser Arya Ibrahim dan Gita Fara menggambarkan proyek ini sebagai kisah mengenai pergolakan politik tahun 1965, yang memecah belah keluarga dan membuat orang-orang yang kehilangan kewarganegaraan harus hidup dalam pengasingan. Menurut keduanya, Francisca Casparina Fanggidaej sedang berada di Beijing untuk mewakili Indonesia dalam sebuah forum internasional ketika kewarganegaraannya dicabut akibat penentangannya terhadap rezim baru.
"la meninggalkan enam orang anak dan menjalani masa pengasingan selama 32 tahun, awalnya di Beijing dan kemudian di Belanda, sebelum akhirnya keluarganya dapat bersatu kembali," kata produser.