Ray Rangkuti: Jokowi Suka Mengumbar Kata-kata Yang Dirinya Sendiri Tak Bisa Buktikan
Sabtu, 17 Oktober 2026, 01:20 WIB
Warta Ekonomi, Jakarta -
Kritikan pedas datang usai istilah-istilah bombastis seperti "penumpang gelap" dan "operasi politik" digunakan oleh Mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Alih-alih mendapatkan simpati publik, strategi retorika politik tersebut malah mendapat tamparan keras dan membuatnya semakin terpojok polemik ijazah milik Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Direktur Eksekutif Lingkar Madani, Ray Rangkuti memberikan reaksi yang sangat skeptis dan menohok atas klaim-klaim tanpa bukti yang dilontarkan oleh Jokowi. Ia menilai bahwa publik sudah terlalu lelah dan hafal dengan tabiat komunikasi sang mantan kepala negara, yang kerap kali melemparkan tuduhan-tuduhan berskala besar di masa krisis, namun selalu gagal mempertanggungjawabkannya dengan bukti nyata di kemudian hari.
Baca Juga: PDIP Sebut Semua Anggota Dewan Satu Arah Soal Pemakzulan Gibran: Tahan Malu, Lebih Baik Mundur
Bagi Ray, tudingan bahwa skandal ijazah anak mantan presiden itu ditunggangi oleh pihak-pihak tak bertanggung jawab hanyalah sekadar manuver untuk mengaburkan substansi masalah yang sesungguhnya.
"Ya, bagi saya sih enggak serius. Karena saya sudah tahu beliau memang memang suka mengumbar kata-kata yang begitu, yang beliau sendiri enggak bisa tunjukin," ungkap Ray Rangkuti, dikutip Sabtu (17/10/2026).
Ray menyebut, yang menjadi kelemahan fatal dari pembelaan tersebut adalah ketiadaan rincian. Sama seperti kebiasaan di masa lalunya, mantan presiden itu sama sekali tidak menyebutkan siapa identitas spesifik aktor politik atau pihak penumpang gelap yang ia maksud.
Pernyataan Jokowi yang menggantung ini justru semakin meyakinkan pihak-pihak mana pun bahwa ucapan dari mantan presiden itu hanyalah "angin lalu" yang miskin substansi dan bukti.
"Ya, ini kan bukan kali pertama Pak Jokowi mengucapkan itu dan saya kira sudah berulang-ulang. Dan tidak pernah terang," tegas Ray.
Ray mengingatkan bahwa tuntutan masyarakat sipil saat ini sangatlah sederhana dan berpijak pada konstitusi. Publik hanya menuntut transparansi administratif sesuai amanat undang-undang pemilu, bukan sedang bermain sandiwara operasi politik.
Adapun istilah "penumpang gelap" (free rider) dalam leksikon politik memang kerap digunakan sebagai kiasan untuk mendelegitimasi sebuah gerakan murni, dengan menuduh ada aktor tak kasat mata yang mengeksploitasi keadaan demi syahwat kekuasaan. Jokowi menggunakan taktik linguistik ini saat merespons isu ijazah putranya di Solo.
“Kan sudah saya sampaikan sejak awal ini ada operasi politik. Kemudian ada penumpang gelap yang menunggangi lagi jadi menjadi ramai sekali,” kata Jokowi.
Ia pun menambahkan bahwa keriuhan ini adalah agenda terstruktur untuk menjatuhkan kredibilitas kepemimpinan Gibran.
Baca Juga: PDIP Minta Prabowo Tak Gengsi Minta Bantuan Asing Demi Padamkan Karhutla
“Ya bisa saja memang sekali lagi operasi politik untuk men-downgrade reputasi politik seseorang,” tuturnya.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Aldi Ginastiar
Editor: Aldi Ginastiar