Punya second account? Bisa jadi tanda depresi, loh!
Generasi Z mungkin tidak lagi asing dengan second account atau akun kedua di media sosial. Di era saat ini, Gen Z semakin gemar membuat akun sekunder untuk membagikan sisi kehidupan yang tidak terlihat di akun utama dan mengalihfungsikannya sebagai ruang aman (safe space) tanpa filter estetika maupun penilaian dari orang asing.
Namun, di sisi lain, dorongan kuat untuk mengisolasi emosi negatif ke dalam akun tersembunyi dapat menjadi indikator awal gangguan kesehatan. Studi riset psikologi umum II (27/8) mengatakan bahwa kesenjangan ekstrem antara kedua akun tersebut merupakan sinyal minta tolong yang sering kali tidak kasatmata.
Peneliti dari Universitas Pancasila menyimpulkan bahwa semakin lebar jurang pemisah identitas digital, semakin tinggi risiko depresi dan kepuasan hidup individu. Berikut penjelasannya lebih lanjut.
Mengapa Gen Z Memisahkan Identitas Online?
Tekanan sosial untuk tampil sempurna di akun utama membuat Gen Z kelelahan secara mental. Citra depan sering kali mengharuskan mereka mengurasi pencapaian dan impresi diri yang ideal untuk konsumsi publik. Oleh karena itu, mereka menciptakan akun sekunder sebagai tempat meluapkan kekecewaan, kecemasan, dan kesedihan tanpa perlu mengumbar kepalsuan.
Karakteristik akun privat ini memberikan ilusi perlindungan dari judgment lingkungan sosial. Akibatnya, pemisahan identitas ini justru menunjukkan adanya jurang pemisah yang lebar antara kehidupan nyata yang penuh tekanan dan emosi terpendam yang tidak tersalurkan secara sehat.
Kaitan Second Account dan Indikasi Depresi
Penelitian psikologi media sosial mengungkapkan bahwa frekuensi unggahan emosional yang tinggi di second account berbanding lurus dengan tingkat depresi subjek. Para ilmuwan menemukan bahwa kebiasaan meluapkan emosi negatif (venting) secara anonim sering kali menjadi bentuk pertahanan diri yang kurang efektif.
Bukannya meredakan stres, tindakan mengurung emosi gelap di ruang tertutup justru memperkuat kesepian digital dan memperburuk kondisi psikologis dalam jangka panjang.
Solusi Sehat dengan Expressive Writing dan Membuka Diri
Generasi muda perlu menyadari bahwa second account tidak boleh menjadi satu-satunya tempat bersandar saat kesehatan mental memburuk. Gen Z dapat mengalihkan kebiasaan venting di media sosial ke metode expressive writing pada jurnal pribadi yang lebih aman dan terbebas dari validasi internet serta disarankan untuk mencari bantuan profesional atau berbicara langsung dengan kerabat tepercaya di dunia nyata
Dengan demikian, proses penyembuhan emosional dapat berlangsung secara konkret tanpa bergantung pada interaksi layar (Psychology Today, 27/8).
Menjaga Keseimbangan Ekspresi Diri dan Kesehatan Mental
Memiliki second account bukanlah sebuah kesalahan, tetapi pola penggunaannya tetap membutuhkan kesadaran diri yang tinggi. Pada akhirnya, mengekspresikan kesedihan adalah hal yang manusiawi, tetapi mengisolasi di balik akun rahasia tidak menyelesaikan akar masalah depresi. Oleh sebab itu, mulailah mengenali tanda-tanda stres digital sejak dini agar ekspresi diri tetap berjalan seimbang dengan kesehatan jiwa.