◐

Puluhan Ribu Warga Korea Selatan Disebut Memeluk Islam di Tengah Tekanan Kehidupan Modern

Fenomena tersebut menunjukkan adanya sebagian masyarakat Korea Selatan yang mulai mencari alternatif spiritual di tengah kehidupan modern. Sejumlah mualaf menyebut Islam memberikan nilai kesederhanaan, ketenangan, serta pandangan hidup yang lebih bermakna.

Salah seorang mualaf asal Korea Selatan, Yusuf, memeluk Islam pada 2014. Menurutnya, sebagian pria Korea tertarik mengenal Islam karena melihat konsep keluarga dan pernikahan yang dinilai lebih sederhana dibandingkan tekanan dalam budaya kencan modern.

“Sebagian besar pria melakukannya untuk mencari istri,” ujar Yusuf, dikutip dari laporan The Korea Times.

Ia mengatakan, budaya kencan yang kompetitif, terutama di kota-kota besar seperti Seoul, menjadi salah satu faktor yang membuat sebagian pria mencari perspektif berbeda mengenai kehidupan keluarga.

Baca Juga: Adab Menyuarakan Pendapat dan Hak Upah Pekerja dalam Islam

Aktivitas pengenalan Islam juga berlangsung di Masjid Pusat Seoul, Itaewon. Setiap bulan, sekitar lima hingga 25 warga Korea disebut mengikuti kursus dasar-dasar Islam. Setelah mengikuti pembelajaran, peserta memiliki kesempatan mengucapkan dua kalimat syahadat sebagai bagian dari proses memeluk Islam.

Sebagian besar peserta kursus tersebut merupakan laki-laki. Namun, terdapat pula perempuan Korea yang tertarik mempelajari Islam.

Salah satunya Areum. Ia mengaku tertarik dengan konsep tauhid serta ajaran Islam mengenai penghormatan kepada orang tua.

“Premis dasar Islam tentang satu Tuhan sangat menarik bagi saya. Selain itu, penghormatan Islam terhadap orang tua juga sesuai dengan budaya Korea yang saya kenal sejak kecil,” kata Areum, dikutip dari laporan yang sama.

Menurut Areum, nilai penghormatan terhadap orang tua dalam Islam memiliki kemiripan dengan nilai kekeluargaan yang telah dikenalnya dalam budaya Korea. Kesamaan tersebut membuatnya lebih mudah menjelaskan keputusannya kepada keluarga.

Sementara itu, Yusuf mengaku mulai mengenal Islam setelah berinteraksi dengan komunitas Muslim melalui komunitas bahasa Inggris. Pertemuan tersebut membuatnya tertarik mempelajari agama dan budaya di luar lingkungan sosial yang selama ini dikenalnya.

Bagi sejumlah mualaf Korea Selatan, keputusan memeluk Islam tidak semata-mata berkaitan dengan agama, tetapi juga merupakan bagian dari pencarian identitas dan makna kehidupan.

Meski sebagian masyarakat Korea Selatan masih mengkhawatirkan kemungkinan munculnya keterasingan sosial setelah seseorang menjadi Muslim, sejumlah mualaf justru mengaku mendapatkan dukungan melalui komunitas Muslim.

“Semua orang dipersilakan untuk mempelajari Islam, apa pun motivasi awal mereka,” ujar Yusuf.

Areum juga menceritakan pengalamannya ketika pertama kali mengunjungi Masjid Pusat Seoul. Ia mengatakan pengalaman tersebut memberikan perasaan diterima dan menemukan lingkungan yang selama ini dicari.

Baca Juga: Hubungan Kolombia-Israel Pulih, Ribuan Warga Demo dan Bakar Bendera AS

“Meskipun saya telah tinggal di Korea sepanjang hidup saya, ketika pertama kali datang ke Masjid Seoul, akhirnya terasa seperti saya pulang ke rumah,” ujarnya.

Fenomena tersebut memperlihatkan bahwa perkembangan Islam di Korea Selatan tidak hanya berkaitan dengan pertumbuhan komunitas Muslim pendatang, tetapi juga dengan munculnya warga lokal yang memilih mempelajari dan memeluk Islam.