Proyek Data Center Makin Menjamur, Tak Peduli Ditolak Warga
Jakarta, CNBC Indonesia - Gelombang penolakan terhadap pembangunan pusat data (data center) berbasis kecerdasan buatan (AI) kian meluas di Amerika Serikat (AS). Masyarakat hingga pemerintah negara bagian makin geram akibat lonjakan konsumsi listrik, penyedotan air bersih, serta penguasaan lahan yang sangat masif oleh para raksasa teknologi (Big Tech).
Laporan The Information mencatat lebih dari 500 yurisdiksi di AS kini resmi memblokir atau membatasi pembangunan data center baru, menurut laporan The Information. Bahkan, hanya pada bulan Juli 2026 saja, lebih dari 150 kota dan kabupaten memberlakukan larangan sementara (moratorium) hingga permanen.
Data dari Heatmap menunjukkan terdapat lebih dari 530 aturan lokal yang restriktif di 42 negara bagian, di mana hampir 190 aturan di antaranya diadopsi sejak 1 Juni 2026. Dampaknya, lebih dari 50 proyek data center dibatalkan sepanjang tahun ini-dua kali lipat dibanding angka pembatalan tahun lalu.
Aksi penolakan tak lagi sekadar isu zonasi tingkat lokal, melainkan sudah memicu intervensi gubernur. Gubernur New York, Kathy Hochul, menerbitkan Peraturan Eksekutif 62 yang memberlakukan moratorium satu tahun untuk izin lingkungan diskresioner bagi data center berkapasitas 50 megawatt (MW) atau lebih. Di saat bersamaan, Gubernur Texas Greg Abbott mengerahkan lembaga setempat untuk menyetop persetujuan proyek data center hingga proses audit selesai.
Aksi Protes Berujung Ricuh
Penolakan di tingkat tapak kerap berujung bentrokan dengan aparat. Sepanjang tahun 2026, sedikitnya terjadi 37 penangkapan warga yang memprotes proyek data center. Sebanyak 12 insiden juga melibatkan polisi yang menghadang massa saat hendak menemui pejabat setempat.
Di Indiana, seorang manajer pemeliharaan bernama Pablo Payan (42) ditangkap saat menghadiri forum penolakan proyek data center milik Amazon di kota Hobart, hanya karena menolak menyebutkan nama lengkap sebelum berbicara.
Insiden serupa terjadi di Kansas, ketika seorang guru fisika bernama Lux Claridge ditangkap hanya karena bertepuk tangan di rapat umum untuk mendukung penolakan proyek data center seluas 1.000 hektar. Claridge dituduh melanggar aturan pejabat lokal yang melarang peserta rapat menjetikkan jari atau bertepuk tangan.
Masyarakat menyuarakan kekecewaan mendalam atas sikap pejabat publik yang dinilai lebih memprioritaskan kepentingan korporasi Big Tech dibandingkan kesejahteraan dan pasokan energi warga lokal.
Siasat Alpha Compute: Beli Lahan Gas Alam Rp983 Miliar
Di tengah himpitan krisis pasokan listrik jaringan (grid) dan penolakan warga, para pengembang data center mulai memutar otak untuk mengamankan sumber energi mandiri.
Salah satu pemain infrastruktur AI, Alpha Compute, mengambil langkah radikal dengan menandatangani kesepakatan bernilai US$55 juta (sekitar Rp983 miliar) untuk menguasai lahan dan hak penambangan gas alam di Pennsylvania.
Langkah ini diambil demi membangun kawasan data center mandiri berkapasitas 200 MW yang dilengkapi fasilitas Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG) sendiri, sehingga tidak membebani jaringan listrik umum.
"Fasilitas di Pennsylvania utara ini akan dilengkapi dengan pembangkit listrik tenaga gas sendiri dan ditargetkan mulai beroperasi pada kuartal III-2027," ujar CEO Alpha Compute, Brittany Kaiser, kepada Reuters.
Kaiser menambahkan, fasilitas tersebut nantinya dapat diekspansi hingga menghasilkan daya 1 gigawatt (GW). Langkah integrasi langsung antara data center, produksi gas alam, dan pembangkit listrik di lokasi (on-site) kini menjadi solusi realistis saat perusahaan penyedia listrik umum (utilities) kewalahan melayani kebutuhan daya AI.
Pennsylvania sendiri kini menjadi incaran utama investasi data center berkat melimpahnya cadangan gas alam dari cekungan Marcellus Shale, seperti halnya komitmen investasi Amazon senilai US$20 miliar tahun lalu.
Guna meredam potensi penolakan warga seperti yang terjadi di wilayah lain, Alpha Compute menyatakan telah membuka komunikasi awal dengan komunitas setempat. Secara keseluruhan, pengembangan kawasan data center terintegrasi ini diperkirakan bakal menelan total investasi hingga US$500 juta (sekitar Rp8,1 triliun) selama beberapa tahun ke depan.
(fab/fab)
[Gambas:Video CNBC]