Profesi Clipper Makin Dilirik Anak Muda, Bisa Raup Rp24 Juta dalam Seminggu
Jakarta -
Profesi clipper mulai dilirik anak muda seiring maraknya konsumsi video pendek di berbagai platform digital. Pekerjaan yang dilakukan di balik layar ini memungkinkan seseorang menghasilkan uang dari potongan video tanpa harus menjadi influencer atau memiliki banyak pengikut.
Clipper pada dasarnya mengolah materi seperti podcast, livestream, wawancara, atau video berdurasi panjang menjadi konten pendek untuk TikTok, Instagram Reels, maupun YouTube Shorts.
Pekerjaan tersebut tidak sekadar memotong video. Clipper harus memilih bagian yang menarik, menentukan hook, memahami konteks, mengatur pacing, menambahkan elemen visual, hingga menyesuaikan konten dengan karakter masing-masing platform.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tren ini berkembang di tengah tingginya konsumsi internet. Survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) 2026 mencatat 81,72% orang Indonesia telah menjadi pengguna internet.
Materi konten yang tersedia juga semakin beragam. Satu podcast berdurasi satu hingga dua jam, misalnya, dapat memiliki sejumlah momen yang kemudian diolah menjadi konten pendek dengan berbagai angle.
Berbeda dengan editor yang umumnya menerima bayaran berdasarkan pekerjaan, penghasilan clipper dapat bergantung pada performa konten. Sejumlah marketplace clipping menawarkan tarif sekitar Rp2.000 hingga Rp7.000 untuk setiap 1.000 views, tergantung campaign dan ketentuan platform.
Dengan skema tersebut, konten yang mencapai 1 juta views berpotensi menghasilkan Rp2 juta hingga Rp7 juta.
Pekerjaan ini juga dapat dimulai sebagai pekerjaan sampingan. Mahasiswa, editor pemula, maupun pengguna media sosial dapat mengerjakannya dengan perangkat dan kemampuan editing dasar.
Salah satu platform yang masuk ke bisnis tersebut adalah Konten.com. Platform ini dikembangkan sebagai clipping marketplace yang mempertemukan brand dengan kreator konten, termasuk para clipper. Konten.com didirikan oleh Sulianto Indria Putra bersama Andrew Jonathan pada 20 Mei 2026.
Sulianto yang lahir di Jakarta pada 5 Juli 2006 memulai aktivitas bisnis sejak usia 11 tahun dengan berjualan stik es krim kepada teman sekolah. Saat pandemi, ia menjadi freelance designer pada usia 14 tahun dan kemudian mulai berinvestasi saham ketika berusia 15 tahun.
Ia kemudian mendalami trading dan aset kripto. Sulianto disebut berhasil mengumpulkan Rp1 miliar pertamanya pada usia 18 tahun.
Di platformnya tersebut, peluang penghasilan dari clipping terlihat dari salah satu clipper berinisial A yang tercatat memperoleh sekitar Rp24 juta dalam satu minggu pada periode 13-20 Agustus 2026.
Angka tersebut bukan gambaran pendapatan seluruh clipper karena penghasilan tetap bergantung pada performa konten, termasuk jumlah views dan konsistensi produksi.
Sebelumnya, cerita serupa juga datang dari Dhimas Izzul. Dilansir dari CNN, ia awalnya membuat klip video karena hobi dan mengunggahnya ke TikTok. Setelah salah satu videonya masuk FYP, sejumlah brand kemudian menghubunginya untuk bekerja sama. Dari 12 video, Dhimas mengaku memperoleh sekitar Rp4 juta.
Bagi brand, keberadaan clipper juga memberikan pilihan untuk memperluas distribusi materi kampanye. Satu materi dapat diolah menjadi sejumlah potongan video dengan angle berbeda.
Konten.com kemudian menawarkan model marketplace yang mempertemukan brand dengan kreator dan clipper dalam skala lebih besar. Platform tersebut menyebut telah melibatkan ribuan creator dan clipper di Indonesia.
Dengan model tersebut, clipper dapat memperoleh peluang dari performa konten, sementara brand memiliki saluran tambahan untuk mendistribu
(agt/agt)
TAGS
LIHAT LAINNYA