Presiden Prabowo sedih Indonesia tidak lolos Piala Dunia, singgung Cape Verde - ANTARA News Megapolitan
Jakarta (ANTARA) - Presiden Prabowo Subianto mengaku sedih Indonesia belum mampu lolos ke putaran final Piala Dunia sepak bola meski memiliki jumlah penduduk hampir 300 juta jiwa.
Presiden bahkan membandingkan kondisi tersebut dengan Cape Verde, negara berpenduduk sekitar 500 ribu orang yang menurutnya mampu menembus ajang sepak bola paling bergengsi di dunia tersebut.
"Contoh yang kecil saja kita negara jumlah penduduk keempat terbesar di dunia. Hampir 300 juta, 287 juta. Tapi saya sangat sedih terus terang saja masalah sepak bola saja kita tidak mampu Piala Dunia. Ini fakta yang tidak enak," kata Prabowo saat bertemu sekitar 150 periset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) di Halaman Tengah Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis.
Prabowo kemudian menyinggung keberhasilan negara-negara berpenduduk kecil yang mampu lolos ke Piala Dunia. Ia secara khusus menyebut Cape Verde sebagai contoh yang patut menjadi bahan pembelajaran.
"Masa negara kecil seperti Cape Verde masuk. Mungkin jumlah penduduknya dengan Kabupaten Sumedang mungkin lebih banyak Sumedang," ujarnya.
Menurut Prabowo, perbandingan tersebut bukan untuk menyalahkan pihak tertentu, melainkan mendorong bangsa Indonesia melakukan introspeksi dan mencari akar persoalan.
"Saya bilang jangan mengeluh, jangan mencari kambing hitam, karena itu tidak akan membantu. Sekarang belajar bagaimana kenapa kok bisa negara itu masuk. Apa yang dilakukan? Pelatihnya dari mana? Guru-gurunya dari mana? Jadi kita cari penyebabnya apa. Baru kita harus berani berbuat," katanya.
Prabowo menambahkan dirinya ingin membangun budaya yang berlandaskan fakta dan realitas dalam menghadapi berbagai persoalan nasional.
Kepala Negara menilai keberanian mengevaluasi kekurangan menjadi langkah awal untuk menghasilkan solusi yang lebih baik.
"Jadi kita cari penyebabnya apa. Baru kita harus berani berbuat," katanya.
Dalam kesempatan yang sama, Presiden juga menegaskan bahwa kemajuan bangsa sangat ditentukan oleh penguasaan sains dan teknologi.
Oleh karena itu, Prabowo mengajak para periset BRIN terus berkontribusi melalui riset dan inovasi untuk mendukung penyelesaian berbagai persoalan nasional.
"Pembangunan suatu bangsa itu ditentukan oleh apakah bangsa itu mampu menguasai sains dan teknologi atau tidak. Jadi bangsa yang mampu menguasai sains dan teknologi, bangsa itu akan maju dengan pesat. Kuncinya adalah sain dan teknologi. Ini adalah fakta dan kenyataan," kata Presiden.
Turut hadir dalam pertemuan tersebut di antarnya Kepala BRIN Arif Satria, Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid, Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono.
Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) Rachmat Pambudy, Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, Penasihat Khusus Presiden Bidang Komunikasi dan Media Hasan Nasbi, dan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya.
Pewarta: Fathur Rochman
Uploader : Naryo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.