Pramono tegaskan Jakarta terbuka bagi siapa saja

Jakarta (ANTARA) - Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menegaskan Jakarta terbuka bagi siapa saja dan tidak ada permasalahan dengan etnisitas.

“Jakarta ini adalah kota yang sangat terbuka. Keanekaragaman di Jakarta itu selama ini terjaga dengan baik. Saya tidak mau ada isu berkaitan dengan etnisitas di Jakarta,” kata Pramono di Balai Kota, Jakarta, Selasa.

Menurut dia, bentrokan yang terjadi di kawasan Jalan Tambak, Menteng, Jakarta Pusat, pada Minggu (26/7) itu merupakan realitas yang terjadi di Jakarta, di tengah keberagaman masyarakatnya.

Dia pun meminta kepada seluruh pihak agar menahan diri dan menyelesaikan setiap persoalan dengan kepala dingin.

“Saya meminta kepada semuanya untuk menahan diri, dan kita menyelesaikan dengan kepala dingin. Mudah-mudahan, Jakarta tetap aman, nyaman,” ujar Pramono.

Baca juga: Sebanyak 188 personel disiagakan jaga kondusivitas di Tambak, Menteng

Seperti diketahui, bentrokan yang melibatkan sekelompok orang dan warga itu mengakibatkan sebuah bangunan semi permanen serta empat sepeda motor terbakar.

Satu orang diketahui meninggal dunia dan satu orang lainnya kritis akibat kejadian tersebut.

Setelah bentrokan tersebut, warga Kelurahan Pegangsaan bersama dengan perwakilan keluarga korban bentrokan bersepakat untuk menjaga situasi keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) tetap kondusif serta menyerahkan sepenuhnya proses hukum kepada Polda Metro Jaya.

Sementara itu, Polda Metro Jaya menetapkan tujuh orang sebagai tersangka dalam dua perkara yang mengakibatkan bentrokan di Jalan Tambak.

Ketujuh tersangka itu terdiri dari empat orang dalam perkara perusakan gerobak pedagang dan tiga orang dalam perkara pengeroyokan yang mengakibatkan satu korban meninggal dunia.

Baca juga: Aktivitas warga di Jalan Tambak Menteng kembali normal

Baca juga: Polisi tetapkan tujuh tersangka kasus bentrokan Jalan Tambak Menteng

Pewarta: Lia Wanadriani Santosa
Editor: Rr. Cornea Khairany
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.