Polda ubah pola kerja Polantas di Papua Tengah menjadi prediktif - ANTARA News Papua Tengah
Nabire (ANTARA) - Polda Papua Tengah mengubah pola kerja polisi lalu lintas (Polantas) dari sekadar responsif terhadap persoalan menjadi lebih prediktif dengan mengutamakan pencegahan dan dampak nyata bagi keselamatan masyarakat.
Direktur Lalu Lintas Polda Papua Tengah Kombes Pol Kunto Hartono di Nabire, Selasa, mengatakan perubahan orientasi diperlukan karena tantangan lalu lintas semakin kompleks seiring meningkatnya mobilitas masyarakat dan distribusi logistik.
“Transformasi Polantas harus bergerak dari pola kerja responsif menuju prediktif,” kata Kunto usai apel Hari Lalu Lintas Bhayangkara ke-71 di Mapolda Papua Tengah.
Menurutnya, keberhasilan Polantas tidak lagi cukup diukur dari banyaknya kegiatan atau penindakan yang dilakukan, tetapi dari perubahan yang dirasakan masyarakat.
“Ukuran keberhasilan kita bukan semata seberapa banyak kegiatan yang dilaksanakan, tetapi seberapa besar dampak yang dirasakan masyarakat,” ujarnya.
Ia menyebut dampak tersebut antara lain meningkatnya keselamatan, tumbuhnya kepatuhan masyarakat, membaiknya kualitas pelayanan, serta meningkatnya kepercayaan publik terhadap kepolisian.
Karena itu, personel lalu lintas diminta mampu membaca situasi dan mengambil langkah pencegahan sebelum persoalan berkembang menjadi kecelakaan atau gangguan keamanan dan ketertiban lalu lintas.
Ia mengatakan, penerapan pola prediktif perlu didukung kemitraan dengan berbagai kelompok pengguna jalan.
Pengemudi ojek daring, angkutan umum, angkutan barang dan logistik, komunitas otomotif, dunia pendidikan, serta masyarakat luas perlu dilibatkan dalam membangun keselamatan lalu lintas.
Ia juga meminta pemanfaatan teknologi dan data terus dikembangkan melalui digitalisasi pelayanan, pengembangan ETLE, modernisasi registrasi dan identifikasi kendaraan, serta integrasi sistem.
Kapolda Papua Tengah Brigjen Pol Jermias Rontini juga meminta personel tidak hanya hadir ketika terjadi masalah, tetapi mampu mencegah persoalan dan memberikan rasa aman kepada masyarakat.
“Masyarakat tidak hanya membutuhkan polisi yang hadir ketika terjadi masalah, tetapi membutuhkan polisi yang hadir untuk mencegah masalah dan memberikan rasa aman,” katanya.
Ia mengatakan pola kerja tersebut perlu disesuaikan dengan kondisi geografis dan karakteristik masyarakat Papua Tengah yang beragam sehingga pelayanan lalu lintas dapat menjawab kebutuhan setiap wilayah.
Namun, menurutnya, teknologi bukan tujuan akhir, melainkan alat untuk membuat pelayanan lebih mudah, cepat, transparan, dan semakin dekat dengan masyarakat.
Dalam penegakan hukum, ia meminta personel tidak menjadikan banyaknya penindakan sebagai ukuran keberhasilan. Penegakan hukum perlu berjalan bersama edukasi agar kepatuhan masyarakat tumbuh melalui pemahaman terhadap pentingnya keselamatan.
“Penegakan hukum harus berjalan beriringan dengan edukasi agar masyarakat tertib bukan hanya karena takut ditilang, tetapi karena memahami bahwa keselamatan merupakan tanggung jawab bersama,” ujarnya.
Pewarta: Ali Nur Ichsan
Editor : Evarianus Supar
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.