Perdana Menteri Singapura Beri Pesan Tegas ke Indonesia, Buntut Pasokan Gas Kena Pangkas
Senin, 26 Oktober 2026, 10:34 WIB
Warta Ekonomi, Jakarta -
Kebijakan Pemerintah Republik Indonesia untuk mengevaluasi dan memangkas aliran ekspor gas alam langsung memantik reaksi keras dari Singapura.
Perdana Menteri (PM) Singapura, Lawrence Wong mengirimkan pesan diplomasi yang sangat tegas menyikapi manuver kebijakan energi yang diambil oleh Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Investasi, Bahlil Lahadalia.
Baca Juga: Jawab Teka-teki Elite Politik, Ini Bocoran Ahmad Ali Soal Peluang Jokowi Turun Gunung Jadi Ketum PSI
Lawrence Wong memperingatkan agar segala bentuk kesepakatan komersial lintas negara harus dihormati tanpa adanya intervensi politik. Singapura selama ini diketahui sangat bergantung pada suplai gas dari Indonesia.
“Hari ini, sebagian besar listrik kita dihasilkan menggunakan gas alam. Kami mengimpor sejumlah besar gas ini melalui pipa-pipa dari Indonesia. Kemarin, Indonesia mengumumkan pemangkasan pasokan gas ke Singapura,” kata Lawrence Wong dikutip Senin (26/10/2026).
Menghadapi ancaman pemutusan pasokan energi yang sangat vital, ia menyoroti aspek legalitas dan integritas bisnis internasional. Ia memberikan sinyal kuat bahwa para importir gas di negaranya tidak akan tinggal diam jika terjadi wanprestasi atau pelanggaran kesepakatan distribusi. Menurutnya, pemutusan sepihak berisiko memicu langkah balasan secara hukum demi melindungi kepentingan korporasi dan ketahanan energi dari Singapura.
“Pasokan gas saat ini dilindungi oleh kontrak komersial. Kami berharap semua pihak menghormati komitmen mereka. Importir Singapura akan mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk melindungi hak dan kepentingan mereka berdasarkan kontrak-kontrak tersebut,” ujar Wong.
Sebelumnya, Menko Hilirisasi dan Investasi, Bahlil Lahadalia menyatakan akan mengevaluasi ekspor gas secara selektif. Kebijakan ini ditujukan kepada negara-negara yang dinilai tidak memberikan rasa hormat terhadap kedaulatan dari Indonesia.
“Saya akan melakukan evaluasi. Saya tidak segan-segan untuk mempertimbangkan untuk tidak melakukan ekspor kepada negara mereka yang tidak menghargai Indonesia,” kata Bahlil.
Bahlil mengaitkan kebijakan proteksionisme energi tersebut dengan muruah sejarah kemerdekaan bangsa. Ia menyindir keras sikap geopolitik negara tetangga yang dinilai bersikap superior, sembari membandingkan proses pencapaian kemerdekaan antarnegara.
Baca Juga: Rapor Merah Mahfud MD untuk Rezim Penguasa: Hukum Dibuat Sesukanya, Tak Ada Meaningful Participation
“Kemerdekaan bukan hasil pemberian. Kemerdekaan kita adalah kemerdekaan yang diperjuangkan berabad-abad. Banyak yang dibunuh, banyak yang disuruh kerja paksa, banyak yang dilakukan pemerkosaan. Kemerdekaan Indonesia diraih dengan darah, keringat, air mata, serta nyawa. Saya tidak ingin ada negara lain yang kemerdekaannya diberikan mau mencoba menganggap seolah-olah mereka yang paling hebat daripada negara yang lain,” tegas Bahlil.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Aldi Ginastiar
Editor: Aldi Ginastiar