Penjelasan Medis Kondisi Phantom Limb pada Pasien Amputasi

Daftar Isi

Jakarta -

Phantom limb merupakan fenomena yang umum dialami oleh sebagian besar pasien setelah menjalani amputasi. Meski anggota tubuh telah diangkat, banyak orang masih merasakan sensasi seolah-olah bagian tubuh tersebut masih ada. Mengapa hal ini bisa terjadi?

Apa Itu Phantom Limb?

Phantom limb adalah sensasi seolah-olah anggota tubuh yang telah diamputasi masih ada dan masih dapat dirasakan. Dikutip dari ScienceDirect, kondisi ini dialami oleh sekitar 90 persen orang yang menjalani amputasi.

Dikutip dari News Medical, sensasi phantom limb umumnya dirasakan selama beberapa hari atau beberapa minggu setelah amputasi. Namun, ada juga yang mengalaminya hingga bertahun-tahun setelah prosedur amputasi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Apa Penyebab Phantom Limb?

Selama beberapa dekade, teori yang banyak dipercaya menyebutkan bahwa amputasi memicu perubahan besar pada peta tubuh di otak. Area otak yang sebelumnya mewakili anggota tubuh yang hilang dipercaya akan diambil alih oleh bagian tubuh lain yang letaknya berdekatan.

Namun, dikutip dari laman Science Alert, sebuah studi yang dipublikasikan dalam Nature Neuroscience pada Agustus 2025 menemukan bahwa peta tubuh di otak tetap sangat stabil, bahkan bertahun-tahun setelah amputasi.

Untuk mengetahui apa yang terjadi pada otak setelah seseorang kehilangan anggota tubuh, para peneliti menggunakan pendekatan yang berbeda. Bekerja sama dengan ahli bedah National Health Service, mereka mengikuti tiga pasien dewasa yang akan menjalani amputasi lengan demi menyelamatkan nyawa akibat kondisi medis, seperti kanker atau gangguan aliran darah yang parah.

Otak para pasien dipindai menggunakan functional magnetic resonance imaging (fMRI) sebelum amputasi dan berulang kali setelah operasi, bahkan hingga lima tahun pada beberapa pasien.

Selama pemeriksaan fMRI, para pasien diminta menggerakkan berbagai bagian tubuh, seperti mengetukkan setiap jari tangan, menekuk jari kaki, atau mengerucutkan bibir. Cara ini memungkinkan peneliti memetakan aktivitas otak sekaligus menyusun peta tubuh di dalam otak.

Setelah amputasi, pemindaian kembali dilakukan. Kali ini, pasien diminta menggerakkan jari-jari tangan yang sudah tidak ada.

Gerakan ini bukan sekadar khayalan karena sebagian besar penyandang amputasi masih merasakan sensasi yang jelas pada anggota tubuh yang telah hilang. Hal ini memberi kesempatan kepada peneliti untuk membandingkan secara langsung peta tangan di otak sebelum dan sesudah amputasi pada orang yang sama.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada ketiga pasien, peta tangan di otak tetap hampir tidak berubah dan tidak diambil alih oleh bagian tubuh lain, seperti wajah. Stabilitas ini membantu menjelaskan mengapa banyak penyandang amputasi masih dapat merasakan anggota tubuh yang telah hilang dengan sangat jelas. Temuan ini menunjukkan bahwa peta tubuh di otak sebenarnya tidak mengalami kerusakan.

Seringkali phantom limb juga tak hanya menimbulkan sensasi yang biasa tapi juga menyakitkan, seperti rasa terbakar, tertusuk, atau gatal. Jadi, tindakan yang dilakukan bukanlah terapi yang bertujuan untuk memperbaiki peta otak yang dianggap rusak. Menurut penelitian ini, seharusnya dicari penyebab lain, misalnya saraf yang terputus selama operasi.

Cerita Pasien Mengalami Phantom Limb

Dikutip dari laman NBC News, pada tahun 2012, pasien berinisial "RN" yang saat itu berusia 57 tahun mengunjungi Pusat Otak dan Kognsi di California San Diego University. Dia mengalami sensasi terbakar yang terus menerus di tangan kanannya.

Padahal, tangannya sudah diamputasi sejak dia berusia 18 tahun, setelah kecelakaan mobil yang dia alami. Sebelum amputasi, tangan kanannya juga tidak memliki jari telunjuk sejak lahir.

Ketika itu tidak merasakan nyeri atau sensasi memiliki lima jari. Tapi, dia malah merasakan sensasi pada kelima jarinya setelah organ tersebut diamputasi.

(elk/kna)