Pengaruh Influencer Bikin Remaja Kalap Pakai Kosmetik dan Skincare? |Republika Online
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Remaja kini semakin akrab dengan berbagai produk skincare, make-up, atau perawatan diri lainnya. Namun, tren kecantikan yang berkembang masif di media sosial ternyata dapat mendorong penggunaan produk secara berlebihan pada kelompok remaja.
Kondisi itu berpotensi meningkatkan paparan bahan kimia yang bisa mengganggu sistem endokrin, yaitu sekumpulan kelenjar dan organ yang berfungsi memproduksi serta melepaskan hormon di dalam tubuh manusia. Hal itu merujuk pada studi yang dipublikasikan dalam Journal of Exposure Science & Environmental Epidemiology.
Untuk studi ini, peneliti melakukan survei terhadap 143 siswa di Princeton High School, New Jersey, untuk memahami pola penggunaan produk serta kaitannya dengan aktivitas mereka di media sosial. Hasil penelitian menunjukkan semakin sering remaja menonton konten seputar kecantikan di media sosial, semakin banyak pula produk skincare yang digunakan.
Setelah memperhitungkan jenis kelamin, kelas sosial, ras, etnis, serta tingkat pendidikan orang tua, peneliti mencatat siswa yang mengikuti beauty influencer menggunakan 30 persen lebih banyak produk. Sementara itu, siswa yang rutin menonton tutorial rambut atau kecantikan menggunakan 40 persen lebih banyak produk.
Peneliti studi dari Rutgers School of Public Health, Emily Barrett, mengatakan temuan ini menunjukkan dampak buruk dari sosial media terhadap kesehatan remaja. Bukan hanya kesehatan mental dan sosio-emosional yang terdampak, namun lebih dari itu.
"Studi ini menunjukkan adanya kekhawatiran lain, di mana media sosial dapat meningkatkan penggunaan produk skincare yang sering kali mengandung bahan kimia pengganggu hormon dan berpotensi menyebabkan kanker," kata Barrett dilansir laman Rutgers, Ahad (23/8/2026).
Produk yang diteliti mencakup sabun, pasta gigi, sampo, deodoran, tabir surya, produk perawatan kulit, parfum, dan kosmetik. Sejumlah produk tersebut mengandung ftalat, paraben, fenol, atau bahan kimia lain yang dapat memengaruhi sinyal hormon dan risiko kanker.