Pemkab Gunungkidul permudah pembayaran pajak melalui aplikasi Senapati

Pemkab Gunungkidul permudah pembayaran pajak melalui aplikasi Senapati

Kamis, 23 Juli 2026 21:58 WIB

Image Print

ilustrasi - Bupati Gunungkidul Endah Subekti Kuntariningsih memberikan arahan kepada seluruh pemangku kepentingan. ANTARA/HO-Pemkab Gunungkidul

Yogyakarta (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gunungkidul memperkenalkan inovasi digital Senapati atau Sistem Elektronifikasi Pembayaran Pajak Terintegrasi guna mempercepat transformasi digital serta mengoptimalkan penerimaan Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang hingga 21 Juli 2026 telah mencapai Rp214,9 miliar.

Kepala Badan Keuangan dan Aset Daerah (BKAD) Kabupaten Gunungkidul Putro Sapto Wahyono, di Gunungkidul, Kamis, mengatakan aplikasi Senapati mempermudah masyarakat dalam melakukan pembayaran pajak dan menjadi pilar baru pelayanan pajak daerah yang dirancang untuk memudahkan wajib pajak, salah satunya melalui fitur Surat Pemberitahuan Pajak (SPT) secara elektronik.

"Masyarakat atau wajib pajak tidak perlu lagi mencetak dokumen secara fisik," katanya.

Menurut dia aplikasi tersebut juga menjadi strategi untuk meningkatkan kepatuhan wajib pajak sebagai salah satu daya ungkit Pendapatan Asli Daerah (PAD).

"Dukungan sistem ini diperkuat oleh integrasi real time dengan core banking Bank BPD DIY yang memungkinkan setiap rupiah pendapatan daerah tercatat seketika, sehingga dapat memitigasi risiko anggaran," ujarnya.

Sementara itu, Bupati Gunungkidul Endah Subekti Kuntariningsih mengatakan Indeks Elektronifikasi Transaksi Pemerintah Daerah (IETPD) Gunungkidul telah mencapai 97 persen, yang menunjukkan kemajuan transformasi digital di daerah tersebut.

"Hingga 21 Juli 2026, realisasi PAD telah mencapai Rp214,9 miliar atau sekitar 59,62 persen dari target," katanya.

Ia menjelaskan implementasi digitalisasi juga terlihat signifikan di sektor pariwisata, terutama melalui penerapan pembayaran retribusi nontunai yang telah diberlakukan 100 persen di Tempat Pemungutan Retribusi (TPR) Utama Pantai Baron.

"Rasio transaksi nontunai meningkat dari 10,60 persen menjadi 35,81 persen dengan kenaikan pendapatan sebesar 159 persen di lokasi tersebut," ujarnya.

Endah mengakui proses transformasi digital masih menghadapi sejumlah kendala di antaranya, keterbatasan jaringan internet di beberapa wilayah serta tingkat literasi digital masyarakat yang masih perlu ditingkatkan.

"Kami telah berkoordinasi dengan Gubernur DIY untuk mengatasi kendala infrastruktur tersebut," katanya.

Ia menegaskan transformasi digital harus mampu menghadirkan pelayanan yang lebih mudah, cepat, dan transparan bagi masyarakat.

Sementara itu, Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Darmadi Sudibyo mengingatkan agar Pemkab Gunungkidul menjaga konsistensi dalam mengembangkan inovasi digitalisasi.

"BI mendorong penggunaan QRIS yang kini sudah dapat digunakan oleh wisatawan mancanegara dari enam negara, yakni Singapura, Thailand, Malaysia, Korea Selatan, Jepang, dan Filipina, untuk memudahkan transaksi di destinasi wisata Gunungkidul," katanya.

Pewarta : Agung Dwi Prakoso
Editor: Nur Istibsaroh
COPYRIGHT © ANTARA 2026