Pemkab Bantul menangani 55 hektare lahan pertanian yang terendam air

Pemkab Bantul menangani 55 hektare lahan pertanian yang terendam air

Rabu, 12 Agustus 2026 17:53 WIB

Image Print

Situasi puluhan hektare lahan pertanian yang terendam air di Kalurahan Srigading, Kapanewon Sanden, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Rabu (12/8/2026). ANTARA/Agung Dwi Prakoso

Yogyakarta (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), melalui Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) menangani genangan air yang merendam lahan pertanian seluas sekitar 55 hektare di Kapanewon Sanden dan Kretek dengan membuka aliran air yang tersumbat menggunakan alat berat.

Kepala DKPP Bantul Joko Waluyo di Bantul, Rabu, mengatakan lahan pertanian yang terendam berada di Kalurahan Srigading, Kapanewon Sanden, serta Kalurahan Tirtohargo, Kapanewon Kretek.

"Saya sudah ke sana, jadi ada di Srigading, Kapanewon Sanden dan di Tirtohargo, Kapanewon Kretek," katanya.

Ia merinci, di Srigading terdapat sekitar 20 hektare lahan pertanian yang ditanami padi. Sementara di Tirtohargo terdapat sekitar 30 hektare lahan padi dan lima hektare lahan bawang merah yang terendam air.

Menurut dia, kondisi tersebut terjadi berulang setiap tahun akibat aliran air menuju Sungai Opak tersumbat, ditambah tingginya gelombang air laut yang menyebabkan air tidak dapat mengalir ke muara.

"Sebenarnya rutin tiap tahun, gelombang tinggi dan buntu, jadi airnya tidak bisa mengalir ke muara Sungai Opak," ujarnya.

Setelah melakukan peninjauan, DKPP Bantul akan berupaya membuka aliran air yang tersumbat menggunakan alat berat apabila diperlukan agar genangan dapat segera ditangani.

"Saat ini menunggu backhoe untuk membuka aliran airnya," katanya.

Joko mengatakan pihaknya juga mengupayakan agar petani tidak mengalami gagal panen dengan mempertimbangkan karakteristik tanaman yang terdampak genangan. Menurut dia, tanaman padi masih dapat beradaptasi dengan kondisi air yang banyak.

"Kalau tanaman padi jelas aman, tapi ya semoga cepat surut juga. Kalau untuk tanaman bawang merah, sebenarnya kalau tidak lama terendam air juga tidak apa-apa," katanya.

Salah seorang petani terdampak, Darman (70), mengatakan genangan air di lahannya mulai terjadi sejak Selasa (11/8) akibat gelombang tinggi dan luapan Sungai Opak yang masuk ke lahan pertanian.

"Terendam ini karena aliran di muara (Sungai) Opak kebumpetan (tersumbat)," ujarnya.

Sebagai upaya awal, Darman melakukan penyedotan air secara mandiri menggunakan mesin penyedot bertenaga diesel. Namun, upaya tersebut membutuhkan waktu karena volume air yang menggenangi lahan cukup banyak.

"Ini baru saya sedot airnya, sejak pagi sampai siang tadi belum selesai-selesai. Sudah habis lima liter BBM saya," katanya.

Darman berharap genangan air segera tertangani sehingga tanaman dapat diselamatkan dan petani tidak mengalami kerugian akibat gagal panen.

"Ya semoga airnya bisa segera surut biar tanamannya bisa panen," ucapnya.

Pewarta : Agung Dwi Prakoso
Editor: Hery Sidik
COPYRIGHT © ANTARA 2026