◐

Para tokoh apresiasi buku Dadang Kahmad, soroti masa depan agama dan peran strategis Muhammadiyah

“Saya mengapresiasi kehadiran buku beliau ini karena mencerminkan refleksi dan kedalaman pemikiran beliau, khususnya dalam melihat dinamika Muhammadiyah dan tantangan zaman,”

Bandung (ANTARA) - Sejumlah tokoh mengapresiasi peluncuran buku Muhammadiyah dan Masa Depan Agama karya Dadang Kahmad, Guru Besar Sosiologi Agama UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Peluncuran buku berlangsung di Universitas Muhammadiyah Bandung (UMB), Senin (5/10), bertepatan dengan Milad ke-74 Dadang Kahmad.

Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir menilai buku tersebut relevan dengan tantangan kehidupan beragama di tengah masyarakat modern. Menurutnya, agama harus tetap hadir sebagai sumber nilai, menjadi “kanopi suci” di tengah kegersangan rohani, menjangkau generasi muda, serta mampu memberikan solusi atas persoalan masyarakat.

Haedar menegaskan bahwa Muhammadiyah harus terus menghadirkan agama sebagai kekuatan yang memajukan dan menyejahterakan. “Muhammadiyah harus hadir sebagai kekuatan solutif, termasuk di Jawa Barat,” ujarnya.

Ia juga mendorong Muhammadiyah untuk memperkuat perspektif future studies agar mampu membaca perubahan dan mempersiapkan masa depan. Bagi Haedar, agama tidak cukup berhenti pada wacana, tetapi harus tercermin dalam perilaku sosial dan kerja nyata.

Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Fajar Riza Ul Haq melalui tayangan video turut mengapresiasi karya Dadang. Fajar mengenalnya sebagai akademisi, sosiolog, dan intelektual Muhammadiyah dari Jawa Barat yang memahami denyut kehidupan agama di tengah masyarakat Indonesia. 

“Saya mengapresiasi kehadiran buku beliau ini karena mencerminkan refleksi dan kedalaman pemikiran beliau, khususnya dalam melihat dinamika Muhammadiyah dan tantangan zaman,” ujar Fajar yang juga merupakan Ketua Lembaga Kajian dan Kemitraan Strategis PP Muhammadiyah.

Fajar juga menilai buku tersebut sebagai kontribusi penting bagi dunia akademik, khususnya studi sosiologi agama yang bersinggungan dengan kehidupan kemasyarakatan dan keumatan. 

Pandangan tentang pentingnya membaca tantangan zaman tersebut sejalan dengan semangat Muhammadiyah Jawa Barat. Ketua PWM Jawa Barat menyampaikan bahwa gagasan dalam buku Dadang sejalan dengan visi Muhammadiyah Jawa Barat dalam mempersiapkan Persyarikatan menghadapi masa depan dan memastikan kehadirannya tetap relevan bagi masyarakat.

Apresiasi juga datang dari kalangan akademik. Rektor UIN Sunan Gunung Djati Bandung Rosihon Anwar menyebut Dadang bukan hanya sebagai guru, tetapi juga sosok orang tua yang telah memberi kontribusi besar bagi UIN Bandung.

“Bagi saya, Pak Dadang Kahmad bukan hanya guru, tetapi juga orang tua. Beliau sangat berkontribusi bagi UIN Bandung,” ujar Rosihon.

Rosihon juga mengapresiasi pemikiran Dadang, termasuk dalam kajian Islam perkotaan, serta mendoakan agar Dadang diberikan umur panjang dan keberkahan.

Sebagai penulis buku, Dadang Kahmad mengatakan bahwa Muhammadiyah dan Masa Depan Agama lahir dari refleksinya selama bertahun-tahun mengenai Muhammadiyah dan perubahan zaman. Menurutnya, jika pada masa Kiai Ahmad Dahlan tantangan utama adalah kemiskinan dan kebodohan fisik, kini masyarakat juga menghadapi “kemiskinan makna” di tengah kelimpahan materi serta “kebodohan digital” di tengah banjir informasi.

Di tengah era disrupsi dan perkembangan kecerdasan buatan, Dadang mengajak Muhammadiyah kembali pada akar tajdid dan terus berdialog dengan perkembangan zaman.

“Kekuatan Muhammadiyah bukan terletak pada besarnya aset fisik yang dimilikinya, melainkan pada kelenturan ideologisnya dalam berdialog dengan zaman tanpa kehilangan jati diri keislamannya,” tulis Dadang dalam bukunya.

Pewarta : Ady Ardiansah
Editor: Agus Setiawan
COPYRIGHT © ANTARA 2026