Pakar Bisa Ular: Turis Asing Lebih Siap Hadapi Gigitan Ular daripada Wisatawan Lokal
Jakarta -
Gigitan ular berbisa bisa terjadi kapan saja saat berwisata, terutama di destinasi alam seperti gunung, hutan, kawasan candi, hingga resor yang berada di dekat vegetasi. Namun, menurut dokter spesialis gawat darurat RS Permata dan toksinologi Dr. dr. Tri Maharani, M.Si., Sp.Em., Sub.Sp.Tok(K), ada perbedaan mencolok antara wisatawan asing dan wisatawan Indonesia ketika menghadapi kondisi darurat tersebut.
Berdasarkan pengalamannya menangani ratusan kasus gigitan ular, Tri mengaku justru lebih sering menerima konsultasi dari wisatawan mancanegara.
"Yang menghubungi saya lebih banyak turis asing dibanding orang Indonesia," kata Maha, sapaan karib Tri Maharani, kepada detikTravel.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, wisatawan asing umumnya telah mencari informasi mengenai risiko kesehatan sebelum berangkat ke Indonesia. Bahkan, sejumlah biro perjalanan di Eropa menyertakan nomor kontak Maha sebagai rujukan apabila wisatawan mengalami gigitan ular atau sengatan hewan berbisa selama berlibur.
Saat ini Maha merupakan dokter spesialis kedokteran emergensi (Emergency Medicine) dengan subspesialisasi atau keahlian khusus di bidang toksinologi, yakni ilmu tentang efek berbahaya dari bahan kimia, zat, atau agen lingkungan terhadap sistem kehidupan. Permepuan asal Kediri itu merupakan advisor World Health Organization (WHO) untuk kasus gigitan ular yang pernah terlibat dalam pembuatan panduan Management of Snakebites.
Maha juga merupakan ketua kajian gigitan hewan berbisa dan tanaman beracun di Kementerian Kesehatan. Dia membuat dan mengelola langsung aplikasi pertolongan gawat darurat, termasuk pertolongan untuk siapapun yang diserang ular.
"Mereka sudah tahu harus menghubungi siapa kalau terjadi keadaan darurat," ujar dia.
Sebaliknya, banyak wisatawan domestik baru mencari informasi setelah insiden terjadi.
Maha mengatakan wisatawan asing umumnya tidak menghabiskan waktu untuk menebak jenis ular yang menggigit mereka. Yang mereka lakukan adalah menghubungi tenaga kesehatan dan mengikuti instruksi pertolongan pertama.
Menurutnya, cara tersebut jauh lebih tepat dibanding mencoba mengenali apakah ular itu berbisa atau tidak.
"Anggap saja semua ular berbisa. Yang penting segera lakukan pertolongan pertama dan ke fasilitas kesehatan," kata Maha.
Keselamatan Harus Jadi Bagian dari Perjalanan
Maha berpendapat secara umum budaya keselamatan (travel safety culture) masih perlu dibangun di kalangan wisatawan Indonesia. Dia menyarankan siapa pun yang akan berwisata ke alam terbuka mencari informasi mengenai potensi bahaya di lokasi tujuan, menyimpan nomor darurat, serta mengetahui rumah sakit rujukan terdekat.
"Persiapan itu sama pentingnya dengan menyiapkan tiket dan penginapan," kata dia.
Menurut Maha, wisata yang aman bukan berarti bebas risiko, tetapi wisata yang didukung kesiapan menghadapi keadaan darurat.
"Kalau wisatawan siap, mereka tidak akan panik ketika menghadapi situasi darurat," kata dia.
(fem/ddn)