Pabowat Adji: Ketika Pekerjaan Menjadi Identitas di Kesultanan Sumbawa
Dengan kata lain, pabowat adji mungkin telah hilang sebagai institusi. Namun, cara pandang yang melahirkannya belum tentu ikut lenyap. Kesadaran akan perbedaan status antarkelompok, serta kebutuhan untuk terus menegosiasikan dan menegaskan batas-bata
Mataram (ANTARA) - Ada pertanyaan sederhana yang jarang kita ajukan tentang Kesultanan Sumbawa di masa lalunya: siapa sebenarnya yang memotong rumput untuk kuda-kuda Sultan? Siapa yang membangun kembali istana ketika terbakar? Siapa yang menumbuk padi untuk dapur keraton setiap harinya?
Pertanyaan-pertanyaan semacam itu terdengar terlalu teknis untuk sebuah pembahasan sejarah. Namun jawabannya ternyata membuka sesuatu yang jauh lebih penting yakni sebuah sistem sosial yang selama berabad-abad mengorganisasikan tenaga kerja, identitas, dan loyalitas politik orang Sumbawa di bawah satu atap kekuasaan.
Sistem itu disebut pabowat adji.
Sebelum melangkah lebih jauh, ada hal penting yang perlu disampaikan di depan. Seluruh deskripsi, nama kelompok, rincian tugas, dan analisis tentang pabowat adji dalam tulisan ini bersumber sepenuhnya dari dua karya akademis: disertasi doktoral Gerrit Kuperus, Het Cultuurlandschap van West-Soembawa (Universitas Utrecht, 1936), dan artikel Peter R. Goethals, "Task Groups and Marriage in Western Sumbawa" (American Ethnological Society, 1959). Kedua karya itu sendiri sebagian besar bertumpu pada catatan lapangan pejabat kolonial Belanda A. Ligtvoet dari kunjungannya ke Kesultanan Sumbawa pada 1876 (baca terjemahannya oleh Poetra Adi Soerjo berjudul Sumbawa Tahun 1876 (catatan tentang pemerintahan, ekonomi dan etnografi Kesultanan Sumbawa).
Ini berarti gambaran yang disajikan di sini adalah gambaran sebagaimana yang dilihat dan dicatat oleh pengamat dari luar. Mungkin ada aspek-aspek dari sistem pabowat adji yang tidak tertangkap, atau tertangkap dengan sudut pandang yang berbeda dari cara orang Sumbawa sendiri memahami dan mengingat sistem itu. Para ahli sejarah lokal, tetua adat, dan pengetahuan yang hidup dalam masyarakat Sumbawa mungkin menyimpan versi yang berbeda. Versi-versi itu sama validnya, bahkan mungkin lebih kaya dari apa yang tersimpan dalam arsip akademik.
Tulisan ini juga mempertahankan penulisan asli dari Kuperus maupun Goethals untuk istilah-istilah lokal maupun Bahasa Belanda. Selain itu, penulisan dipertahankan dalam bentuk penulisan ejaan lama.
Tulisan ini tidak bermaksud menjadi kata akhir tentang pabowat adji. Ia justru ingin membuka percakapan: menawarkan apa yang tersimpan dalam dua sumber akademis itu kepada khalayak yang lebih luas, sebagai titik tolak untuk penelitian dan diskusi yang lebih dalam.
Apa itu Pabowat Adji
Dalam bahasa Sumbawa, rabowat berarti bekerja, dan adji berarti raja atau penguasa. Pabowat adji dengan demikian berarti, secara sangat harfiah, kewajiban bekerja untuk raja.
Namun ini bukan sekadar kerja paksa biasa. Yang membuat sistem ini unik adalah sifatnya yang herediter, diwariskan dari orang tua kepada anak, lintas generasi, tanpa memandang di mana seseorang tinggal. Seorang anak yang lahir dari keluarga tertentu otomatis mewarisi kewajiban kerja yang sama dengan orang tuanya, bahkan jika ia kemudian pindah ke desa lain yang jauh dari ibu kota.
Pejabat kolonial Belanda bernama A. Ligtvoet yang mengunjungi Kesultanan Sumbawa pada 1876 adalah orang pertama yang mendokumentasikan sistem ini secara sistematis. Enam puluh tahun kemudian, sarjana Belanda Gerrit Kuperus dalam disertasi doktoralnya di Universitas Utrecht, Het Cultuurlandschap van West-Soembawa (1936), mengolah catatan Ligtvoet dan menambahkan pengamatannya sendiri dari kunjungan lapangan 1931–1932 menjadi gambaran yang jauh lebih lengkap.
Deskripsi Kuperus itulah yang hingga hari ini tetap menjadi sumber paling terperinci tentang bagaimana pabowat adji bekerja dari dalam.
Dua Kelas, Lima Kelompok
Sistem pabowat adji membagi rakyat jelata Sumbawa ke dalam dua kelas besar yang memiliki kedudukan, kewajiban, dan asal-usul yang berbeda.
Kelas pertama adalah Taoe Djoeran. Kelompok ini menempati posisi lebih tinggi dalam hierarki rakyat jelata. Mereka membayar pajak lebih besar, tetapi menanggung lebih sedikit kewajiban kerja fisik. Kuperus dan sumber-sumber kolonial menyebut Taoe Djoeran kemungkinan besar merupakan keturunan imigran dari Sulawesi Selatan. Kedatangan mereka berkaitan dengan masuknya pengaruh Makassar pada awal abad ke-17. Pada mulanya mereka tidak memiliki hak atas tanah. Mereka tinggal di dalam tembok Kota Sumbawa Besar. Tugas utama mereka adalah mengerjakan sawah-sawah Sultan. Mereka mengolah, menanam, dan memanen lahan tersebut. Dalam bahasa Sumbawa, sawah-sawah itu disebut oema-adji atau sawah raja. Mereka menjalankan seluruh pekerjaan itu tanpa menerima upah, bahkan tanpa memperoleh makanan selama bekerja. Siapa pun yang tidak memenuhi panggilan kerja dikenai denda.
Kelas kedua adalah Taoe Kamoetar. Kelompok ini menempati posisi lebih rendah dalam hierarki rakyat jelata. Mereka membayar pajak lebih kecil, tetapi memikul lebih banyak kewajiban kerja dalam bentuk heerendiensten (kerja wajib). Kuperus menyimpulkan bahwa Taoe Kamoetar kemungkinan besar merupakan penduduk asli Sumbawa yang telah mendiami wilayah ini sebelum datangnya pengaruh Makassar. Tiga wilayah bawahan Kesultanan Sumbawa bahkan menyandang nama yang mencerminkan asal-usul tersebut, yaitu Talloe Kamoetar atau "tiga negeri kamoetar".
Taoe Kamoetar menjadi kelompok yang paling menarik untuk diperhatikan. Mereka terbagi ke dalam lima roewe. Setiap roewe merupakan kelompok fungsional dengan tugas yang berbeda-beda.
Roewe Bone menyediakan pelayan perempuan bagi para perempuan dan putri Sultan. Nama "Bone" berasal dari istilah Makassar bone-balla. Secara harfiah istilah itu berarti "isi rumah". Dalam konteks ini, maknanya merujuk pada para pelayan perempuan di lingkungan istana.
Roewe Djowa menyediakan para pengikut laki-laki Sultan. Anggota yang termuda bertugas membawa berbagai pusaka kerajaan, seperti ketel kerajaan, tombak, dan kotak sirih. Anggota lainnya berjalan di belakang Sultan sebagai pengawal. Mereka membawa tombak sebagai lambang tugas dan kedudukannya.
Roewe Toewan menyediakan ibu susu bagi anak dan cucu Sultan. Dalam bahasa Sumbawa, toewan berarti ibu susu. Istilah ini tidak berhubungan dengan kata Melayu tuan.
Roewe Tanoema menyediakan para pengasuh bagi anak-anak keturunan Sultan.
Kelompok kelima menjadi fokus utama tulisan ini. Kelompok itu adalah Roewe Taoe Rabowat Adji. Tugas mereka adalah melakukan berbagai pekerjaan fisik di lingkungan istana dan untuk kepentingan Sultan. Kuperus mencatat tugas-tugas mereka secara sangat rinci. Orang-orang dari Ropang berkewajiban membangun kembali istana apabila terbakar atau roboh. Orang-orang dari Lopok bertanggung jawab mengurus dapur istana. Kelompok lain memotong rumput untuk kuda-kuda Sultan. Kelompok lainnya menumbuk padi untuk kebutuhan keraton. Untuk setiap jenis pekerjaan itu selalu ada perwakilan yang bertugas di ibu kota. Mereka bekerja secara bergiliran. Pergantian biasanya dilakukan setiap bulan.
Ornament dan Akar Kekuasaan
Untuk memahami mengapa sistem pabowat adji dapat bertahan selama berabad-abad, kita perlu melihat dasar kekuasaan yang menopangnya. Kuperus menjelaskan dasar itu melalui sebuah konsep yang ia sebut ornamentschap. Istilah ini bukan berasal dari bahasa Sumbawa. Kuperus menggunakannya sebagai konsep analitis untuk menjelaskan suatu bentuk organisasi kekuasaan yang bertumpu pada kepemilikan benda pusaka sakral.
Dalam tradisi Sumbawa, benda pusaka sakral itu disebut aradjang. Menurut Kuperus, aradjang bukan sekadar benda pusaka. Masyarakat memandangnya sebagai sumber kekuatan supranatural. Orang yang memiliki atau menjaga aradjang dipercaya sekaligus menjadi penjaga kekuatan tersebut. Kepercayaan itulah yang memberinya kewibawaan dan hak untuk memimpin kelompok yang berkumpul di sekelilingnya.
Kedudukan itu juga membawa hak-hak tertentu. Masyarakat menyediakan sawah-sawah khusus untuk memenuhi kebutuhan hidup pemegang aradjang. Sawah-sawah itu dikenal sebagai oema-adji atau sawah raja. Setiap tahun sawah tersebut dikerjakan melalui sistem pabowat adji. Beberapa kawasan hutan juga ditetapkan sebagai sumber kayu untuk membangun dan memperbaiki rumah pemegang aradjang. Dengan demikian, pabowat adji bukan sekadar kewajiban kerja. Sistem ini merupakan bagian dari institusi yang menopang kedudukan seorang penguasa.
Dalam konteks Kesultanan Sumbawa, Sultan merupakan satu-satunya pemegang aradjang yang diakui. Karena itu, hanya Sultan yang berhak menerima seluruh layanan yang menyertai kedudukan tersebut. Berbagai kelompok roewe menjalankan kewajiban mereka sebagai bagian dari sistem itu.
Kuperus juga berpendapat bahwa institusi ini bukan berasal dari Sumbawa. Ia membandingkannya dengan sistem toemakadjannangang di Kerajaan Gowa, Sulawesi Selatan. Dalam sistem tersebut, masyarakat dibagi ke dalam kelompok-kelompok kerja yang masing-masing memiliki fungsi tertentu di bawah seorang pemimpin. Menurut Kuperus, pola organisasi seperti inilah yang kemudian dibawa ke Sumbawa bersama ekspansi Makassar pada awal abad ke-17. Bersamaan dengan masuknya Islam dan berbagai pengaruh budaya lainnya, berkembang pula cara baru mengorganisasikan tenaga kerja. Dalam sistem ini, kewajiban bekerja melekat pada identitas kelompok dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Perspektif Antropologi: Task Group sebagai Fenomena Universal
Apa yang Kuperus dokumentasikan di Sumbawa, dan yang kemudian dielaborasi oleh antropolog Amerika Peter R. Goethals dalam artikelnya "Task Groups and Marriage in Western Sumbawa" (1959), sesungguhnya merupakan varian dari fenomena yang dijumpai oleh para antropolog di banyak masyarakat berbasis kerajaan di seluruh dunia.
Dalam antropologi, kelompok seperti Roewe Taoe Rabowat Adji disebut task group. Keanggotaan kelompok ini ditentukan oleh jenis pekerjaan yang diwariskan. Identitas anggotanya juga melekat pada pekerjaan tersebut. Dengan demikian, task group berbeda dari kelompok kekerabatan yang terbentuk karena hubungan darah. Task group juga berbeda dari kelompok teritorial yang terbentuk karena tinggal di wilayah yang sama.
Fenomena serupa dapat ditemukan di berbagai tempat. Di Jepang feodal terdapat kelompok burakumin yang secara turun-temurun menjalankan pekerjaan yang dianggap tercemar secara ritual. Di India, sistem kasta membagi masyarakat berdasarkan spesialisasi pekerjaan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Di lingkungan keraton Jawa terdapat kelompok-kelompok abdi dalem dengan fungsi yang sangat khusus. Di Sulawesi Selatan berkembang sistem toemakadjannangang. Menurut Kuperus, sistem inilah yang menjadi model bagi organisasi kerja di Sumbawa.
Namun, Sumbawa memiliki satu ciri yang berbeda. Di sini, task group berinteraksi dengan sistem kekerabatan bilateral. Goethals menunjukkan bahwa perkawinan antara anggota dari roewe yang berbeda melahirkan pola pewarisan yang unik. Ia menyebutnya intertask group marriage. Dalam pola ini, anak pertama mengikuti roewe ayah. Anak kedua mengikuti roewe ibu. Anak ketiga kembali mengikuti roewe ayah. Pola itu terus berulang pada anak-anak berikutnya. Goethals menyebut mekanisme ini sebagai alternate affiliation atau afiliasi bergantian. Menurutnya, sistem tersebut merupakan konsekuensi langsung dari cara kerja pabowat adji.
Dengan demikian, identitas seseorang di Sumbawa masa lalu tidak hanya ditentukan oleh keluarga tempat ia dilahirkan atau desa tempat ia tinggal. Identitas itu juga ditentukan oleh roewe yang diwarisinya. Bersamaan dengan itu, ia mewarisi kewajiban kerja yang melekat pada roewe tersebut.
Tambora dan Krisis Task Group
Sistem yang tampak kokoh ini menghadapi ujian terbesarnya pada April 1815. Saat itu Gunung Tambora meletus. Letusan tersebut merupakan bencana vulkanik terbesar dalam sejarah manusia yang pernah tercatat.
Lebih dari 60 persen penduduk Pulau Sumbawa meninggal atau menghilang akibat bencana itu. Letusan Tambora juga menghancurkan fondasi ekonomi kesultanan. Sawah-sawah beririgasi di dataran rendah tertimbun abu vulkanik. Sebagian besar tenaga kerja yang selama ini menopang kehidupan kesultanan lenyap dalam waktu singkat.
Goethals mencatat bahwa bencana ini mengubah keseimbangan kekuasaan di Sumbawa. Para pemimpin lokal kehilangan sebagian besar sumber daya mereka. Datu Semawa juga mengalami keadaan yang sama. Untuk pertama kalinya, hampir semua elite lokal berada dalam kondisi ekonomi yang relatif setara.
Namun muncul persoalan yang jauh lebih mendasar. Sistem pabowat adji tidak mungkin berjalan tanpa tenaga kerja. Sawah-sawah Sultan tetap harus digarap. Istana tetap harus dipelihara. Berbagai pelayanan kepada penguasa juga harus terus berlangsung. Sementara itu, orang-orang yang selama ini menjalankan kewajiban tersebut telah banyak yang meninggal.
Menurut Goethals, jalan keluarnya adalah mendatangkan penduduk baru dari Sulawesi Selatan. Sebagian besar datang sebagai pekerja terikat atau dalam kedudukan yang menyerupai hamba. Mereka kemudian dimasukkan ke dalam berbagai task group. Dengan cara itu, pabowat adji tidak hanya mampu bertahan setelah Tambora. Sistem ini juga menjadi sarana untuk mengintegrasikan para pendatang baru ke dalam struktur sosial dan politik Kesultanan Sumbawa.
Namun Kuperus mengingatkan bahwa pabowat adji jauh lebih tua daripada bencana Tambora. Ia mengutip catatan Ligtvoet yang menyebut bahwa sistem tersebut sudah ada sebelum tahun 1815. Bahkan beberapa roewe hilang akibat letusan itu. Salah satunya adalah kelompok pembuat arang Sultan. Dengan demikian, Tambora bukanlah awal dari pabowat adji. Bencana itu justru menjadi ujian terbesar dalam sejarahnya. Sistem tersebut hampir runtuh, tetapi kemudian beradaptasi dengan keadaan baru dan terus bertahan dalam bentuk yang berbeda.
Yang Masih Terasa Hari Ini
Sistem pabowat adji mulai melemah setelah Belanda menerapkan pemerintahan tidak langsung (indirect rule) di Sumbawa pada tahun 1906. Kebijakan itu mengubah struktur pemerintahan kesultanan secara mendasar. Bersamaan dengan itu, sistem kewajiban tradisional juga mulai kehilangan fungsinya. Pendudukan Jepang pada 1942–1945 kemudian menjadi pukulan terakhir. Pada masa itu, sisa-sisa pabowat adji praktis menghilang.
Ketika Goethals melakukan penelitian lapangan di Desa Rarak pada pertengahan 1950-an, sistem itu pada dasarnya sudah tidak berfungsi lagi. Hanya sebagian orang tua yang masih mengingat apakah orang tua mereka dahulu menikah dengan anggota roewe yang sama atau berbeda. Mereka juga masih mengingat bagaimana kewajiban task group dahulu diwariskan di antara saudara-saudara mereka. Namun, di kalangan generasi muda, hampir semua rincian sistem lama itu telah dilupakan.
Akan tetapi, Goethals mengajukan pertanyaan yang lebih menarik. Apakah yang benar-benar hilang hanyalah institusinya? Ataukah logika sosial yang melahirkannya masih tetap bertahan?
Goethals kemudian mengemukakan sebuah hipotesis yang menarik. Ia mengamati bahwa negosiasi perkawinan di desa-desa Sumbawa pada tahun 1956 masih mengikuti pola yang sangat khas. Pembagian biaya pesta, misalnya, harus benar-benar seimbang antara kedua belah pihak. Perbedaan kontribusi sekecil apa pun dapat memicu ketegangan. Bahkan, ketidakmampuan memenuhi kewajiban sering menjadi alasan untuk mempermalukan pihak lain di depan masyarakat. Menurut Goethals, pola-pola tersebut memiliki kesamaan fungsi dengan sistem afiliasi bergantian yang dahulu mengatur perkawinan antarroewe. Dalam kedua sistem itu, perkawinan menjadi arena untuk menegaskan hubungan, kesetaraan, dan perbedaan status antara dua kelompok keluarga. Bentuknya berubah, tetapi logikanya tetap bertahan.
Dengan kata lain, pabowat adji mungkin telah hilang sebagai institusi. Namun, cara pandang yang melahirkannya belum tentu ikut lenyap. Kesadaran akan perbedaan status antarkelompok, serta kebutuhan untuk terus menegosiasikan dan menegaskan batas-batas sosial, tampaknya bertahan jauh lebih lama daripada sistem yang pernah mengaturnya.
Mengapa Ini Penting
Mengapa pabowat adji masih layak dipahami hari ini?
Pertama, sistem ini menunjukkan bagaimana kekuasaan bekerja di Kesultanan Sumbawa. Kekuasaan tidak hanya dijalankan melalui hukum atau birokrasi. Kekuasaan juga dibangun melalui pembagian kerja yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Kewajiban bekerja menjadi bagian dari identitas sosial setiap orang.
Kedua, pabowat adji memperlihatkan bahwa Sumbawa tidak pernah berdiri di luar jaringan sosial dan politik Asia Tenggara maritim. Pengaruh Gowa membawa sistem toemakadjannangang ke Sumbawa. Pengaruh itu kemudian berinteraksi dengan kondisi lokal dan melahirkan bentuk organisasi sosial yang khas.
Ketiga, pabowat adji mengingatkan kita bahwa sejarah kesultanan bukan hanya sejarah para sultan. Sejarah itu juga dibangun oleh orang-orang biasa yang menjalankan tugas-tugas sehari-hari. Ada orang-orang Ropang yang membangun kembali istana ketika roboh. Ada orang-orang Lopok yang mengurus dapur keraton. Ada perempuan Bone yang melayani para putri Sultan. Ada para pengikut Djowa yang mengawal penguasa dalam setiap perjalanan.
COPYRIGHT © ANTARA 2026