Ngutang Terus, Sebenarnya Berapa Sih Pendapatan Amerika Serikat?

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia

11 September 2026 13:35

Jakarta, CNBC Indonesia - Kondisi fiskal Amerika Serikat (AS) saat ini tengah menjadi perhatian banyak pihak.

Utang pemerintah AS terus menumpuk dan telah menembus US$40 triliun atau sekitar Rp 704.000 triliun (US$1= Rp 17.500) pada Agustus 2026. Pada saat yang sama, defisit anggarannya diproyeksikan mendekati 6% dari produk domestik bruto (PDB).

Besarnya utang dan defisit tersebut memperlihatkan bahwa pengeluaran pemerintah AS jauh lebih besar dibandingkan kemampuannya mengumpulkan pendapatan.

Di tengah kondisi tersebut, Presiden Donald Trump justru menjanjikan "dividen Trump" sebesar US$5.000 sekitar Ro 88 juta kepada setiap warga dewasa apabila Partai Republik mempertahankan kendali Kongres dalam pemilu sela November 2026.

Program tersebut diperkirakan membutuhkan dana sekitar US$1,35 triliun, sementara sumber pendanaan dan mekanisme pelaksanaannya belum dijelaskan.

Janji tersebut semakin memunculkan pertanyaan mengenai kemampuan keuangan pemerintah AS.

Lalu, dari mana pemerintah AS mendapatkan uang untuk membiayai berbagai pengeluarannya setiap tahun?

Berdasarkan data Bureau of Economic Analysis (BEA), sumber pendapatan pemerintah AS paling besar berasal dari pajak penghasilan individu. Kontribusinya mencapai 35,8% dari seluruh penerimaan pemerintah pada kuartal II-2026.

Sumber terbesar berikutnya adalah pajak atas produksi dan impor dengan porsi 26%, disusul kontribusi jaminan sosial sebesar 23,1%.

Sementara itu, pajak penghasilan perusahaan hanya menyumbang sekitar 9,7%. Sisanya berasal dari penerimaan transfer, pendapatan atas aset, serta pajak yang dibayarkan pihak dari luar AS.

Secara keseluruhan, penerimaan berjalan pemerintah AS mencapai US$9,12 triliun atau sekitar Rp 160.512 triliun pada kuartal II-2026. Jumlah tersebut meningkat 6,7% dibandingkan kuartal II-2025 yang sebesar US$8,55 triliun.

Namun, jumlah tersebut masih lebih rendah dibandingkan pengeluaran berjalan pemerintah AS yang mencapai US$11,16 triliun pada periode yang sama, sehingga terdapat selisih sekitar US$2,04 triliun.

Pendapatan pemerintah juga meningkat dibandingkan kuartal I-2026 yang tercatat sebesar US$8,94 triliun. Secara kuartalan, kenaikannya mencapai sekitar 2%.

Sebagai cetatan, BEA menghitungnya menggunakan metode seasonally adjusted annual rates (SAAR) atau laju tahunan yang telah disesuaikan dengan faktor musiman. Angka setiap kuartal menggambarkan perkiraan penerimaan selama setahun apabila laju pada kuartal tersebut berlanjut.

Data ini juga memakai harga berlaku atau current dollars. Dengan demikian, nilainya masih dipengaruhi perubahan harga dan belum disesuaikan dengan inflasi.

Pajak Penghasilan Individu

Pajak penghasilan individu menjadi kantong pemasukan terbesar pemerintah AS. Jenis pajak ini mencakup pembayaran pajak atas pendapatan masyarakat, termasuk keuntungan modal yang telah direalisasikan, setelah dikurangi pengembalian pajak.

Nilainya mencapai US$3,26 triliun pada kuartal II-2026 atau setara dengan 35,8% dari seluruh pendapatan pemerintah.

Meski menjadi penyumbang terbesar, kenaikannya terbilang terbatas. Penerimaan dari pajak individu hanya tumbuh 2% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Pajak Produksi dan Impor

Sumber terbesar kedua adalah pajak atas produksi dan impor. Pos ini mencakup berbagai pungutan yang berkaitan dengan kegiatan produksi, penjualan barang dan jasa, serta barang yang masuk dari luar negeri.

Penerimaan dari pos tersebut mencapai US$2,37 triliun atau menyumbang sekitar 26% dari total pendapatan. Dibandingkan kuartal II-2025, nilainya meningkat 7,7%.

Besarnya kontribusi pos ini menunjukkan bahwa pemerintah AS tidak hanya mengandalkan pajak atas pendapatan. Aktivitas produksi, perdagangan, dan konsumsi juga menjadi sumber pemasukan yang besar.

Kontribusi Jaminan Sosial

Kantong terbesar berikutnya berasal dari kontribusi jaminan sosial. Dana ini terutama dikumpulkan melalui iuran yang dibayarkan pekerja dan pemberi kerja untuk membiayai program seperti Social Security dan Medicare.

Penerimaannya mencapai US$2,11 triliun pada kuartal II-2026 atau sekitar 23,1% dari total pendapatan pemerintah. Jumlah tersebut meningkat 4,7% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Jika pajak penghasilan individu dan kontribusi jaminan sosial digabungkan, keduanya menyumbang hampir 59% dari seluruh pendapatan pemerintah AS. Hal ini menunjukkan besarnya peran masyarakat dan pekerja dalam menopang keuangan pemerintah.

Pajak Penghasilan Perusahaan

Pajak perusahaan memang bukan menjadi sumber pendapatan yang terbesar. Namun, berhasil mencatatkan pertumbuhan paling tinggi pada kuartal II-2026.

Penerimaannya melonjak 35,9% secara tahunan menjadi US$886,7 miliar. Dengan kenaikan sebesar US$234 miliar, pajak perusahaan memberikan tambahan penerimaan terbesar dibandingkan pos lainnya.

Meski demikian, kontribusinya terhadap total pendapatan masih sekitar 9,7%, jauh di bawah pajak penghasilan individu, pajak produksi dan impor, serta kontribusi jaminan sosial.

Pendapatan Lainnya

Pemerintah AS turut memperoleh pendapatan dari aset yang dimilikinya. Pos ini mencakup penerimaan bunga, sewa, royalti, dan dividen.

Nilainya mencapai US$240,7 miliar pada kuartal II-2026, tumbuh 12% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Selain itu, pemerintah menerima transfer sebesar US$273,3 miliar dari pelaku usaha, masyarakat, dan pihak dari luar AS. Namun, jumlah tersebut turun 2,3% dibandingkan kuartal II-2025.

Sementara itu, perusahaan milik pemerintah mencatatkan defisit berjalan sebesar US$65 miliar. Pos negatif tersebut menjadi pengurang dalam penghitungan total pendapatan pemerintah AS.

Secara keseluruhan, penerimaan pemerintah AS berasal dari beberapa suumber pendapatan. Namun, hampir 85% di antaranya tetap didominasi pada pajak individu, pajak produksi dan impor, serta kontribusi jaminan sosial.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw)