Nasabah Makin Gemar Simpan Mata Uang Asing, Tabungan Valas Danamon Melonjak 52 Persen
Di sisi lain, pertumbuhan tersebut juga memperlihatkan perubahan strategi perbankan. Jika sebelumnya bank banyak mengandalkan persaingan suku bunga untuk menghimpun dana, kini inovasi layanan transaksi, kemudahan akses berbagai mata uang, hingga penawaran kurs yang kompetitif menjadi faktor yang semakin menentukan dalam menarik nasabah.
Ringkasan
Secara singkat, pertumbuhan tabungan valas Danamon didorong oleh beberapa faktor utama, yaitu:
Tabungan valas tumbuh 52% secara tahunan menjadi sekitar Rp8,5 triliun hingga Rp9 triliun.
Transaksi valuta asing meningkat sekitar 25%–35% dibandingkan tahun sebelumnya.
Kehadiran Global Currency Card pada produk Danamon LEBIH PRO yang mendukung transaksi hingga 12 mata uang asing.
Penawaran kurs valuta asing yang kompetitif.
Bertambahnya nasabah pada segmen emerging affluent dan nasabah prioritas yang memiliki kebutuhan transaksi internasional lebih tinggi.
Berdasarkan keterangan Bank Danamon, kombinasi inovasi layanan dan meningkatnya aktivitas transaksi nasabah menjadi pendorong utama pertumbuhan tersebut. Kondisi ini sekaligus memperlihatkan bahwa rekening valas kini tidak lagi identik dengan kalangan pebisnis besar, tetapi mulai digunakan oleh masyarakat dengan kebutuhan finansial yang semakin beragam.
Mengapa Tabungan Valas Danamon Tumbuh Hingga 52%?
Pertumbuhan tabungan valas Danamon menjadi salah satu capaian yang menonjol di tengah dinamika pasar keuangan global. Hingga saat ini, nilai simpanan valas yang berhasil dihimpun perseroan berada di kisaran Rp8,5 triliun hingga Rp9 triliun atau meningkat 52% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Consumer Funding & Wealth Business Head PT Bank Danamon Indonesia Tbk, Ivan Jaya, mengatakan peningkatan tersebut merupakan hasil dari strategi perusahaan yang tidak hanya berfokus pada penghimpunan dana, tetapi juga memperkuat aktivitas transaksi nasabah melalui berbagai inovasi layanan.
"Tabungan valas kami naik 52 persen secara tahunan. Sekarang nilainya berada pada kisaran Rp8,5 triliun sampai Rp9 triliun," ujar Ivan Jaya usai Media Luncheon HUT ke-70 Bank Danamon di Jakarta, Selasa.
Menurut Ivan, pertumbuhan tersebut tidak terjadi secara kebetulan. Danamon mengembangkan berbagai fitur yang mempermudah nasabah melakukan transaksi internasional sekaligus menyimpan dana dalam berbagai mata uang asing melalui satu rekening.
Salah satu inovasi yang menjadi andalan adalah Global Currency Card pada produk Danamon LEBIH PRO. Fitur ini memungkinkan nasabah bertransaksi menggunakan hingga 12 mata uang asing tanpa perlu membuka banyak rekening berbeda. Layanan tersebut dirancang untuk menjawab kebutuhan masyarakat yang semakin sering melakukan perjalanan ke luar negeri, melanjutkan pendidikan di negara lain, maupun menjalankan ibadah haji dan umrah.
Selain inovasi produk, Danamon juga mengoptimalkan strategi penawaran kurs valuta asing yang kompetitif. Pendekatan ini bertujuan mendorong nasabah lebih aktif bertransaksi sekaligus menempatkan dana mereka dalam rekening valas.
"Dengan bertransaksi, dana akan ditempatkan. Apabila ditempatkan dalam tabungan, tentunya akan membantu mengurangi cost of fund (biaya dana)," kata Ivan.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa strategi bank saat ini tidak lagi hanya mengejar besarnya simpanan, tetapi juga mendorong frekuensi transaksi. Semakin aktif nasabah menggunakan layanan valas, semakin besar pula peluang dana mengendap di rekening. Bagi perbankan, kondisi ini penting karena dapat membantu menekan biaya dana (cost of fund) sehingga ruang untuk menawarkan produk pembiayaan yang lebih kompetitif menjadi semakin besar.
Data internal Danamon juga menunjukkan bahwa jumlah transaksi valuta asing meningkat sekitar 25% hingga 35% dibandingkan tahun sebelumnya. Menariknya, pertumbuhan dana simpanan jauh lebih tinggi dibandingkan kenaikan volume transaksi. Hal ini mengindikasikan bahwa nasabah tidak hanya menukar mata uang asing untuk kebutuhan sesaat, tetapi juga mulai mempertahankan dana valas mereka dalam rekening untuk jangka waktu yang lebih lama.
Dari perspektif industri perbankan, kondisi tersebut menjadi sinyal bahwa fungsi rekening valas mengalami pergeseran. Jika sebelumnya rekening mata uang asing lebih banyak dimanfaatkan sebagai sarana transaksi sebelum bepergian ke luar negeri, kini produk tersebut mulai dipandang sebagai bagian dari strategi pengelolaan keuangan pribadi. Pergeseran inilah yang menjadi salah satu faktor penting di balik pertumbuhan tabungan valas Danamon yang jauh melampaui kenaikan aktivitas transaksinya.
Mengapa Masyarakat Kini Semakin Gemar Menyimpan Mata Uang Asing?
Meningkatnya tabungan valas tidak dapat dilepaskan dari perubahan kebutuhan masyarakat Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Mobilitas internasional yang kembali meningkat setelah pandemi, pertumbuhan ekonomi digital, serta semakin mudahnya akses terhadap layanan keuangan global membuat kebutuhan terhadap mata uang asing ikut berkembang.
Dulu, pembelian dolar Amerika Serikat atau mata uang asing lainnya umumnya dilakukan menjelang keberangkatan ke luar negeri. Kini, banyak nasabah memilih menabung secara bertahap agar tidak terlalu terpengaruh fluktuasi nilai tukar ketika kebutuhan tersebut tiba.
Sebagai ilustrasi, seseorang yang berencana melanjutkan pendidikan di Australia satu tahun mendatang dapat mulai menyimpan dolar Australia sedikit demi sedikit setiap bulan. Dengan cara tersebut, risiko membeli seluruh kebutuhan valuta asing ketika kurs sedang tinggi dapat dikurangi. Pendekatan serupa juga banyak diterapkan oleh masyarakat yang rutin bepergian ke Singapura, Jepang, atau negara lain untuk urusan pekerjaan maupun liburan.
Fenomena tersebut turut menjelaskan mengapa pertumbuhan tabungan valas lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan jumlah transaksi. Artinya, masyarakat tidak hanya membeli mata uang asing untuk langsung digunakan, tetapi juga mulai menjadikannya sebagai bagian dari perencanaan keuangan.
Perubahan perilaku ini juga didukung oleh berkembangnya ekosistem pembayaran lintas negara. Kehadiran layanan seperti QRIS Cross Border, penggunaan kartu multivaluta, hingga semakin banyaknya platform digital yang mendukung transaksi internasional membuat kebutuhan memiliki simpanan dalam mata uang asing menjadi semakin relevan bagi berbagai kalangan, tidak hanya pebisnis atau investor besar.
Baca Juga: Danamon Prediksi Suku Bunga BI Masih Bisa Naik Dua Kali, Ini Alasannya
Baca Juga: Era Agentic AI Dimulai, Transaksi Keuangan Tak Lagi Selalu Dijalankan Manusia
Bagaimana Strategi Danamon Mendorong Pertumbuhan Bisnis Valas?
Di tengah persaingan industri perbankan yang semakin ketat, Bank Danamon memilih pendekatan yang berbeda dalam mengembangkan bisnis valuta asing. Alih-alih hanya mengandalkan penawaran suku bunga simpanan yang tinggi, perseroan lebih fokus membangun ekosistem transaksi yang membuat nasabah semakin aktif menggunakan layanan valas dalam kehidupan sehari-hari.
Strategi tersebut diwujudkan melalui pengembangan produk Danamon LEBIH PRO yang dilengkapi Global Currency Card. Melalui satu rekening, nasabah dapat mengakses hingga 12 mata uang asing sehingga tidak perlu lagi membuka banyak rekening berbeda untuk setiap mata uang.
Fitur tersebut dirancang untuk memenuhi berbagai kebutuhan transaksi internasional, mulai dari perjalanan wisata, pendidikan di luar negeri, perjalanan bisnis, hingga ibadah haji dan umrah. Dengan semakin praktisnya transaksi lintas negara, nasabah diharapkan lebih nyaman menyimpan dana dalam berbagai mata uang asing.
Selain memperkuat produk, Danamon juga mengoptimalkan strategi penawaran kurs yang kompetitif. Menurut Ivan Jaya, perseroan sengaja menawarkan nilai tukar yang menarik agar nasabah terdorong melakukan transaksi melalui Danamon dibandingkan menggunakan layanan lain.
"Kami utamakan kurs valas yang menjadi salah satu yang terbaik di pasar, baik untuk Global Currency Card maupun kartu kredit JCB Precious," ujar Ivan.
Strategi tersebut bukan sekadar mengejar peningkatan volume transaksi. Semakin banyak transaksi yang dilakukan nasabah, semakin besar pula peluang dana tetap tersimpan di rekening. Hal ini membantu bank memperkuat penghimpunan dana murah (low-cost fund), yang pada akhirnya dapat menjaga efisiensi biaya dana (cost of fund).
Ivan menegaskan bahwa peningkatan aktivitas transaksi menjadi salah satu fokus utama perseroan dalam mengembangkan bisnis consumer banking.
"Strategi utama kami adalah terus meningkatkan transaksi. Dengan transaksi yang lebih tinggi, dana akan ditempatkan di bank dan membantu mereduksi cost of fund, sehingga kami bisa memberikan rate lending yang lebih kompetitif kepada masyarakat," katanya.
Pendekatan tersebut memperlihatkan perubahan strategi industri perbankan. Jika sebelumnya persaingan banyak terjadi pada besaran bunga simpanan, kini kualitas layanan digital, kemudahan transaksi, dan pengalaman nasabah menjadi faktor yang semakin menentukan.
Strategi itu juga tercermin dari kinerja bisnis Danamon secara keseluruhan. Hingga saat ini, kredit perseroan tumbuh hampir 10% secara tahunan menjadi sekitar Rp216 triliun, sedangkan dana pihak ketiga meningkat sekitar 16% menjadi Rp176 triliun.
Aturan Bank Indonesia Belum Banyak Mengubah Perilaku Nasabah
Di tengah meningkatnya transaksi valuta asing, Bank Indonesia (BI) menerapkan kebijakan baru terkait pembelian valuta asing tanpa dokumen pendukung (underlying). Batas transaksi yang sebelumnya mencapai US$25.000 kini diturunkan menjadi US$10.000.
Kebijakan tersebut bertujuan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sekaligus memperkuat pengelolaan risiko transaksi valuta asing di dalam negeri.
Meski demikian, Danamon menilai dampak kebijakan tersebut terhadap bisnis valas perseroan masih relatif terbatas. Pasalnya, mayoritas transaksi nasabah berada jauh di bawah batas yang ditetapkan regulator.
Ivan menjelaskan rata-rata transaksi pembelian valuta asing untuk kebutuhan perjalanan berada pada kisaran US$4.000 hingga US$5.000 per transaksi. Nilai tersebut setara sekitar Rp65 juta hingga Rp81 juta (dengan asumsi kurs Rp16.300 per dolar AS), sehingga masih berada di bawah ambang batas yang mewajibkan dokumen pendukung.
"Kalau kita mencermati ticket size untuk transaksi, kebutuhannya tidak terlalu besar, sekitar US$4.000 sampai US$5.000 sekali transaksi. Saya rasa itu masih dalam batas yang wajar," ujarnya.
Data tersebut memberikan gambaran menarik mengenai karakteristik nasabah. Sebagian besar transaksi ternyata berasal dari kebutuhan riil masyarakat, seperti perjalanan, pendidikan, atau keperluan keluarga di luar negeri, bukan untuk aktivitas spekulatif dalam jumlah besar.
Fee Based Income Ikut Tumbuh Seiring Meningkatnya Aktivitas Valas
Pertumbuhan transaksi valuta asing tidak hanya meningkatkan penghimpunan dana, tetapi juga memberikan kontribusi terhadap pendapatan nonbunga atau fee based income.
Danamon menargetkan pendapatan berbasis komisi dari bisnis valuta asing meningkat sekitar 35% sepanjang tahun ini. Target tersebut didorong oleh bertambahnya aktivitas transaksi nasabah, bukan semata-mata kenaikan volume simpanan.
"Kalau dari transaksi foreign exchange, kami mengharapkan fee based income kami naik 35 persenan," kata Ivan.
Selain bisnis valas, lini wealth management Danamon juga menunjukkan pertumbuhan positif. Pendapatan dari produk bancassurance meningkat hampir 30% secara tahunan, sementara penjualan reksa dana dan obligasi masih tumbuh dua digit meski pasar keuangan bergerak fluktuatif.
Diversifikasi sumber pendapatan tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan masyarakat terhadap layanan pengelolaan keuangan semakin berkembang. Nasabah tidak lagi hanya mencari tempat menyimpan uang, tetapi juga membutuhkan solusi transaksi, investasi, dan proteksi dalam satu ekosistem layanan.
Kenaikan Tabungan Valas Bukan Berarti Masyarakat Meninggalkan Rupiah
Lonjakan tabungan valas sebesar 52% mungkin sekilas memunculkan anggapan bahwa masyarakat mulai kehilangan kepercayaan terhadap rupiah. Namun, jika melihat data dan perilaku transaksi nasabah, kesimpulan tersebut belum tentu tepat.
Justru yang terlihat adalah perubahan cara masyarakat mengelola kebutuhan keuangan di era global. Mobilitas lintas negara semakin tinggi, belanja melalui platform internasional semakin mudah, dan kebutuhan pendidikan maupun pekerjaan di luar negeri semakin beragam. Dalam kondisi seperti itu, memiliki simpanan dalam mata uang asing menjadi bagian dari perencanaan keuangan, bukan semata-mata langkah untuk menghindari risiko nilai tukar rupiah.
Hal lain yang menarik adalah pertumbuhan dana simpanan mencapai 52%, sedangkan jumlah transaksi hanya meningkat sekitar 25%–35%. Perbedaan ini menunjukkan bahwa masyarakat tidak hanya membeli valuta asing untuk langsung dibelanjakan, tetapi juga memilih menyimpannya lebih lama. Dengan kata lain, rekening valas mulai berfungsi sebagai instrumen pengelolaan likuiditas bagi sebagian nasabah.
Bagi industri perbankan, tren ini menjadi sinyal bahwa persaingan ke depan akan semakin bergeser dari perang suku bunga menuju kualitas layanan transaksi global. Bank yang mampu menawarkan pengalaman transaksi lintas negara yang praktis, kurs kompetitif, serta integrasi layanan digital berpotensi memperoleh loyalitas nasabah yang lebih tinggi.
Simulasi: Mengapa Menabung Valas Bisa Lebih Efisien?
Bayangkan seorang karyawan di Jakarta yang setiap tahun berlibur ke Jepang dengan kebutuhan sekitar ¥500.000. Jika ia baru membeli yen beberapa hari sebelum keberangkatan, seluruh dana akan ditukar berdasarkan kurs saat itu. Ketika nilai tukar sedang tinggi, biaya perjalanan otomatis ikut meningkat.
Sebaliknya, apabila ia mulai membeli yen sedikit demi sedikit setiap bulan melalui rekening multivaluta, fluktuasi kurs dapat tersebar dalam jangka waktu yang lebih panjang. Strategi ini tidak menjamin biaya menjadi lebih murah, tetapi membantu mengurangi risiko membeli seluruh kebutuhan valuta asing pada saat kurs berada di level tertinggi.
Prinsip yang sama juga berlaku bagi orang tua yang mempersiapkan biaya pendidikan anak di luar negeri atau pelaku usaha yang rutin melakukan pembayaran kepada pemasok internasional. Rekening valas menjadi sarana untuk mengelola kebutuhan transaksi, bukan sekadar tempat menyimpan aset dalam mata uang asing.
Apa Dampaknya bagi Industri Perbankan Indonesia?
Meningkatnya minat masyarakat terhadap rekening valas diperkirakan akan mendorong inovasi layanan di sektor perbankan. Persaingan tidak lagi hanya berkisar pada produk simpanan konvensional, tetapi juga pada kemampuan bank menyediakan layanan transaksi internasional yang cepat, aman, dan efisien.
Di sisi lain, pemerintah bersama Bank Indonesia terus memperluas ekosistem pembayaran lintas negara melalui pengembangan QRIS Cross Border dan kerja sama sistem pembayaran dengan sejumlah negara mitra. Langkah tersebut diharapkan mempermudah masyarakat Indonesia bertransaksi di luar negeri sekaligus mendukung aktivitas perdagangan, pariwisata, dan ekonomi digital.
Perkembangan ini menunjukkan bahwa layanan keuangan Indonesia bergerak menuju sistem yang semakin terhubung dengan ekosistem global. Seiring meningkatnya mobilitas masyarakat, kebutuhan akan produk seperti rekening multivaluta, kartu pembayaran internasional, hingga transaksi lintas negara diperkirakan akan terus bertambah.
Penutup
Pertumbuhan tabungan valas Danamon sebesar 52% menjadi salah satu indikator bahwa kebutuhan masyarakat Indonesia terhadap layanan keuangan global terus berkembang. Angka tersebut tidak hanya mencerminkan meningkatnya minat menyimpan mata uang asing, tetapi juga menunjukkan perubahan perilaku nasabah yang kini lebih aktif merencanakan kebutuhan transaksi internasional.
Di sisi lain, strategi Danamon yang mengedepankan inovasi produk, kurs kompetitif, dan kemudahan transaksi memperlihatkan bagaimana industri perbankan mulai bergeser dari persaingan berbasis suku bunga menuju pengalaman layanan yang lebih menyeluruh.
Ke depan, tren ini berpotensi semakin menguat seiring berkembangnya pembayaran lintas negara, meningkatnya mobilitas masyarakat, dan semakin luasnya kebutuhan transaksi global. Bagi nasabah, rekening valas bukan lagi sekadar produk pelengkap, melainkan salah satu instrumen untuk mengelola kebutuhan keuangan secara lebih fleksibel di era ekonomi yang semakin terhubung.
Pantau terus perkembangan industri perbankan dan tren transaksi valuta asing untuk memahami bagaimana perubahan layanan keuangan dapat memengaruhi cara masyarakat mengelola aset dan melakukan transaksi di masa mendatang.
Baca Juga: Ini Tips Kelola Valas agar Transaksi Luar Negeri Lebih Efisien
Baca Juga: KPK Sita Mobil Sport hingga Valas dari Rumah Silmy Karim
FAQ
Apa itu tabungan valas?
Tabungan valas adalah rekening simpanan yang menggunakan mata uang asing, seperti dolar AS, euro, yen Jepang, dolar Singapura, atau mata uang lainnya. Produk ini umumnya digunakan untuk kebutuhan transaksi internasional, perjalanan ke luar negeri, pendidikan, investasi, maupun diversifikasi aset.
Mengapa tabungan valas Danamon tumbuh hingga 52%?
Pertumbuhan tersebut didorong oleh kombinasi inovasi layanan, penawaran kurs yang kompetitif, peningkatan jumlah nasabah pada segmen emerging affluent dan prioritas, serta meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap transaksi internasional.
Apa keuntungan memiliki rekening valas?
Rekening valas memudahkan nasabah menyimpan dana dalam mata uang asing sehingga tidak perlu selalu menukar uang ketika membutuhkan transaksi internasional. Produk ini juga membantu merencanakan pengeluaran luar negeri secara bertahap dan lebih fleksibel.
Apakah rekening valas cocok untuk semua orang?
Rekening valas lebih cocok bagi masyarakat yang memiliki kebutuhan transaksi dalam mata uang asing, seperti pelancong, mahasiswa yang akan kuliah di luar negeri, pelaku usaha ekspor-impor, pekerja internasional, maupun investor yang ingin melakukan diversifikasi aset.
Mengapa bank kini berlomba mengembangkan layanan valas?
Persaingan industri perbankan kini tidak lagi hanya mengandalkan suku bunga. Bank semakin fokus menyediakan layanan transaksi global, rekening multivaluta, kartu pembayaran internasional, dan kurs yang kompetitif untuk meningkatkan aktivitas transaksi serta menghimpun dana murah.
Apakah aturan baru Bank Indonesia memengaruhi transaksi valas?
Ya, tetapi dampaknya berbeda pada setiap nasabah. BI kini mewajibkan dokumen pendukung untuk pembelian valuta asing di atas US$10.000. Namun, menurut Danamon, mayoritas transaksi nasabah masih berada pada kisaran US$4.000–US$5.000 sehingga belum terdampak signifikan.
Bagaimana prospek bisnis valas di Indonesia?
Prospeknya dinilai masih positif seiring meningkatnya mobilitas masyarakat, berkembangnya pembayaran lintas negara seperti QRIS Cross Border, serta semakin tingginya kebutuhan transaksi internasional untuk perjalanan, pendidikan, perdagangan, dan investasi.