◐

Menkomdigi ajak orang tua dampingi anak bangun kebiasaan digital sehat - ANTARA News Ambon, Maluku

Jakarta (ANTARA) - Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid mengajak para orang tua dan tenaga pendidik membantu dan mendampingi anak membangun kebiasaan digital sehat serta mendorong anak-anak menyeimbangkan aktivitas di ruang digital dengan aktivitas fisik di luar ruangan.

Sebagaimana dikutip dalam keterangan pers pemerintah yang diterima di Jakarta, Sabtu, dia menyampaikan perlunya para orang tua dan pendidik mendorong anak-anak melakukan kegiatan seperti berolahraga dan bersepeda serta membangun pertemanan dan mengembangkan bakat melalui berbagai aktivitas di luar ruangan.

"Sekali lagi saya mengajak orang tua dan tenaga pendidik untuk ikut membangun kebiasaan digital yang sehat. Pendampingan perlu berjalan bersama upaya menciptakan kesempatan bagi anak untuk belajar, bermain, berolahraga, dan berinteraksi secara langsung," katanya.

Menkomdigi berdialog dengan para siswa dalam sosialisasi Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak atau PP TUNAS di Tabanan, Bali, Jumat (9/10).

Dalam acara tersebut, dia berbincang dengan siswa dari sejumlah sekolah dasar dan sekolah menengah pertama di Tabanan serta berinteraksi dengan anggota komunitas pesepeda yang hadir untuk menunjukkan manfaat melakukan aktivitas fisik bersama komunitas.

Meutya dalam acara itu mengemukakan bahwa ruang digital menghadirkan kesempatan untuk belajar sekaligus mendatangkan risiko. Oleh karena itu, penggunaannya mesti disesuaikan dengan usia dan kesiapan anak.

Pemerintah menerbitkan PP TUNAS untuk melindungi anak-anak dari risiko penggunaan platform digital yang tidak sesuai dengan usia dan tingkat kematangan anak.

Peraturan itu mencakup pembatasan akses anak berusia di bawah 16 tahun ke platform digital berisiko tinggi.

"Bukannya dilarang seumur hidup naik mobil, tapi tunggu mereka siap. Karena jalanan itu berbahaya untuk anak kecil. Demikian juga sosial media, game online yang kita anggap risikonya tinggi," kata Meutya.​​​​​​​

Dia mengingatkan para siswa agar berhati-hati saat berinteraksi dengan orang yang tidak dikenal di ruang digital serta mewaspadai kejahatan seperti penipuan, perundungan, dan pendekatan yang mengarah pada eksploitasi anak di dunia maya.

Menurut dia, anak-anak perlu diberi pemahaman mengenai risiko penggunaan platform digital sebelum melakukan aktivitas dan interaksi di ruang digital.

"Perlindungan anak tidak cukup hanya dengan menetapkan batas usia. Anak perlu memahami alasan di balik aturan tersebut agar dapat mengenali risiko dan mengambil keputusan yang lebih aman ketika menggunakan teknologi," katanya.

Meutya menjelaskan bahwa PP TUNAS disusun menggunakan pendekatan berbasis risiko.

Platform digital diberi tanggung jawab untuk memenuhi ketentuan pelindungan anak sesuai profil risiko layanan mereka.

Sementara itu, para orang tua dan guru diminta berperan dalam mendampingi, menjelaskan batasan penggunaan teknologi, dan membantu anak menghadapi persoalan yang muncul di ruang digital.

Pewarta: Livia Kristianti
Uploader : Moh Ponting

COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.