Mendag minta dunia usaha sampaikan masukan untuk perbaikan ekspor

Jakarta (ANTARA) - Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso membuka ruang bagi dunia usaha untuk menyampaikan berbagai masukan terkait upaya meningkatkan kinerja ekspor nasional.

Hal ini disampaikan Budi saat membuka Rapat Kerja Nasional (Rakernas) ke-1 Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) 2026 di Jakarta, Senin.

Ia mengatakan pemerintah membutuhkan masukan dari pelaku usaha untuk mengidentifikasi dan menyelesaikan berbagai pekerjaan rumah yang masih menghambat ekspor.

"Kami terbuka terhadap seluruh masukan untuk meningkatkan ekspor. Pemerintah dan dunia usaha harus terus bersinergi untuk menciptakan ekosistem ekspor yang semakin efisien dan berdaya saing. Mari kita selesaikan berbagai pekerjaan rumah ini bersama-sama," kata Budi dalam keterangan di Jakarta, Senin.

Menurutnya, peningkatan ekspor tidak dapat hanya mengandalkan kebijakan pemerintah, tetapi membutuhkan kolaborasi erat dengan dunia usaha sebagai pelaku utama perdagangan internasional.

Budi menilai forum Rakernas GPEI dapat menjadi sarana penting untuk menghimpun masukan dari pelaku usaha, khususnya mengenai berbagai kendala yang dihadapi eksportir di lapangan.

"Daya saing banyak faktornya, contohnya menyangkut deregulasi hingga logistik. Kita harus selesaikan ini bersama untuk menjadi lebih efisien dan berdaya saing," ujarnya.

Selain pembenahan regulasi dan logistik, Kementerian Perdagangan (Kemendag) terus memperkuat ekosistem ekspor melalui sejumlah program, termasuk kemudahan pemanfaatan perjanjian perdagangan serta fasilitasi bagi pelaku usaha.

Kemendag juga telah mengembangkan otomatisasi Surat Keterangan Asal (SKA) untuk memudahkan eksportir memanfaatkan tarif preferensi dalam perjanjian perdagangan.

Budi menegaskan pelaku usaha tidak seharusnya kehilangan manfaat dari perjanjian perdagangan hanya karena keterbatasan informasi maupun proses administrasi.

Penguatan ekosistem ekspor juga dilakukan melalui program Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah Berani Inovasi, Siap Adaptasi Ekspor (UMKM BISA Ekspor). Pada Januari-Juli 2026, program tersebut telah mencatat total pesanan pembelian dan potensi transaksi sekitar 333,68 juta dolar AS.

Sekitar 60-70 persen UMKM yang difasilitasi melalui program tersebut merupakan pelaku usaha yang belum pernah melakukan ekspor.

Budi berharap sinergi pemerintah dan dunia usaha melalui berbagai forum serta program fasilitasi tersebut dapat memperluas basis eksportir sekaligus meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar global.

Baca juga: Mendag: Ekspor naik, defisit Neraca Perdagangan RI menyempit pada Juni

Baca juga: Kemendag kantongi potensi ekspor Rp1,87 miliar ke Chile

Baca juga: Kemendag andalkan tiga strategi dongkrak ekspor nasional

Pewarta: Maria Cicilia Galuh Prayudhia
Editor: Faisal Yunianto
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.