BNPB mendirikan tenda di 122 puskesmas untuk menangani korban gempa NTT
BNPB mendirikan tenda di 122 puskesmas untuk menangani korban gempa NTT
Senin, 24 Agustus 2026 19:07 WIB
Petugas memeriksa tekanan darah seorang pengungsi terdampak gempa di posko kesehatan pusat pengungsian Lapangan Berdikari, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur, Minggu (23/8/2026). Berdasarkan data BNPB per Minggu 23 Agustus 2026, infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) menjadi penyakit yang paling banyak diderita warga di pengungsian akibat gempa bumi di NTT. ANTARA FOTO/Johanes Viandinando/app/kye
Jakarta (ANTARA) - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengerahkan strategi medis darurat berskala besar dengan mendirikan tenda di 122 Pusat Kesehatan Masyarakat (puskesmas) untuk menangani ribuan korban luka akibat gempa di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT).
"Semua Puskesmas yang ada di Flores, ini ada 122 puskesmas, ini pun kita dukung dengan tenda-tenda perawatan sementara di mana masyarakat atau pasien yang memerlukan penanganan kesehatan, ini bisa juga dirawat di tenda-tenda yang dibangun di depan puskesmas," kata Kepala BNPB Suharyanto dalam konferensi pers yang digelar secara daring di Jakarta, Senin.
Suharyanto mengungkapkan, berdasarkan pemetaan yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan, gempa tersebut berdampak pada 19 puskesmas, sementara 101 unit masih beroperasi penuh dan 49 lainnya beroperasi secara terbatas.
Untuk menambal kekurangan kapasitas medis di fasilitas darat, pemerintah juga melibatkan armada bantuan kesehatan terapung dari unsur Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Laut.
"Kemudian untuk bantuan fasilitas kesehatan, dari TNI/Polri, ini juga membantu dari TNI Angkatan Laut (yang) mengirimkan dua kapal laut yang berfungsi sebagai fasilitas kesehatan. Yang pertama adalah KRI dr. Soeharso, ini merupakan rumah sakit Angkatan Laut yang terapung dari Surabaya, ini sudah melakukan kegiatan di Pelabuhan Reok. Kemudian satu lagi adalah Rumah Sakit Kapal Airlangga, ini juga sudah melakukan kegiatan di Manggarai Timur," ujar dia.
Selain intervensi dari militer, lanjut Suharyanto, Kementerian Kesehatan juga telah membangun dan mengoperasikan dua unit rumah sakit lapangan bagi pasien kritis di wilayah Ruteng (Manggarai) dan Kabupaten Nagekeo.
Perhatian serius juga diberikan kepada Pulau Palue, sebuah wilayah kepulauan di Kabupaten Sikka yang sempat terisolir total akibat terputusnya akses transportasi laut di hari-hari awal terjadinya gempa.
"Di awal bencana, satu hari pertama, hari kedua, hari ketiga, yang di Palue ini belum tersentuh, tetapi sekarang sudah diberikan bantuan. Saya, Kepala BNPB juga sudah menginjak di sana, sudah alat berat dikirimkan ke sana untuk membuka akses," ucap Suharyanto mengungkapkan.
Saat ini, evakuasi pasien kritis dari Pulau Palue menuju pulau utama telah dilaksanakan dengan lancar didukung pasokan logistik dan obat-obatan yang stabil. Kendala mendesak yang kini difokuskan oleh tim di lapangan adalah pemulihan sarana penampungan air
"Ternyata masyarakat atau saudara-saudara kita di Pulau Palue itu mengandalkan air hujan untuk kehidupan sehari-hari. Kebetulan sarana untuk menampung air hujannya rusak, ini juga sedang dalam perbaikan," tutur Suharyanto.
Pewarta : Sean Filo Muhamad
Editor:
Anwar Maga
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.