Masih Erupsi, Badan Geologi Ungkap Potensi Bahaya Gunung Anak Krakatau

Bandung, CNN Indonesia --

Gunung Anak Krakatau mengalami peningkatan aktivitas vulkanik hingga memicu erupsi berulang sejak Jumat (4/9). Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) lantas mengungkap sejumlah potensi bahaya dari eskalasi tersebut, mulai dari material pijar hingga abu vulkanik.

Badan Geologi mengonfirmasi rentetan letusan Anak Krakatau ini dipicu oleh aktivitas magmatik yang masih dinamis di dalam tubuh gunung.

Kepala Badan Geologi, Lana Saria, menjelaskan bahwa peningkatan aktivitas Gunung Anak Krakatau ditandai oleh frekuensi erupsi yang terjadi secara terus-menerus dalam beberapa waktu terakhir.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Aktivitas Gunung Krakatau saat ini memang meningkat dibandingkan periode sebelumnya, ditandai oleh erupsi yang berulang dan berlangsung secara terus-menerus. Kondisi tersebut menunjukkan adanya suplai magma dan gas dalam tubuh gunung yang masih berlangsung," ujar Lana Saria, Minggu (6/9).

Meski erupsi terjadi secara intens, Lana mengimbau masyarakat untuk tidak panik secara berlebihan. Ia menegaskan tingginya frekuensi letusan tidak serta-merta menjadi indikator akan terjadinya erupsi yang jauh lebih besar.

"Erupsi yang sering tidak otomatis berarti akan terjadi erupsi yang lebih besar. Badan Geologi tentunya akan terus mengevaluasi perkembangan aktivitas berdasarkan seluruh data pemantauan, bukan hanya berdasarkan jumlah atau tinggi kolom erupsi," tambahnya.

Terkait potensi ancaman, Lana membeberkan sejumlah bahaya utama yang perlu diwaspadai di sekitar kawasan kawah dan tubuh gunung. Bahaya tersebut mencakup lontaran material pijar, batuan vulkanik, hingga paparan gas beracun.

"Bahaya yang paling perlu diwaspadai saat ini adalah lontaran material pijar, batuan vulkanik, abu vulkanik, gas vulkanik berkonsentrasi tinggi, serta kemungkinan aliran material erupsi di sekitar kawah dan tubuh Gunung Anak Krakatau," tegasnya.

"Lontaran material ini dapat merusak peralatan yang berada dekat dengan pusat aktivitas dan membahayakan siapa pun yang masuk zona terlarang," imbuhnya.

Lana juga menyebut aktivitas vulkanik Anak Krakatau masih berpotensi fluktuatif atau bahkan meningkat dalam beberapa waktu ke depan. Hal ini mengacu pada rekaman data kegempaan yang ditangkap oleh instrumen pemantau.

"Aktivitas berpotensi berfluktuasi dan meningkat karena gempa frekuensi rendah, hibrid, harmonik, serta tremor masih terekam. Jenis kegempaan tersebut menunjukkan pergerakan atau pelepasan fluida vulkanik dalam sistem gunung api," jelasnya.

Kendati demikian, pihak Badan Geologi menegaskan prediksi pasti mengenai waktu dan besaran erupsi berikutnya tidak dapat ditentukan secara pasti. Oleh karena itu, langkah pemantauan secara berkelanjutan terus dilakukan untuk mengantisipasi setiap perubahan parameter vulkanik secara real-time.

Masyarakat, wisatawan, maupun nelayan diimbau untuk mematuhi rekomendasi zona bahaya yang telah ditetapkan dan tidak mendekati kawasan kawah Gunung Anak Krakatau dalam radius aman.

(csr/lom)