Mapala UI jelajah kawasan timur: Kembangkan wisata dan ekonomi desa

Jakarta (ANTARA) - Mahasiswa Pencinta Alam Universitas Indonesia (Mapala UI) menjelajah kawasan timur Indonesia guna membangun ekonomi desa dan juga mengembangkan wisata dirgantara.

Kegiatan tersebut terbagi dalam dua program, yakni Ekspedisi Paralayang Fly The Spice Islands di Maluku Utara yang diikuti oleh 10 orang (tiga pilot dan tujuh anggota pendukung) dan pengabdian masyarakat melalui program Universitas Indonesia Membangun Nusa (UIMN) di Maluku Tengah yang melibatkan 11 orang.

"Kedua program ini menjadi representasi semangat bertualang anak muda sekaligus wujud kontribusi mahasiswa untuk masyarakat," kata Ketua Mapala UI Salman Muzhaffar dalam keterangan diterima di Jakarta, Kamis.

Ekspedisi bertajuk Fly The Spice Islands tersebut mengangkat misi menyusuri jejak Jalur Rempah di Maluku Utara, kawasan yang secara historis menjadi pusat perdagangan rempah dunia.

Rute penerbangan melintasi tiga gunung strategis, yaitu Gunung Gamalama, Gamkonora, dan Woka, yang membentang dari Pulau Ternate, Halmahera hingga Kepulauan Tidore.

Ekspedisi itu turut didukung oleh Utusan Khusus Presiden (UKP) Bidang Pariwisata.

Fly The Spice Islands bertujuan untuk memberikan rekomendasi kebijakan di bidang pariwisata dirgantara yang tertuju pada pihak berwenang sekaligus film dokumenter sebagai upaya pengembangan pariwisata minat khusus di kawasan tersebut.

Melalui ekspedisi itu, ketiga gunung di daerah Maluku Utara dapat semakin tersorot dan membuka jalan bagi lebih banyak penggiat paralayang untuk terbang dari titik-titik tersebut di kemudian hari.

Selain menjelajah angkasa Maluku Utara, Mapala UI turut menerapkan salah satu "Tri Dharma Perguruan Tinggi", yakni pengabdian masyarakat, melalui program UIMN 2026 di Desa Wailulu, Kecamatan Seram Utara Barat, Kabupaten Maluku Tengah.

"Sebagai mahasiswa selain punya kewajiban di dalam kelas kita juga punya kewajiban di luar kelas, salah satunya untuk berdampak pada masyarakat Indonesia. Maka dari itu, UIMN hadir sebagai wadah pengabdian masyarakat dengan tujuan menambah nilai komoditas lokal untuk meningkatkan pendapatan ekonomi lokal," ujar project officer UIMN 2026 Nivand.

Desa Wailulu sebagai desa binaan menyimpan potensi kelapa yang besar, dengan hasil panen raya yang bisa mencapai sekitar 30 ton. Namun, potensi sebesar itu belum diimbangi dengan harga jual yang sepadan.

Selama ini, kelapa hasil panen warga hanya diolah menjadi kopra (daging kelapa yang dikeringkan), dengan harga jual yang cukup rendah dan cenderung fluktuatif.

Harga jual kopra sangat bergantung pada tengkulak yang menjadi perantara utama penjualan kopra. Sementara itu, harga yang ditawarkan tengkulak tidak selalu konsisten sehingga pendapatan masyarakat Desa Wailulu yang berprofesi sebagai petani kelapa pun tidak menentu dari musim ke musim.

Melihat kesenjangan itu, UIMN 2026 mengenalkan variasi komoditas kelapa kepada masyarakat. Pengolahan kelapa mentah menjadi tepung kelapa memiliki nilai jual sekaligus peluang pasar yang jauh lebih luas dibanding kopra.

Rangkaian programnya dirancang secara bertahap, mulai dari sosialisasi inovasi produk, praktik pengolahan kelapa menjadi tepung kelapa, demonstrasi olahan tepung kelapa menjadi produk pangan siap konsumsi hingga pembentukan komunitas kerja dan penyerahan aset produksi kepada warga agar keberlanjutan usaha dapat terus berjalan setelah program selesai.

Program itu menyasar tiga kelompok sekaligus, yakni petani kelapa sebagai penyedia bahan baku, komunitas masyarakat yang terlibat dalam proses produksi serta pelaku UMKM lokal yang nantinya memasarkan produk olahan tersebut.

Tujuannya bukan sekadar transfer keterampilan, melainkan membangun fondasi ekonomi desa yang stabil dan berkelanjutan.

Baca juga: Anggota Mapala UI akan bersepeda 1.634 km dari Depok ke Lombok

Baca juga: Menyusuri Gunung Patah yang kaya akan alam dan budaya

Pewarta: Benardy Ferdiansyah
Editor: Tasrief Tarmizi
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.